Faktor-Faktor Pembentuk Tanah

Faktor pembentukan tanah merupakan suatu keadaan atau kakas lingkungan yang berdaya menggerakkan proses pembentukan tanah atau memungkinkan proses pembentukan tanah berjalan. Berjalannya proses pembentukan tanah sangat idnetik berbagai macam reaksi. Reaksi yang dimaksud adlaah reaksi yang mampu menghasilkan sifat tanah seperti reaksi biologi, fisika, dan kimia. Sifat tanah yang dihasilkan dari rekasi tersebut akan membuat tanah menjalankan berbagai macam fungs tertentu. Umumnya, proses pembentukah tanah berlangsung melalui 3 tahpa yang berkesinambungan. Pertama, proses mengubah bahan mentah menjadi bahan induk tanah. Kedua, proses berubahnya bahan induk tanah menjadi bahan penyusun tanah. Ketiga, proses tertatanya bahan penysu tanah menjadi tubuh tanah (Notohadiprawiro, 1998)

Jamulya (1996) menjelaskan bahwa faktor-faktor pembentuk tanah pada umumnya memiliki kesamaan pada faktor pembentuk bentuk lahan. Faktor pembentukan tersebut meliputi pola distribusi tanah di seluruh permukaan bumi dimana konsepnya mengikuti konsep geomorfologi. Geomorfologi adalah cabang ilmu pengetahuan yang fokusnya bagaimana bentuk alam serta proses-proses pembentukannya.

Faktor-faktor pembentuk tanah terdiri dari 5 bagian yaitu bahan induk tanah, relief (topografi), iklim, organisme, dan waktu.

Pembentukan tanah pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Notohadiprawiro (1998) mengemukakan bahwa faktor-faktor pembentuk tanah meliputi 5 bagian yaitu bahan induk tanah, relief (topografi), iklim, organisme, dan waktu. Ke lima faktor di atas tidak berproses secara tunggal. Artinya, untuk menghasilkan tanah maka faktor tersebut tidak bisa bekerja secara sendiri-sendiri melainkan saling membantu satu sama lain. Meskipun demikian, terdapat faktor yang lebih dominan pengaruhnya daripada faktor yang lain dalam pembentukan tanah yang disebabkan oleh keadaan tertentu yang mengakibatkan sifat-sifat tanah yang terbentuk menjadi heterogen (Priyono & Priyana, 2016). Penjelasan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut sebagai berikut.

1. Bahan Induk Tanah

Bahan induk tanah didefinisikan sebgai suatu bahan yang berhamburan dan merupakan bahan mineral yang mengalami kehancuran akibat reaksi kimia dan di bagian atasnya akan membentuk tanah. Sumber bahan induk tanah pada umumnya berasal dari batuan induk yang telah mengalami proses pelapukan dalam jangka waktu yang sangat lama atau longgokan biomassa mati sebagai bahan mentah. Bahan induk yang sumbernya dari batuan akan menghasilkan tanah mineral, sedangkan baha induk yang berasal dari longgokan biomassa mati akan menghasilkan tanah organik. Bahan penyusun tanah organik terdiri dari bahan organik dengan campuran bahan mineral berupa endapan aluvial.

Sifat bahan mentah dan bahan induk berpengaruh secara signifikan dalam proses kelajuan serta jalannya pembentukan tanah, sejauh apa pembentukan tanah dapat maju, dan seberapa luas faktor-faktor lain dapat mempengaruhinya. Beberapa sifat yang dimaksud berupa sifat fisika, sifat kimia, serta sifat permukaan. Dalam hal bahan mentah dan bahan induk mineral sifat-sifat yang berpengaruh termasuk pula susunan mineral, dan dalam hal bahan mentah dan bahan induk organik sifat-sifat yang berpengaruh termasuk pula susunan jaringan. Sifat fisik berkenaan dengan struktur dan granularitas. Sifat permukaan berkenaan dengan kemudahan kelangsungan reaksi antarmuka (interface).

2. Relief (Topografi)

Relief atau topografi merupakan bentuk prmukaan bumi yang menampilkan penampakan lahan berupa tinggi tempat, kelerengan, dan kiblat lereng. Relief adalah salah satu faktor penentu yang mampu mengendalikan pengaruh faktor iklim dan organisme hidup, dimana pada tahap selanjutnya akan mengendalikan laju dan arah proses pembentukan tanah. Apabila dalam suatu kawasan dengan curah hujan yang sama, relief dapat membentuk keairan tapak yang berbeda di setiap tempat. Tapak yang kawasannya lebih tinggi dan berlereng akan bersifat kering. Hal ini disebabkan oleh letak air tanah yang jauh di bawah tanah dan lebih banyak menjadi aliran limpasan. Sedangkan pada tapak yang terletak pada derah yang lebih rendah, cekung, atau pun datar akan bersifat basah karena disebabkan oleh air tanah yang dangkal

Tanah yag terbentuk di lahan atas memliki keadaan yang lebih baik. Biasanya tanah ini memiliki warna cerah kemerahan dan sifatnya sangat beragam. Tanah yang terbentuk di lahan bawahan memiliki keadaan yang lebih buruk. Biasanya tanah ini memiliki warna kelam di bagian atas dan bercak-bercak karat di bagian bawah, dan keragaman sifat tanah lebih terbatas. Tanah berlereng-lereng lebih rentan erosi dan longsor. Sedangkan tanah dengan keadaan datar atau cekung sebaliknya menjadi tempat penampungan tanah yang mengalami erosi dan tanah sekitar yang posisinya terletak lebih tinggi.

Kunjungi juga : Faktor Penyebab Terjadinya Erosi Tanah

Kaitan relief dengan erosi angin berbalikan dengan kaitannya dengan erosi air. Tanah datar yang luas dan terbuka tanpa halangan bukit-bukit sangat rentan terhadap erosi angin sehingga energi sinar matahari yang terpancar beragam berdasarkan landaian dan kiblat lereng, yang akhirnya mempengaruhi suhu. Jadi, pengaruh iklim makro dan vegetasi terhadap pembentukan tanah berubah karena reliefn. Pengaruh kiblat lereng atas suhu di jalur sepanjang katulistiwa dapat diabaikan, sedangkan lereng yang berkiblat selatan lebih panas dan lebih kering daripada yang berkiblat utara. Lereng berkiblat barat pada umumnya memiliki kelembapan yang lebih besar daripada yang berkiblat timur. Oleh karena itu proses pembentukan tanah sering intensif di lereng-lereng berkiblat barat laut.

3. Iklim

Iklim memiiki pengaruh secara langsung terhadap perubahan suhu tanah dan keairan tanah. Selain itu, iklim juga memiliki pengaruh secara tidak langsung melalui vegetasi. Hujan dan angin mampu menimbulkan degradasi tanah. Cahaya sinar matahari mampu menentukan suhu badan pembentuk tanah dan tanah sehingga laju pelapukan bahan mineral dan dekomposisi serta humifikasi bahan organik dapat ditentukan. Semua proses biologi, fisik, dan kimia sangat bergantung pada suhu.

Air adalah sebagai pelaku proses utama di alam, menjalankan proses transformasi dan translokasi dalam tubuh tanah, pengayaan tubuh tanah dengan sedimentasi, dan penyingkiran bahan dari tubuh tanah dengan erosi, perkolasi dan pelindian. Curah hujan memiliki kedudukan sebagai sumber air utama yang memasok air ke dalam tanah. Selanjutnya, laju evapotranspiransi (ET) dari tanah ditentukan oleh huhu dan kelembaban udara. Maka imbangan antara curah hujan dan evapotranspirasi menentukan neraca keairan tanah, dan ini pada gilirannya mengendalikan semua proses yang melibatkan air. Neraca keairan tanah erat kaitannya dengan musim.

Musim yang memiliki curah hujan lebih rendah daripada ET, akan membuat gerakan air dalam tubuh tanah berbalik ke atas, yang mengimbas translokasi zat ke bagian atas tubuh tanah dan pengayaan tubuh tanah dengan zat dari luar tubuh tanah. Iklim juga befungsi sebagai penggerak proses berulang pembasahan dan pembekuan. Pengaruh tidak langsung yang terjadi melalui vegetasi menentukan seberapa besar pengaruh yang dapat dijalankan oleh faktor organisme.

4. Organisme

Organisme adalah salah satu fakto pembentuh tanah. Faktor ini umumnya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu organisme yang hidup di dalam tanah dan organisme yang hidup di atas tanah. Organisme yang hidup di dalam tanah melingkupi bakteria, jamur, akar tumbuhan, cacing tanah, rayap, semut, dsb. Keberadaan organisme tersebut, tanah membentuk suatu ekosistem yang berkemampuan dalam mengaduk tanah, mempercepat pelapukan batuan, terjadinya perombakan bahan organik, mencampur bahan organik dengan bahan mineral, memperlancar gerakan air dan udara dengan membuat lorong-lorong dalam tubuh tanah dan terjadinya proses translokasi bahan tanah dari satu bagian ke bagian lain tubuh tanah.

Vegetasi memiliki kedudukan sebagai sumber utama bahan organik tanah. Salah satu bahan onduk organik yang sumbernya dari vegetasi adalah gambut. Namun, berlainan dengan batuan induk dan iklim yang menjadi sebagai salah satu faktor mandiri, vegetasi bergantung pada hasil interaksi antara batuan, iklim dan tanah. Pengaruh vegetasi dalam proses pembentukan tanah adalah sebagai berikut.

  • Menyediakan bahan induk organik.
  • Memberi tamabahan bahan organik terhadap tanah mineral.
  • Pembentukan humus ditentukan oleh vegetasi.
  • Vegetasi mampu menciptakan iklim meso dan mikro yang lebih lunak dengan mengurangi rentangan suhu dan kelembaban ekstrem.
  • Vegetasi melindungi permukaan tanah terhadap erosi, pengelupasan, pemampatan dan penggerakan.
  • Lancarnya infiltrasi dan perkolasi air dipengaruhi oleh vegetasi.
  • Memelihara ekosistem tanah.
  • Vegetasi melawan pelindian hara dengan cara menyerap hara yang terdapat di bagian bawah tubuh tanah dengan sistem perakarannya dan mengangkat hara ke permukaan tanah dalam bentuk serasah.

5. Waktu

Waktu merupakan salah satu faktor pembentuk tanah meskipun tidak berpengaruh secara fisiknya. Namun, keepat faktor pembentuk tanah sebelumnya terjadi secara bertahap yang artinya proses yang terjadi untuk pembentukan tanah memerlukan waktu yang cukup panjang. Hal ini menjelaskan bahwa proses pembentukan tanah dengan 4 faktor sebelumnya tidak selesai secara seketika. Proses pembentukan tanah dan faktor-faktor tersebut memiliki tahapan evolusi. Tahapan evolosi pembentukan tanah tidak bergantung secara penuh pada lama kerjanya faktor yang disebutkan sebelumnya, melainkan interkasi dan intensitas dari beberapa faktor yang bisa saja berubah seiring brjalannya waktu.

Kunjungi juga : Sifat Fisika dan Kimia Tanah

Proses pembentukan tanah seiring waktu berbeda-beda. Terdapat tanah yang proses terbentuknya belum lama tetapi sudah menampakkan perkembangan profil yang lama. Sebaliknya terdapat tanah yang prosesnya terjadinya dalam waktu yang lama tetapi menampakkan perkembangan profil yang masih terbatas. Tanah yang berhenti berubah sepanjang perjalanan waktu menandakan bahwa tanah tersebut telah mencapai keseimbangan dengan lingkungannya dan disebut telah mencapai klimaks. Kalau keadaan lingkungan berubah, proses-proses tanah akan bekerja kembali menuju ke pencapaian keseimbangan baru.

Pustaka:

Jamulya. 1996. Kajian Tingkat Pelapukan Batuan Menurut Toposekuen di DAS Tangsi Kabupaten Magelang. Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian UGM. Yogyakarta

Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

Priyono, K. D. & Priyana, Y. 2016. Kajian Tingkat Perkembangan Tanah pada Kejadian Bencana Longsor Lahan di Pegunungan Manoreh Kabupaten Kulonprogo Daerah Istimewa Yogyakarta. The 3rd Universty Research Colloquium. Hal 489-495