Lebah Kelulut | Klasifikasi, Pengenalan, dan Budidaya

A. Klasifikasi Lebah Kelulut

Lebah kelulut merupakan lebah yang tidak menyengat dan sangat ramah terhadap manusia. Lebah kelulut di beberapa daerah di Indonesia juga dikenal dengan sebutan klanceng, mamburep, gala-gala, lenceng, atau teuweul. Menurut Sakagami (1978), lebah kelulut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Kingdom     : Animalia

Phylum         : Arthoproda

Class : Insecta

Ordo : Hymenoptera

Family : Apidae

Subfamily : Apinae

Tribe : Meliponini

Genus : Trigona

Species         : Trigona spp.

Klasifikasi lebah kelulut menurut Sakagami (1978). Budidaya lebah kelulut termasuk dalam kegiatan yang cukup mudah dan tidak memerlukan biaya besar.
Lebah Kelulut (sumber gambar : My Bee Kelulut)

B. Pengenalan Lebah Kelulut

Lebah kelulut merupakan serangga sosial yang kehidupannya dilakukan secara berkoloni dan kelompok lebah yang tidak menyengat. Selanjutnya, lebah yang pada umumnya membela diri dengan menyengat berbeda dengan lebah kelulut. Hal ini dikarenakan lebah kelulut yang terganggu atau pun merasa terusik melakukan pembelaan diri dengan cara menggigit (Syafrizal et al., 2012).

Michener (2007) menjelaskan bahwa koloni lebah Trigona dapat berjumlah ribuan ekor dalam satu sarang. Sebuah koloni lebah memiliki strata yang dimulai dari ratu, lebah jantan, lebah pekerja, dan anakan. Ratu bertugas untuk bereproduksi. Pada umumnya satu koloni mempunyai satu ratu dewasa yang aktif untuk bertelur, dan calon ratu (virgin queen) yang dipersiapkan jika ratu mati.

Ukuran ratu biasanya lebih besar dibandingkan lebah pekerja dan pejantan. Sihombing (2005) menekankan bahwa tubuh ratu lebah kelulut memiliki bentuk bulat memanjang dengan warna yang lebih pucat atau putih kekuningan. Ratu lebah kelulut memproduksi pheromone yang fungsinya sebagai pemikat lebah jantan untuk melakukan reproduksi (kawin). Coville et al. (1986) menambahkan bahwa pheromone yang dihasilkan oleh ratu lebah kelulut juga dapat digunakan sebagai pengatur aktivitas koloni dan penanda teritori.

Pekerja di dalam sebuah koloni lebah merupakan strata yang penting, dengan jumlah terbanyak pada satu koloni. Lebah ini bertugas untuk mencari pakan. Lebah pekerja dicirikan dengan tubuh yang berwarna hitam, bersayap hingga menutupi tubuh dan tungkai yang mempunyai banyak bulu halus (setae).

Menurut Gojmerac (1983), kebutuhan total protein dari suatu koloni lebah madu dapat terpenuhi dengan mengkonsumsi polen. Lebah kelulut merupakan lebah yang menghasilkan madu, bee pollen dan propolis dengan manfaat yang sangat banyak. Karena selain memiliki manfaat bagi kesehatan juga memiliki nilai ekonomis.

C. Budidaya Lebah Kelulut

Budidaya lebah kelulut termasuk dalam kegiatan yang cukup mudah dan tidak memerlukan biaya yang besar. Rendahnya pengeluaran budidaya lebah kelulut dikarenakan hanya memerlukan stup baru sebagai tempat untuk pembudidayaan, penyiapan koloni, serta ketersediaan pakan. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan dalam kegiatan budidaya lebah kelulut adalah sebagai berikut (Kristianto, 2020):

1. Persiapan lahan yang terdiri dari lahan dan kesediaan pakan

Lahan yang diperlukan untuk kegiatan budidaya lebah kelulut dapat berupa kebun karet atau kebun lainnya. Tempat budidaya lebah kelulut umumnya lebih memperhatikan kesediaan pakan seperti nektar dari bunga pohon seperti pohon karet atau bunga dari tumbuhan lainnya. Pada lahan disiapkan tiang yang terbuat dari kayu keras dan alas dari papan sebagai tempat untuk meletakkan koloni dan stup lebah kelulut.

Selain keadaan lahan ini, keberhasilan budidaya lebah kelulut dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan. Pakan yang cukup dapat membuat produksi madu lebah kelulut menjadi banyak. Pakan untuk lebah kelulut merupakan tanaman berbunga yang menghasilkan nektar, pole, dan resin seperti karet, mangga, bunga matahari, kaliandra, dan bunga air mata pengantin. 

2. Penyiapan stup

Stup merupakan tempat tiruan lebah untuk bersarang dan melakukan reproduksi. Penyiapan stup dilakukan dengan membuat kotak yang berasal dari kayu dengan ukuran 30 x 40 x 50 cm. Ukuran tersebut berdasarkan praktek langsung dari KPHP Katingan Hulu Unit XVII.

Selanjutnya, stup ditutup dengan menggunakan plastik bening dan kemudian ditutup dengan papan yang berbentuk kotak. Tutup kotak stup lebah kelulut terbuat dari papan berbentuk persegi sesuai dengan ukuran kotak stup yang telah dibuat yang dilapisi dengan perlak. Tujuan pelapisan ini digunakan untuk melindungi stup dari cuaca panas serta hujan. 

3. Penyiapan koloni

Koloni yang digunakan untuk budidaya dapat dibeli atau mengambilnya secara langsung dari hutan. Pengambilan koloni lebah kelulut dari hutan dilakukan dengan menebang batang pohon yang sebelumnya telah dihuni oleh koloni lebah kelulut. Penebangan batang pohon dilakukan pada sore hari. Setelah melakukan penebangan maka selanjutnya mengangkut koloni menuju lahan budidaya pada malam harinya.

4. Pemasangan stup pada koloni

Pemasangan stup pada koloni lebah kelulut sebaiknya dilakukan pada malam hari. Hal ini dikarenakan pada malam hari, lebah kelulut cenderung telah kembali ke sarang.

5. Pengembangbiakan koloni lebah kelulut

Pengembangbiakan madu lebah kelulut dimulai dengan memindahkan ratu nya terlebih dahulu pada stup. Setelah ratu nya dipindahkan, anggota koloni lebah kelulut secara otomatis akan mengikuti ratu nya. Setelah proses pemindahan selesai maka perlu adanya adaptasi dari koloni. Untuk itu, stup dibiarkan selama 1 sampai 2 bulan sehingga koloni terbiasa dengan lingkungan dan tempat yang baru.

Setelah beradaptasi, koloni lebah kelulut pada umumnya akan menutup lubang secara rapat yang terdapat pada stup dengan menggunakan propolis. Propolis merupakan suatu zat resin yang digunakan oleh lebah kelulut untuk menutup lubang kecil. Zat ini diperoleh dari berbagai jenis tumbuhan yang memiliki aliran getah atau tunas pohon.

Setelah semuanya tertutup dengan rapat, lebah kelulut mulai memproduksi madu. Sebelumnya, lebah kelulut membuat jalan masuk di dalam sarang dengan menggunakan propolis sehingga koloni bisa keluar dan masuk untuk mencari pakan.

6. Pemanenan

Pemanenan lebah kelulut dilakukan dengan waktu yang konsisten. Setelah lebah kelulut sudah bisa memproduksi madu, makan panen madu dilakukan 1 kali dalam 2 minggu. Pemanenan madu dilakukan dengan menggunakan alat sedot/panen yang telah disiapkan.

7. Penyaringan

Setelah memperoleh madu lebah kelulut dari hasil panen, kemudian melakukan penyaringan pada madu. Penyaringan dilakukan dengan menggunakan penyaring secara double supaya kotoran dari madu dapat tertahan pada saringan. Kotoran yang dimaksud seperti bekas sarang atau propolis. Setelah itu, hasil saringan dimasukkan ke dalam kemasan.

8. Sterilisasi awal

Sebelum memasukkan madu kelulut di dalam botol kemasan terlebih dahulu botol kemasan nya disterilisasi. Cara sterilisasinya dilakukan dengan menyiram botol kemasan menggunakan air mendidih dan kemudian dikeringkan menggunakan tissue kering.

9. Proses memasukkan madu kelulut ke dalam botol kemasan

Proses memasukkan madu ke dalam botol kemasan dilakukan dengan menuangkan madu menggunakan alat pemindahan dengan memanfaatkan corong. Penggunaan corong dilakukan untuk menghindari atau meminimalisir tumpahnya madu. Selanjutnya, madu yang telah dimasukkan ke dalam botol kemasan dibiarkan selama 10 menit dan setelah itu botol kemasan nya ditutup.

10. Sterelisasi akhir

Setelah madu kelulut dimasukkan ke dalam botol kemasan, dilakukan sterilisasi akhir. Caranya adalah dengan menyiram botol kemasan yang telah tertutup dengan menggunakan air mendidih sebelum dilabeli.

11. Labeling

Labelling merupakan kegiatan memberikan penamaan pada produk madu lebah kelulut. Label yang digunakan disesuaikan dengan produk yang dihasilkan. Selain itu, label haru memiliki daya tarik tersendiri untuk memikat hati para konsumen.

12. Pemasaran

Pemasaran merupakan kegiatan distribusi produk madu lebah kelulut di berbagai tempat. Pemasaran dapat dilakukan dengan menawarkan produk secara langsung atau menggunakan media sosial. Selain itu, saat ini pemasaran yang lebih modern dilakukan dengan membuat iklan produk yang akan dipasarkan.

Pustaka :

Coville, R. E., Frankie, G. W., Buchmann, S. L., Vinson, S. B., & Williams, H. J. 1986. Nesting and Male Behavior of Centris Heithausi (Hymenoptera: Anthophoridae) In Costa Rica with Chemical Analysis of the Hindleg Glands of Males. Journal of the Kansas Entomological Society 59 (2): 325-336. https://www.jstor.org/stable/25084775

Gojmerac, W. L. 1983. Bees, Beekeping, Honey and Pollination. AVI Publishing Company, Inc. Westport, Conecticut.

Kristianto. 2020. Budidaya Lebah Kelulut (Trigona spp). Mata Kuliah Umum pada Kegiatan PKL Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. UPT-KPHP Katingan Hulu unit XVII. Palangka Raya

Michener, C. D. 2007. The Bees of the World. The Johns Hopkins University Press, Maryland (US)

Sakagami, S. F. 1978. Tetragonula Stingless Bees of the Continental Asia and Sri Lanka (Hymenoptera, Apidae). J. Fac. Sci. Hokkaido 21 (2): 165-247. http://hdl.handle.net/2115/27635

Sihombing, D. T. H. 2005. Ilmu Ternak Lebah Madu. Cetakan kedua. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Syafrizal, B. A., Sila, M., & Marji, D. 2012. Jenis Lebah Kelulut (Trigona spp.) di Hutan Pendidikan Lempake. Mulawarman Scientifie 11 (1): 11-18

Penulis : Zega Hutan