Parameter Analisis Vegetasi

Metode analisis vegetasi merupakan suatu cara yang digunakan atau diperlukan untuk mengetahui sebaran komposisi atau struktur beragam jenis tumbuhan yang terdapat di dalam suatu kawasan dan habitat yang sama. Susanto (2012) mengartikan analisis vegetasi sebagai salah satu cara untuk mengetahui susunan ataupun komposisi serta bentuk dan struktur vegetasi.

Analisis vegetasi pada umumnya dilakukan dengan menggunakan berbagai metode. Salah satu metode yang sering digunakan adalah metode plot atau biasanya dikenal dengan metode berpetak. Pengukuran peubah dasar pada petak contoh dilakukan dengan cara penaksiran berdasarkan petak contoh. Apabila habitatnya berupa suatu daerah yang luas maka luasan yang diambil ditentukan pada daerah tersebut. Umumnya, luasan itu disebut sebagai area minimal dengan menghitung seluruh jenis tumbuhan yang terdapat di dalamnya sebagai objek pengamatan.

Parameter analisis vegetasi terdiri dari kerapatan, frekuensi, dominansi, indeks nilai penting (INP), dan indeks keanekaragaman (Hidayat, 2017).

Pengukuran yang dilakukan pada petak contoh tersebut digunakan sebagai penaksir dari keadaan semua lokasi penelitian yang dilakukan. Ketepatan analisis berdasarkan petak contoh ini adalah didasarkan atas 3 hal pokok yaitu:

  • Populasi dalam tiap petak contoh yang diambil harus dapat dihitung dengan tepat.
  • Luas atau satuan tiap petak contoh harus jelas dan pasti.
  • Petak contoh yang diambil harus dapat mewakili seluruh area atau daerah yang diamati.

Analisis vegetasi dapat dilakukan dengan berbagai tingkat baik itu tumbuhan bawah maupun tingkat semai, pancang, tiang, dan pohon. Penggunaan metode plot pada kegiatan analisis vegetasi sangat mudah dilakukan dan waktu yang digunakan lebih cepat terutama dalam mengetahui komposisi, dominansi pohon da penaksiran volumenya (Harjosuwarno, 1990).

Kunjungi juga : Metode dan Teknik Analisis Vegetasi

Metode ini menggunakan sejumlah kuadrat dengan bentuk tertentu, dapat berupa lingkaran, bujur sangkar, atau persegi panjang, dibuat dalam wilayah hutan. Penempatan kuadrat bisa secara acak atau sistematik. Masing-masing bentuk dan ukuran kuadrat memiliki kelebihan dan konsekuensi yang berbeda, baik dari segi prakteknya (kepraktisan) maupun dalam hal analisis dan penafsiran hasilnya. Hasil analisis vegetasi dianggap mewakili jika spesies penyusun dalam sampel mendekati spesies penyusun yang sesungguhnya. Adapun parameter yang diukur di lapangan secara langsung dalam kegiatan analisis vegetasi adalah adalah sebagai berikut (Indriyanto, 2010):

  • Nama jenis (lokal atau botanis)
  • Jumlah individu
  • Penutupan tajuk
  • Diameter batang
  • Tinggi pohon

Parameter yang digunakan untuk melakukan analisis vegetasi terdiri dari kerapatan, frekuensi, dominansi, indeks nilai penting (INP), dan indeks keanekaragaman (Hidayat, 2017). Parameter tersebut dijelaskan sebagai berikut

1. Kerapatan

Kerapatan merupakan jumlah individu dalam satu spesies yang terdapat di dalam kawasan petak contoh. Biasanya, kerapatan juga dikenal dengan density. Indriyanto (2010) dalam bukunya mendefinisikan bahwa density adalah banyaknya jumlah individu dari suatu jenis pohon dan tumbuhan lain yang besarnya dapat ditaksir atau dihitung. Secara kualitatif, jumlah individu yang terdapat dalam suatu petak contoh dapat dibedakan menjadi jarang terdapat, kadang-kadang terdapat, sering terdapat, dan banyak sekali terdapat. Kerapatan suatu vegetasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut di bawah ini (Hidayat, 2017).

Kerapatan Mutlak (KM) = (Jumlah Suatu Spesies)/(Luas Petak Contoh)

Kerapatan Relatif (KR) = ((Kerapatan Mutlak Suatu Spesies)/(Jumlah Kerapatan Seluruh Spesies)) x 100%

2. Frekuensi

Frekuensi merupakan jumlah kemunculan dari setiap spesies yang ditemukan dari seluruh petak contoh. Dalam pengertian lain frekuensi diartikan sebagai ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran bagaimana pola penyebaran suatu jenis, apakah menyebar ke seluruh kawasan atau kelompok. Hal Ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan (Wolf et al, 1990). Frekuensi suatu vegetasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut di bawah ini (Hidayat, 2017).

Frekuensi Mutlak (KM) = (Jumlah Petak Contoh yang Terdapat Spesies)/(Jumlah banyaknya Petak Contoh)

Kerapatan Relatif (KR) = ((Frekuensi Mutlak Suatu Spesies)/(Jumlah Frekuensi Seluruh Spesies)) x 100%

3. Dominansi

Dominansi dapat diartikan sebagai luas bidang dasar pentupan tajuk setiap spesies yang terdapat di dalam petak contoh. Dominansi suatu vegetasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut di bawah ini (Hidayat, 2017).

Dominansi Mutlak (KM) = (Jumlah Bidang Dasar Spesies)/(Jumlah Total Luas Petak Contoh)

Kerapatan Relatif (KR) = ((Dominansi Mutlak Suatu Spesies)/(Jumlah Dominansi Seluruh Spesies)) x 100%

Kunjungi juga : Sruktur Komposisi Vegetasi

4. Indeks Nilai Penting (INP)

Indeks nilai penting merupakan suatu gambaran yang menunjukkan spesies yang mendominasi di dalam kawasan petak contoh. INP yang juga dikenal dengan Importance Value Indeks diperoleh dari menjumlahkan nilai kerapatan relatif, dominasi relatif dan frekuensi relatif, sehingga jumlah maksimalnya 300% (Wolf et al, 1990). INP suatu vegetasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut di bawah ini (Fachrul, 2007).

INP = KR + FR + DR

5. Ideks Keanekaragaman

Indeks Keanekaragaman merupakan langkah lanjutan setelah mengetahui INP. Keanekaragaman suatu komunitas tumbuhan yang terdapat di dalam petak contoh biasanya ditentukan dengan menggunakan teori informasi Shannon-Wienner (Ĥ). Tujuannya adalah untuk melihat dan mengukur apakah suatu ekosistem teratur atau tidak teratur. Tinggi rendahnya indeks keanekaragaman suatu komunitas dipengaruhi oleh jumlah spesies dan jumlah individu yang terdapat di dalam petak contoh. Indeks keanekaragaman suatu vegetasi dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut di bawah ini (Moesa, 2001).

Ĥ = -Σ pi In pi

Hasil yang didiperoleh kemudian dapat dikategorikan kedalam 3 kategori, yaitu: 

  • Jika Ĥ < 1 maka indeks keanekaragaman dikategorikan Rendah.
  • Jika Ĥ 1 < Ĥ < 3 maka indeks keanekaragaman dikategorikan Sedang. 
  • Jika hasil Ĥ > 3 maka indeks keanekaragaman dikategorikan Tinggi
Pustaka:

Fachrul, M., 2007. Metode Sampling Bioekologi. Bumi Aksara. Indonesia.

Hidayat, M. 2017. Analisis Vegetasi dan Keanekaragaman Tumbuhan di Kawasan Manifestasi Geotermal Ie Suum Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Biotik 5 (2): 114-124. DOI: http://dx.doi.org/10.22373/biotik.v5i2.3019

Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM. Yogyakarta.

Indriyanto. 2010. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta

Moesa., 2001. Penuntun Praktikum Ekologi Tumbuhan. Universitas Syiah Kuala Press. Banda Aceh

Susanto, W. 2012. Analisis Vegetasi pada Ekosistem Hutan Hujan Tropis untuk Pengelolaan Kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Wilayah Pengelolaan Cangar-Kota Batu). Online, 30(03), 2013.