Pengertian dan Fungsi Zat Ekstraktif pada Kayu

Zat ekstraktif adalah salah satu komponen penyusun kayu yang bersifat kimia dan sangar berpengaruh secara signifikan terhadap kenaikan kalor kayu. Umumnya, zat ekstraktif berupa zat yang mudah larut dan biasanya menempati pori-pori kayu. Selain itu, zat ekstraktif juga menepati dinding sel kayu dengan kandungan yang cukup rendah. Beberapa contoh zat ekstraktif yang terdapat di dalam kayu berupa zat warna, pektin, gula, tanin, flobatannin, lemak dan damar.

Keberadaan zat ekstraktif dapat diketahui pada dasarnya karena zat tersebut dapat larut pada berbagai larutan kimia. Larutan kimia yang dapat melarutkan zat ekstraktif berupa alkohol bensin, eter, dan juga air. Namun, pelarut kimia tersebut tidak semua mampu melarutkan zat ekstraktif yang terdapat pada kayu. Hal ini disebabkan oleh komponen yang terdapat di dalam zat ekstaktif seperti mineral dan getah. Kedua komponen tersebut memiliki konsetrasi yang lebih tinggi dari pada zat ekstraktif lainnya.

Pengertian dan Fungsi Zat Ekstraktif pada Kayu adalah untuk meningkatkan keawetan pada kayu, menahan penyusutan kayu, menentukan sifat higroskopis kayu.

1. Pengertian Zat Ekstraktif Kayu

Mengetahui komponen kimia penyusun kayu adalah salah satu langkah untuk mengetahui fungsi dan kegunaan kayu secara teknis industri. Biasanya, data tentang komponen ini diperoleh berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan jenis kayu yang dibutuhkan. Apabila data komponen kimia penyusun kayu tersebut diperoleh maka dapat menjadi suatu pertimbangan untuk kegiatan penggunaan kayu sebagai bahan dasar pembuatan produk di dalam industri seperti produk pulp dan kertas, papan serat, papan semen, dan berbagai macam produk lainnya yang berhubungan secara signifikan terhadap sifat kimia kayu (Supartini, 2009).

Kunjungi juga : Selulosa, Hemiselulosa dan Lignin Penyusun Kayu

Soenardi (1976) mengemukakan pengertian zat ekstraktif kayu adalah kumpulan berbagai macam zat yang mampu larut di dalam pelarut netral seperti alkohol, air, benzena dan eter. Umumnya, zat yang terlarut pada larutan-larutan tersebut di atas berupa asam-asam organik, damar, gula, lilin, lemak, resin, pati, dan zat warna. Selanjutnya, zat ekstraktif kayu biasanya terbagia menjadi 3 bagian senyawa yakni aliphatik, terpen dan terpenoid, serta phenolik. Senyawa aliphatik dan terpenoid biasanya dapat mudah ditemukan pada resin dan juga oleoresin (Sjostrom, 1995).

Zat ekstraktif juga diartikan sebagai sejumlah besar senyawa yang berbeda yang dapat diekstraksi dari kayu dengan memanfaatkan pelarut polar dan pelarut non polar. Kadar zat ekstraktif yang terdapat di dalam kayu berjumalh sedikit yang tersusun atab beberapa senyawa kimia yang larut dalam pelarut organik (Fengel &Wegener, 1995).

2. Fungsi Zat Ekstraktif pada Kayu

Pengaruh zat ekstraktif pada kayu sangat beragam terutama sebagai penyebab keawetan alami kayu. Jenis kayu yang memiliki zat ekstraktif dengan kadar racun yang tinggi maka kayu tersebut secara alami akan semakin awet dan semakin baik. Fungsi zat ekstraktif pada kayu tersebut membuat serangga perusak kayu tidak dapat merusak jenis kayu tersebut. Hal ini dikarenakan kandungan zat ekstraktif kayu yang memiliki racun sehingga dapat membuat serangga yang memakannya mengalami kematian.

Penelitian Sinaga (2008) yang melakukan pengujian zat ekstraktif terhadap mortalitas rayap tanah dengan jenis kayu Brugueria da Avicenia menjelaskan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan pada kertas uji maka mortalitas rayap mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan bahwa secara garis besarnya konsentrasi zat ekstraktif yang semakin meningkat memiliki daya racun yang semakin tinggi sehingga mortalitas rayap tanah mengalai peningkatan seiring dengan meningkatnya konsetrasi yang diberikan. Selain beberapa penjelasan tersebut, fungsi zat ekstraktif terhadap kayu juga sebagai berikut.

  • Zat ekstraktif di dalam kayu akan berkontribusi terhadap stabilitas dimensi kayu dengan peran sebagai bulking agent. Artinya zat ekstraktif di dalam kayu yang terletak di bagian rongga kayu akan menahan penyusutan kayu sehingg stabilitas meningkat (Nawani et al., 2013).
  • Zat ekstartif kayu mempengaruhi sifat higroskopis kayu terutama kapasitas kayu dalam penyerapan air (Nawani et al., 2013).

Kunjungi juga : 5 Sifat Kimia Kayu

Pustaka:

Fengel, D. & Wegener. 1995. Kimia Kayu dan Ultrastruktur dan Reaksi-Reaksi. UGM Press. Yogyakarta

Nawani, D. S., Wicaksono, S. H. & Rahayu, I. S. 2013. Kadar Zat Ekstraktif dan Susut Kayu Nangka (Arthocarpus heterophyllus) dan Mangium (Acacia mangium). Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis 11 (1): 46-54

Sinaga, E. J. 2008. Pemanfaatan Zat Ekstraktif Kulit Kayu Mangrove dalam Pengendalian Rayap Tanah. Skripsi. Univeristas Sumatera Utara. Medan

Sjostrom, E. 1995. Kimia Kayu, Dasar-Dasar dan Penggunaan. Edisi Kedua. UGM Press. Yogyakarta.

Soenardi. 1976. Sifat-Sifat Kimia Kayu. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Supartini. 2009. Komponen Kimia Kayu Meranti Kuning (Shorea macrobalanos). Jurnal Penelitian Dipterokarpa 3 (1): 43-50