Perkerasan Jalan Hutan: Sejarah, Jenis, dan Fungsi Lapisan Perkerasan

1. Sejarah Perkerasan Jalan Hutan

Sejarah perkerasan jalan hutan sejalan dengan peningkatan kebutuhan hidup yang diperlukan oleh manusia. Berdasarkan hal tersebut, sejarah perkerasan jalan hutan memiliki kaitan yang sangat erat dengan bertambahnya populasi manusia serta penemuan teknologi. 

Sejarah perkerasan jalan hutan sejalan dengan peningkatan kebutuhan hidup yang diperlukan oleh manusia. Perkerasan jalan hutan dapat dibedakan menjadi 3 jenis yang terdiri atas perkerasan lentur, perkerasan kaku, dan perkerasan komposit. Lapisan perkerasan jalan hutan berfungsi untuk menahan beban lalu lintas dan menyebarkannya di lapisan bagian bawah. Lapisan-lapisan perkerasan jalan terdiri dari lapisan permukaan (surface course), lapisan pondasi bagian atas (base course), lapisan pondasi bagian bawah, (subbase course), dan lapisan tanah di bagian dasar (subgrade) (Unhas, 2009).

Awalnya, jejak manusia yang tertinggal di atas tanah untuk mencari kebutuhan hidup semakin lama menjadi jalan setapak. Hal ini disebabkan oleh jejak tersebut dilewati berkali-kali. Selain itu juga dipengaruhi oleh sifat manusia yang mulai hidup dengan membentuk kelompok. 

Pertama kali dalam sejarah yang pernah dicatat bahwa sekitar 3500 tahun SM (Sebelum Masehi) telah ditemukan jalan yang diperkeras di daerah Mesopotania yang berkaitan dengan penemuan roda (Unhas, 2009).


Perkerasan jalan mulai berkembang secara cepat pada zaman Romawi dengan melakukan pembangunan jalan dari beberapa lapisan perkerasan dan berhenti pada awal abad 18. Pada saat yang sama, ahli berkebangsaan Prancis dan Skotlandia menemukan sistem perkerasan jalan yang saat ini digunakan di selurh dunia termasuk Indonesia (Unhas, 2009).

Tahun 1756-1836, John Louden Mac Adam berekebangsaan Skotlandia memprakarsai konstruksi perkerasan dengan menggunakan batu yang telah pecah dimana lubang-lubang di bagian atas ditutupi oleh batu yang memiliki ukuran lebih kecil. Perkerasan jenis ini biasanya disebut perkerasana Mac Adam. Selanjutnya, lapisan Mac Adam dilapisi dengan aspal untuk mengikat bahan bahan yang digunakan sehingga kedap terhadap air (Unhas, 2009).

Selanjutnya, salah seorang ahli berkebangsaan Prancis bernama Pierre Mrie Jerome Tresaguet (1716-1796) melakukan pengembangan terhadap sistem lapisan batu pecah yang sebelumnya dengan menambahkan beberapa faktor yang diperhatikan yakni drainase dan keiringan melintang sehingga pondasi yanag digunaan berbahan dasar batu (Unhas, 2009).

Pengembangan Tresaguet kemudian diikuti oleh Thomas Telford (1757-1834) seorang ahli berkebangsaan Skotlandia. Batu perkerasan yang digunakan oleh Telford memiliki ukuran yakni dari 15/20 bahkan sampai 25/30.

Penyusunan batu perkerasan ini dilakukan secara tegak dimana batu berukuran kecil digunakan sebagai penutup lubang perkerasan sehingga menghasilkan permukaan yang rata. Umumnya, sistem ini dikenal dengan sebutan sistem Telford (Unhas, 2009).

Kunjungi juga : Tahapan Perencanaan Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)

Penggunaan aspal untuk mengikat bahan perkerasan jalan awalnya ditemukan pada tahun 6265 Masehi di Babylon. Akan tetapi, perkerasan dengan pengikat aspal tersebut tidak mengalami perkembangan sampai adanya penemuan kendaraan bermotor pada tahun 1880 oleh Gottlieb Daimler dan Karl Benz.

Selanjutnya, penggunaan aspal sebagai pengikat perkerasan jalan diawali pada tahun 1920 hingga sampai sekarang. Selain itu, tahun 1828 juga ditemukan semen sebagai pengikat perkerasan jalan di London. Namun, perkerasan tersebut mulai berkembang pada awal tahun 1900-an (Unhas, 2009).

Di Indonesia, pembangunan jalan dilakukan pada akhir abad ke 18 dengan penerapan romusha pada saat pemerintahan Daendels. Pembangunan tersebut dimaksudkan untuk membangun jalan pos si daerah Jawa tepatnya dari Anyer sampai Banyuwangi. Pembangunan tersebut bertujuan untuk memudahkan pengangkutan hasil tanam pada saat romusha.

Selanjutnya, pada awal tahun 1970 Indonesia membangun jalan dengan keadaan lebih baik dari pada sebelumnya. Pembangunan tersebut ditandai dengan keberadaan jalan tol pertama kali di Indonsia yang diresmikan pada 9 Maret 1978 dengan panjang 53 km. Panjang jalan tol tersebut melewati Jakarta, Bogor, dan Ciawi sehingga ketiganya berhubungan dan disebut sebagai Jalan Tol Jagorawi (Unhas, 2009).

2. Jenis Konstruksi Perkerasan Jalan Hutan

Berdasarkan bahan pengikatnya perkerasan jalan hutan dapat dibedakan menjadi 3 jenis yang terdiri atas perkerasan lentur, perkerasan kaku, dan perkerasan komposit.
  • Perkerasan lentur (flexible pavement), merupakan perkerasan dengan menggunakan bahan aspal sebagai bahan pengikat lapisan perkerasan. Lapisan perkerasan tersebut memiliki sifat memikul serta menyebarkan beban lalu lintas ke bagian lapisan tanah dasar.
  • Perkerasan kaku (rigid pavement), merupakan perkerasan yang memanfaatkan semen (portland cement) sebagai bahan pengikat.
  • Perkerasan komposit (composite pavement), merupakan perkerasan yang diampur antara perkerasan kaku dan lentur sehingga dapat berupa perkerasan kaku di atas perkerasan lntur, atau sebaliknya.

3. Jenis dan Funsi Lapisan Perkerasan Jalan Hutan

Perkerasan jalan hutan terdiri dari beberapa lapisan yang telah dipadatkan di atas tanah. Lapisan terseut berfungsi menahan beban lalu lintas dan menyebarkannya di lapisan bagian bawah. Lapisan-lapisan perkerasan jalan terdiri dari lapisan permukaan (surface course), lapisan pondasi bagian atas (base course), lapisan pondasi bagian bawah, (subbase course), dan lapisan tanah di bagian dasar (subgrade) (Unhas, 2009).
Beban lalu lintas yang bekerja di atas konstruksi perkerasan dapat dibedakan menjadi 3 bagian yakni muatan kendaraan berupa gaya vertikal, gaya rem kendaraan berupa gaya horizontal, dan pukulan roda kendaraan berupa getaran-getaran.

Sifat penyebaran gaya pada lapisan perkerasan jalan mengakibatkan adanya perbedaan muatan yang diterima oleh masing-masing lapisan sehingga semakin ke bawah muatan nya semakin kecil. Lapisan permukaan menerima seluruh jenis gaya yang dibebankan, lapisan pondasi bagian atas menerima gaya vertikal dan getaran, sedangkan lapisan tanah di bagian dasar hanya menerima gaya vertikal saja (Unhas, 2009).

Pustaka:

Universitas Hasanuddin. 2009. Pembukaan Wilayah Hutan dan Keteknikan Kehutanan. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar

Editor : Zega Hutan
close