Makalah Tanaman Mangrove (Bakau)

 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bakau (Rhizophora spp.) adalah salah satu jenis tanaman mangrove, yaitu kelompok tanaman tropis yang bersifat halophytic atau toleran terhadap garam (Irwanto, 2006). Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di air payau, dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik.

Mangrove memiliki kemampuan khusus untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang ekstrim, seperti kondisi tanah yang tergenang, kadar garam yang tinggi serta kondisi tanah yang kurang stabil. Kondisi lingkungan seperti itu menyebabkan beberapa jenis mangrove mengembangkan mekanisme yang memungkinkan secara aktif mengeluarkan garam dari jaringan, sementara yang lainnya mengembangkan sistem akar napas untuk membantu memperoleh oksigen bagi sistem perakarannya (Setyawan et al., 2002).

Makalah tanaman mangrove membahas cara penanaman mangrove, ciri-ciri mangrove, ekologi serta pengelolaan hutan mangrove yang tersusun dengan bakau.

Tanaman bakau termasuk dalam famili Rhizophorazceae. Ada tiga jenis yang tergolong dalam Rhizophora sp., yaitu R. mucronata, R. apiculata dan R. stylosa. Jenis-jenis ini dikenal dengan nama bakau, dan merupakan jenis yang umum dan selalu tumbuh di hutan mangrove (Sukardjo, 1984). Noor (1999) mengemukakan taksonomi tanaman bakau adalah sebagai berikut:

  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub divisi : Angiospermae
  • Kelas : Dicotiledonae
  • Sub kelas : Dialypetalae
  • Ordo : Myrtales
  • Famili : Rhizophoraceae
  • Genus : Rhizophora 
  • Spesies            : Rhizophora sp.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:

  1. Jabarkan pandangan umum, struktur anatomi, sebaran dan potensi tanaman Bakau (Rhizophora sp.)
  2. Jelaskan bagaimana pembudidayaan, manfaat dan cara pemanenan tanaman Bakau (Rhizophora sp.)
  3. Bagaimana cara pengolahan tanaman Bakau (Rhizophora sp.), (proses pembuatan menjadi barang jadi/ barang yang dijual)?
  4. Jelaskan pemasaran dan literatur dari tanaman Bakau (Rhizophora sp.)

1.3 Tujuan

Adapun tujuan penyusunan makalah ini adalah:

  1. Menjabarkan pandangan umum, struktur anatomi, sebaran dan potensi dari tanaman Bakau (Rhizophora sp.).
  2. Menjelaskan bagaimana pembudidayaan, manfaat dan cara pemanenan tanaman Bakau (Rhizophora sp.).
  3. Menjabarkan bagaimana pengolahan tanaman Bakau (Rhizophora sp.), (proses pembuatan menjadi barang jadi/ barang yang dijual).
  4. Menjelaskan pemasaran dan literatur dari tanaman Bakau (Rhizophora sp.).

II. PEMBAHASAN

2.1. Pandangan Umum

Bakau diartikan sebagai komunitas tumbuhan yang menutupi bagian lahan pasang surut daerah tropika. Populasi tumbuhan yang membentuk komunitas bakau terdiri dari tak ranggas dan belukar yang tidak mempunyai garis kekerabatan dalam hal taksonomi. Namun populasi tumbuhan yang tumbuh di daerah tersebut memiliki bebrapa kesamaan dalam hal fisionogmi, ciri fisiologi, dan penyesuaian struktur terhadap habitat. Kesamaan morfologi diantara tumbuhan yang tumbuh adalah perpaduan yang berwarna hijau tua berkilap bersenada, kesemrautan dan mempunyai akar udara (pnenumatofora dan kecenderungan vivipar yang dapat di katakan menonjol) (Ewusie, 1990).

Kunjungi juga : Jenis-Jenis Ekowisata

2.2 Struktur Anatomi Tanaman Bakau

Bakau merupakan salah satu jenis pohon penyusun utama ekosistem hutan manggrove/bakau. Berdasarkan karakteristik dari ekosistem mangrove yang baik dengan keadaan tanah, salinitas, pasang surut, dan keadaan tanah. Adapun adaptasi dari tumbuhan mangrove terhadap habitat tersebut tampak pada fisiologis dan komposisi struktur anatomi tumbuhan mangrove/bakau (Onrizal, 2005).

  • Ciri khusus tumbuhan bakau ini hidup di pinggiran pantai, tumbuhan bakau memiliki akar tunjang yang menyolok dan bercabang-cabang, akar tunjang merupakan bentuk adaptasi tumbuhan bakau terhadap lingkungan pantai.
  • Daun tunggal, terletak berhadapan, terkumpul di ujung ranting, dengan kuncup tertutup daun penumpu yang menggulung runcing
  • Helai daun eliptis, tebal licin serupa kulit, hijau atau hijau muda kekuningan, berujung runcing, bertangkai
  • Bunga berkelompok dalam payung tambahan yang bertangkai dan menggarpu di ketiak
  • Daun mahkota putih berambut atau gundul agak kekuningan, bergantung jenisnya
  • Buah berbentuk telur memanjang sampai mirip buah pir yang kecil, hijau coklat kotor.

2.3 Penyebaran Tanaman Bakau di Indonesia

Bengen (1999) menjelaskan bahwa karakteristik penyebaran hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berdasarkan perbedaan kondisi substrat sebagai habitat mangrove sangat terkait dengan jenis mangrove yang tumbuh diwilayah/zona tersebut. Rhizophora spp dominan ke arah darat hutan maggrove. 

Pohon bakau termasuk komponen pembentuk pada hutan manggrove, maka persebaran kedua hutan ini di indonesia tidak berbeda. Biasanya kita dapat menemukan pohon bakau dan hutan bakau di indonesia pada daerah-daerah di bawah ini:

  • Sisi barat dan timur pulau Sumatera: Persebaran hutan bakau di Sumatera tidaklah menyeluruh yakni hanya berada di wilayah barat dan timur dengan luasnya mencapai 417.000 hektar.
  • Pulau Jawa: Hutan bakau di pulau Jawa hanya terdapat di beberapa titik yakni seperti di pantai utara Jawa bagian barat dan tengah dengan luasan hutan sebesar 34.400 hektar.
  • Sepanjang pesisir pulau Kalimantan: Persebaran hutan bakau di Kalimantan terbilang merata, yakni ada di sepanjang pesisir pantai di kalimantan, luasan untuk hutan bakau sendiri mencapai 165.000 hektar.
  • Sepanjang pesisir pulau Sulawesi: Sama dengan Kalimantan, persebarannya merata di sepanjang pesisir pantai di Sulawesi dengan luasan mencapai 53.000 hektar.
  • Bali dan Nusa Tenggara: Luasan hutan bakau di wilayah pesisir pulau Bali dan Nusa Tenggara mencapai 3. 700 hektar.
  • Bagian barat dan pesisir utara pulau Papua: Keberadaan dan persebaran hutan bakau maupun manggrove di indonesia memang paling banyak di temukan di Papua. Luasan hutan manggrove sendiri dimiliki Papua mencapai 2.943.000 hektar.

2.4 Potensi Tanaman Bakau

Darsidi (1991) mengemukakan bahwa hutan mangrove yang sebagian besarnya tumbuhan bakau mempunyai potensi yang besar terutama dari aspek ekologis dan ekonomis. Potensi ekologis terutama dalam mendukung eksistensi lingkungan, seperti: penahan angin, penahan intrusi air laut, penahan abrasi pantai, pengendali banjir, penetralisir polutan, dan sebagai tempat hidup, pemijahan, perkawinan dan mencari makan dari berbagai jenis biota dari laut dan estuari. Sedangkan potensi ekonomis adalah berupa produk yang berkaitan dengan keuangan. Salah satu produk mangrove yang bersifat ekonomi adalah kayunya, baik untuk pulp, bahan kertas, kayu lapis dan sebagainya.

Makalah tanaman mangrove membahas cara penanaman mangrove, ciri-ciri mangrove, ekologi serta pengelolaan hutan mangrove yang tersusun dengan bakau.

2.5 Pembudidayaan dan Manfaat Tanaman Bakau

Hutan bakau dapat dikatakan sebagai vegetasi pantai tropis dan sub tropis yang didominasi oleh beberapa spesies mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut, lumpur dan berpasir. walaupun habitat tanaman bakau cukup adalah perairan pantai, namun rupanya tidak semua pantai ditumbuhi mangrove. Hal ini karena terdapat persyaratan khusus yang perlu dimiliki suatu tempat untuk mendukung pertumbuhan tanaman bakau, yaitu pantai dalam kondisi yang terlindung dan relatif teenage dan mendapat sedimen dari muara sungai (Baderan 2017). 

Hutan bakau perlu kita lestarikan keberadaannya karena memiliki peran penting dalam suatu ekosistem. ekosistem mangrove memiliki beberapa fungsi ekologis yang saling terkait dengan ekosistem lainnya seperti ekosistem estuaria, ekosistem padang lamun dan ekosistem terumbu karang.

Tak hanya itu, ekosistem mangrove khususnya tanaman bakau juga memiliki fungsi secara fisik yang terkait dengan perlindungan pantai yaitu untuk melindungi pantai, mencegah abrasi, mencegah intrusi air laut, memerangkap sedimen hingga menyortir sampah agar tidak sampai ke laut. Dengan peran penting yang dimiliki tanaman bakau ini, kita perlu menjaga keberadaannya agar tanaman bakau dapat terus hidup pada habitatnya (Sambu, 2018).

Kunjungi juga : Prinsip-Prinsip Ekowisata

Cara menjaga kelestarian eksistensi hutan bakau antara lain dengan program reboisasi kembali pohon bakau di pantai-pantai, memperketat perizinan pengusahaan hutan dan memperketat pengawasan terhadap para perambah hutan (Sambu, 2018).

Penanaman tanaman bakau sebainya dilakukan pada saat air laut surut agar mudah mengatur jarak dan keseragamannya. Untuk lokasi penanaman yang terletak dibibir laut terbuka penanaman tidak dilakukan pada musim ombak besar. Ini dimaksudkan agar bibit tidak hanyut terbawa ombak. Sebelum penanaman perlu dipersiapkan peralatan yang digunakan. Peralatan tersebut antara lain:

  • Tali pengatur jarak, yang digunakan untuk mengatur jarak antar tanaman serta jalur tanaman menjadi lurus. Tali pengatur jarak dapat berupa tali rafia/plastik atau tali lainnya yang berukuran panjang 10-20 meter. Kedua ujung tali ini diikat dengan sepotong bambu atau kayu dan pada jarak tanam yang diinginkan diberi tanda (cat atau tali plastik yang diikat) sebagai titik penanaman.
  • Ajir, yakni digunakan untuk penanaman pada pantai yang menghadap laut lepas yang ombaknya cukup besar. Bibit diikat ke ajir agar bibit tidak hanyut dibawa ombak. Ajir juga dapat digunakan untuk penanaman disungai atau saluran air sebagai tanda adanya tanaman baru. Ajir dapat dibuat dari kayu atau bambu.
  • Tugal atau suwan, yaitu digunakan untuk membuat lubang tanaman dan dibutuhkan sewaktu menanam di tanah berlumpur yang agak keras. Tugal dapat dibuat dari kayu atau bambu bulat.
  • Ember atay parang. Ember digunakan untuk mengangkut bibit/benih pada saat penanaman, sedangkan parang digunakan untuk membersihkan tumbuhan liar atau ranting.

Pada saat penanaman bibit, jarak tanaman didasarkan pada lokasi dan tujuan penanaman. Untuk perlindungan pantai dari abrasi, jarak tanamannya sebaiknya 1 x 1 meter. Untuk melindungi tanggul, jarak tanaman antara 1 - 1,5 meter. Apabila ingin menyediakan jalan bagi penjala, pencari udang atau kepiting, maka jarak antar tanaman diperbesar menjadi 2 meter atau 2 x 2 meter. Penanaman di tengah tambak (khusus tambak bandeng), jarak tanaman dapat 1,5 x 1,5 meter, 2 x 2 meter atau 2 x 3 meter. Setelah tanaman membesar, dapat dijarangkan menjadi 3 x 3 meter atau sesuai dengan keinginan.

Penanaman bakau dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penanaman dengan buah dan penanaman dengan bibit/benih dari hasil perrsemaian. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan:

  • Penanaman buah. Pada daerah yang berlumpur, lembek atau dalam sekitar sepertiga dari panjang dan benih atau buah ditancapkan ke dalam lumpur secara tegak dengan bakal kecambah menghadap ke atas. Apabila lumpur agak keras, terlebih dahulu dibuat lubang kemudian benih dimasukkan ke dalam lubang secara tegak. Ajir dapat dipakai untuk melindungi benih/buah supaya tidak terbawa ombak dengan cara mengikatkan benih pada ajir.
  • Penanaman dengan menggunakan bibit hasil persemaian. Untuk menanam bibit ini, terlebih dahulu membuat lubang, kemudian kantong plastik (polybag) dilepaskan secara hati-hati agar tidak merusak akar bibit. Bibit dimasukkan ke dalam lubang secara tegak sebatas leher akar dan ditutup dengan lumpur kembali. Ajir dapat dipakai untuk melindungi bibit agar tidak dibawa ombak, caranya dengan mengikatkan bibit pada ajir.

Setelah ditanam, tanaman bakau butuh pemeliharaan agar pertumbuhannya optimal, sehingga lebih cepat berfungsi sesuai dengan yang diinginkan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan tanaman bakau tidak tumbuh optimal, baik berupa hewan pengganggu maupun aktivitas manusia.

2.6 Cara Pemanenan Tanaman Bakau

Secara umum tanaman bakau tidak di perbolehkan untuk di tebang atau di panen secara sembarangan di karenakan tanaman bakau sangat penting buat ekosistem terutama di daerah pesisir pantai. Maka dari itu adanya peraturan yang mengatakan bahwa penebangan pohon bakau harus di atas 10 cm. Hal ini untuk memberikan kesempatan bagi tunas atau bibit baru untuk tumbuh sebagaimana diharapkan. Sehingga peremajaan akan terus terjadi secara alami. Sebab memang, pertumbuhan tanaman pohon bakau, biasa tumbuh secara alami.

Makalah tanaman mangrove membahas cara penanaman mangrove, ciri-ciri mangrove, ekologi serta pengelolaan hutan mangrove yang tersusun dengan bakau.

Kepala Dinas Kehutanan Perkebunan Kabupaten Kepulauan Meranti, H Makmun Murod, menegaskan, tata cara penebangan kayu bakau bisa ditebang minimal setelah berdiamter di atas 10 Cm. Di bawah itu tidak boleh ditebang.

Penebangan yang tidak teratur akan merusak lingkungan dan masa depan hutan bakau itu sendiri. Hal ini juga harus menjadi komitmen para pihak, terutama pengusaha yang menggunakan kayu bakau menjadi cerocok bangunan.

2.7 Pengolahan Tanaman Bakau (Rhizophora spp.)

Pengolahan tanaman bakau menjadi barang jadi atau barang yang dijual tidak serta merta diolah melainkan digunakan secara langsung seperti kayu bakau. Kayu bakau sudah lagsung menjadi barang yang dijual karena dimanfaatkan dalam bentuk kayu sebagai bahan baku konstruksi bangunan (Fadlian et al., 2018). Selain itu, pengolahan tanaman bakau menjadi bahan pangan seperti buah bakau melewati beberapa proses. Proses tersebut dimuali dengan melakukan pengeringan terhadap biji bakau yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan kopi mangrove. Selanjutnya, biji yang telah kering kemudian dihaluskan dengan bantuan teknologi terbatas dan melalui pengayakan sehingga ukuran bubuk bakau yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan. Selanjutnya, biji bakau yang telah diubah menjadi bubuk dikemas dan dilabel. Setelah itu, bubuk kopi dari biji bakau siap dipasarkan (Yuanitasari, 2020).

2.8 Pemasaran Tanaman Bakau (Rhizophora Spp.)

Tanaman bakau merupakan salah satu hasil hutan kayu yang memiliki nilai ekonomis. Tanaman bakau sudah dikenal di dunia pasar seperti buah dan kayunya yang dapat diperjual belikan. Berdasarkan penelitian Fadlian et al. (2018) menjelaskan bahwa masyarakat di Kecamatan Tembilahan memperjual belikan kayu bakau sebagai bahan baku konstruksi bangunan dengan harga yang dapat berubah sewaktu-waktu. Lebih lanjut dikatakan bahwa perubahan yang terjadi pada harga kayu bakau ini disebabkan oleh beberapa faktor yakni biaya produksi, komunikasi tawar menawar, jarak angkut kayu bakau ke lokasi konsumen, ketersediaan kayu bakau di alam, permintaan konsumen, ukuran kayu bakau, serta keadaan pasar.

Kunjungi juga : Pengertian, Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove

Tanaman bakau juga menghasilkan buah yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan terutama sebagai bahan baku utama dalam pembuatan kopi mangrove dan obat-obatan. Inovasi kopi mangrove digagas dan sudah dipasarkan oleh Slaman dari Desa Lembung Kecamatan Galis Kabupaten Pemekasan Provinsi Jawa Timur (Yuanitasari, 2020).

III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah:

  1. Bakau diartikan sebagai komunitas tumbuhan yang menutupi bagian lahan pasang surut daerah tropika. Populasi tumbuhan yang membentuk komunitas bakau terdiri dari tak ranggas dan belukar yang tidak mempunyai garis kekerabatan dalam hal taksonomi.
  2. Cara menjaga kelestarian eksistensi hutan bakau antara lain dengan program reboisasi kembali pohon bakau di pantai-pantai, memperketat perizinan pengusahaan hutan dan memperketat pengawasan terhadap para perambah hutan.
  3. Pengolahan tanaman bakau menjadi barang jadi atau barang yang dijual tidak serta merta diolah melainkan digunakan secara langsung seperti kayu bakau. Kayu bakau sudah lagsung menjadi barang yang dijual karena dimanfaatkan dalam bentuk kayu sebagai bahan baku konstruksi bangunan.
  4. Tanaman bakau menghasilkan buah yang dapat dijadikan sebagai bahan pangan terutama sebagai bahan baku utama dalam pembuatan kopi mangrove dan obat-obatan.

Pustaka:

Bengen. 1999. Pengelolaan Hutan Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Badaren, K. Wahyuni, D. & Rahim, S. 2017. Hutan Mangrove dan Pemanfaatanya. Budi Utama. Yogyakarta

Darsidi, A. R. M. A. N. A. 1986. Perkembangan Pemanfaatan Hutan Mangrove di Indonesia. In Prosiding Seminar II Ekosistem Mangrove. Denpasar, Bali.

Ewusie J. Y. 1990. Pengantar Ekologi Tropika. Membicarakan Alam tropika Afrika, Asia, Pasifik dan Dunia Baru. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Irwanto. 2006. Keanekaragaman Fauna Pada Habitat Manggrove. Yogyakarta

Noor, R. Y., Khazali, M. dan Suryadiputra, I N. N. 1999. Paduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Lahan Basah Internasional Indonesia Program.

Onrizal. 2005. Adaptasi Tumbuhan Bakau pada Lingkungan Salin dan Jenuh Air. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Medan

Sambu, A. H, & Sribianti. 2018. Laporan Hasil Penelitian Model Pengelolaan Ekosistem Mangrove Berbasis Pariwisata dan Pendidikan. Lokasi Desa Tongke-Tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai.

Setyawan, A. D. 2002. Ekosistem Mangrove sebagai Kawasan Peralihan Ekosistem Perairan Tawar dan Perairan Laut. Enviro 2 (1): 25-40.

Sukardjo, S. 1984. Ekosistem Manggrove. Oseana 9 (4): 102-115.


Penyusun : Mega Plena Zega