Sifat Fisik dan Kimia Oleoresin Rimpang Lengkuas Hutan

Hasil penelitian sifat-sifat oleoresin rimpang lengkuas hutan (A. cf. mutica Roxb.) dibandingkan dengan standarisasi mutu ekstrak rimpang lengkuas A. galanga (L.) Willd yang termuat di dalam FHI (2017). Penggunaan perbandingan digunakan karena A. galanga (L.) Willd memiliki genus yang sama dengan A. cf. mutica Roxb. yaitu Alpinia. Sifat fisik dan kimia oleoresin rimpang lengkuas hutan terdiri dari rendemen, berat jenis, bilangan asam, bilangan ester, dan kelarutan dalam alkohol (Zega, 2022).

1. Rendemen Oleoresin Rimpang A. cf. mutica Roxb.

Rendemen merupakan kadar kandungan oleoresin yang terdapat di dalam rimpang lengkuas hutan yang dinyatakan dalam persen. Rendemen diperoleh dari hasil ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi. Pemilihan metode maserasi dalam kegiatan ekstraksi didasari pada penggunaan pelarut yang mampu menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif di dalam sel dan di luar sel sehingga larutan terpekat akan didesak keluar (Putri, 2014). Selanjutnya, Assagaf et al. (2012) menekankan bahwa penggunaan metode maserasi membuat proses ekstraksi akan berlangsung secara sempurna karena terjadinya pemecahan dinding dan membran yang ada di dalam sitoplasma sehingga terlarut di dalam pelarut organik.

Sifat Fisik dan Kimia Oleoresin Rimpang Lengkuas Hutan (A. cf. mutica Roxb.) terdiri dari endemen, berat jenis, bilangan asam, bilangan ester, dan kelarutan dalam alkohol.

Nilai rendemen oleoresin A. cf. mutica Roxb. yang diperoleh dari penelitian ini menggunakan pelarut etanol 96% adalah 3,89% (Lampiran 18). Nilai rendemen ini tergolong cukup rendah apabila dibandingkan dengan rendemen ekstrak kental dari rimpang A. galanga (L.) Willd yang menghasilkan ≥ 14,5% (FHI, 2017). Rendahnya nilai rendemen ini diduga karena jumlah kadar air yang terkandung dan ukuran serbuk yang digunakan terlalu kecil. Rendemen akan mengalami penurunan apabila kadar air dalam suatu bahan mengalami penurunan sebagai akibat dari semakin lama proses pengeringan yang dilakukan (Erni et al., 2018). Lebih lanjut, Anam (2010) mengatakan bahwa pengecilan bahan ekstrak yakni 60 mesh akan menghasilkan rendemen oleoresin yang sedikit akibat terjadinya pengumpalan saat proses eksraksi yang menyebabkan pelarut sulit untuk menembus bahan sehingga oleoresin yang terdapat di dalamnya sukar terekstraksi. Semakin halus bubuk yang digunakan pada saat kegiatan ekstraksi maka akan menyebabkan penyumbatan pada saat penyaringan Guenther (1949).

2. Berat Jenis Oleoresin Rimpang A. cf. mutica Roxb.

Berat jenis oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. ditentukan dengan menggunakan alat piknometer, timbangan analitik, dan termometer raksa. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan berat jenis oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. sebesar 0,31 (terlampir pada Lampiran 18). Hasil berat jenis ini lebih kecil apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Daryono (2012) pada oleoresin jahe empirit dengan nilai 0,9012. Diduga rendahnya nilai berat jenis yang diperoleh dari hasil penelitian ini diakibatkan oleh metode ekstraksi dan suhu yang digunakan. Hasil berat jenis yang lebih besar akan diperoleh apabila menggunakan alat ekstraktor pada suhu 40°C (Daryono, 2012). Nilai berat jenis yang diperoleh dari penelitian ini tidak memenuhi standar mutu oleoresin apabila dibandingkan dengan berat jenis oleoresin jahe berdasarkan hasil pemeriksaaan LPTI dan BP Kimia Bogor yang nilainya sebesar 0,8910-0,9160. Berdasarkan nilai berat jenis tersebut mengisyaratkan bahwa oleresin rimpang A. cf. mutica Roxb. mempunyai tingkat kemurnian yang rendah dengan kandungan zat volatil yang masih banyak.

Kunjungi juga : Mengenal Tumbuhan Karamunting (HHBK)

3. Bilangan Asam Oleoresin Rimpang A. cf. mutica Roxb.

Oleoresin pada umumnya mengandung asam bebas dalam jumlah kecil yang biasanya dinyatakan sebagai bilangan asam. Bilangan asam yang terdapat di dalam suatu oleoresin menunjukkan tingkat kualitas minyak atsiri penyusunnya. Bilangan asam menunjukkan kadar lemak bebas dalam minyak atsiri, semakin rendah tingkat keasaman bahan maka komponen suatu bahan semakin murni yang menunjukkan kualitas bahan tersebut semakin baik (Amaliah et al., 2019).

Hasil penelitian yang dilakukan menjelaskan bahwa bilangan asam oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. yang dihitung dengan tiga kali pengulangan berkisar 8,42-9,54. Nilai bilangan asam oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. cukup tinggi apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Fakhrudin et al. (2015) pada oleoresin jahe kering dengan bilangan asamnya mencapai 1,120-2,243. Diduga dipengaruhi oleh keringnya bahan yang digunakan serta lamanya proses ektraksi. Pendapat ini didukung oleh Erniati et al. (2004) yang mengatakan bahwa bilangan asam pada lengkuas kering mengalami peningkatan karena terjadinya proses oksidasi. Pendapat tersebut searah dengan hasil penelitian Utomo & Cisilia (2003) yang menjelaskan waktu ekstraksi oleoresin yang terlalu lama akan menyebabkan terjadinya oksidasi. Gunawan (1987) menekankan bahwa peristiwa oksidasi akan terjadi pada ikatan rangkap senyawa terpene dan molekul alkohol serta aldehida dalam minyak atsiri pada oleoresin sehingga terbentuk asam-asam organik. Peristiwa tersebutlah yang menyebabkan bilangan asam oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. mengalami peningkatan. Semakin lama perendaman serbuk A. cf. mutica Roxb. dalam etanol 96%, maka semakin tinggi bilangan asam oleoresin A. cf. mutica Roxb. Perhitungan bilangan asam terlampir pada Lampiran 18.

4. Bilangan Ester Oleoresin Rimpang A. cf. mutica Roxb.

Bilangan ester merupakan salah satu parameter yang berperan penting untuk mengetahui kualitas oleoresin A. cf. mutica Roxb. Ketaren (1986) menjelaskan bahwa bilangan ester adalah jumlah asam organik yang memiliki senyawa sebagai ester dan erat kaitannya dengan bilangan asam. Hasil bilangan ester oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. yang diperoleh pada penelitian ini adalah 58,91-72,93. Nilai ini cukup tinggi apabila dibandingkan dengan hasil penelitian Fakhrudin et al. (2015) yang memperoleh bilanga ester pada oleoresin jahe dengan metode ekstraksi sebesar 14,309. Hal ini diduga dipengaruhi oleh ukuran serbuk dan lamanya waktu ekstraksi. Semakin kecil ukuran serbuk yang digunakan dan semakin lama kegiatan ekstraksi, maka bilangan ester yang dihasilkan pada oleoresin semakin tinggi (Fakhrudin et al., 2015; Erniati et al., 2004). Bilangan ester pada suatu oleoresin adalah penentu aroma oleoresin. Semakin tinggi bilangan ester yang dikandung oleh oleoresin, maka mutu oleoresin tersebut semakin baik. Perhitungan bilangan ester terlampir pada Lampiran 18.

5. Kelarutan Oleoresin Rimpang A. cf. mutica Roxb.

Kelarutan oleoresin rimpang A. cf. mutica Roxb. dalam alkohol 95% dinyatakan dalam jumlah alkohol 95% yang dibutuhkan untuk melarutkan 1 ml oleoresin. Kelarutan oleoresin dalam alkohol dimanfaatkan untuk mengetahui kerusakan minya asiri pada oleoresin yang dihasilkan akibat proses resinifikasi. Komponen-komponen yang terkandung di dalam oleoresin akan mempengaruhi perbedaan kelarutan dalam alkohol (Fakhrudin et al., 2015).

Kunjungi juga : Mengenal Lengkuas Hutan

Umumnya, oleoresin akan larut dalam alkohol apabila komponen kimia pada senyawa uji memiliki banyak kandungan gugus OH. Hasil kelarutan oleoresin dalam alkohol 95% yang diperoleh dari penelitian ini adalah 1:5 (Tabel 4.2) diduga sebagai akibat dari kecilnya ukuran serbuk yang digunakan yaitu tertahan 60 mesh. Pengecilan ukuran serbuk bertujuan untuk memperoleh oleoresin yang lebih banyak. Akan tetapi, pada kegiatan pengecilan ukuran terjadinya polimerisasi pada terpena sebagai akibat dari adanya gesekan antara bahan dengan alat pengecilan bahan yakni blender sehingga menimbulkan panas. Oleh sebab itu, oleoresin lebih sukar larut dalam alkohol (Fakhrudin et al., 2015).

Polimerisasi terbentuk dari senyawa isoprena dan monoterpena serta senyawa yang mengandung gugus fungsional seperti aldehid dan keton. Polimerisasi akan menghasilkan resin dan fraksi terpena atau sesquterpena yang mempunyai kelarutan dalam alkohol relatif rendah (Widada, 1993). Senyawa hasil polimerisasi akan menurunkan kelarutan dalam alkohol. Proses ini mudah terjadi terutama pada minyak atsiri yang terkandung di dalam oleoresin yang mengandung terpena dalam jumlah besar yang menyebabkan panas. Oleh sebab itu, semakin kecil ukuran serbuk yang digunakan, maka kelarutan oleoresin yang dihasilkan semakin rendah (Fakhrudin et al., 2015).

Pustaka:

Anam, C. 2010. Ekstraksi Oleoresin Jahe (Zingiber officinale) Kajian dari Ukuran Bahan, Pelarut, Waktu, dan Suhu. Jurnal Pertanian MAPETA 12 (2): 101-110

Amaliah, A., Sobari, E. & Mukminah, N. 2019. Rendemen dan Karakteristik Fisik Ekstrak Oleoresin Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) dengan Pelarut Heksan. Prosiding Industrial Research Workshop and National Seminar 10 (1): 273-278. DOI: https://doi.org/10.35313/irwns.v10i1.1399

Assagaf, M., Hastuti, P., Hidayat, C. & Supriyadi, S. 2012. Perbandingan Ekstraksi Oleoresin Biji Pala (Myrictica Fragrans Houtt) Asal Maluku Utara Menggunakan Metode Maserasi dan Gabungan Distilasi – Maserasi. Agritech 32 (3): 240-248. https://doi.org/10.22146/agritech.9608

Daryono, E. D. 2012. Oleoresin from Ginger Using Extraction Process with Ethanol Solvent. Jurnal Teknik Kimia 6 (1): 5-9

Erni, N., Kadirman & Fadillah, R. 2018. Pengaruh dan Lama Pengeringan Terhadap Sifat Kimia dan Organoleptik Tepung Umbi Talas (Colocasia esculenta). Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian 4 (1): 95-105. https://doi.org/10.26858/jptp.v1i1.6223

Erniati, Hamzah, B. & Priyanto, G. 2004. Kajian Teknologi Ekstraksi Minyak Lengkuas Merah (Alpinia galanga L. Swartz). Jurnal Agribisnis dan Industri 3 (2): 34-41. URI: http://repository.unsri.ac.id/id/eprint/12806

Fakhrudin, M. I., Anam, C. & Andriani, M. A. M. 2015. Karakteristik Oleoresin Jahe Berdasarkan Ukuran dan Lama Perendaman Serbuk Jahe dalam Etanol. Biofarmasi Journal of Natural Products Biochemistry 13 (1): 25-33. DOI: 10.13057/biofar/f130104

Farmakope Herbal Indonesia (FHI) Edisi II. 2017. Depertemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Guenther, E. 1948. The Essential Oils. Penerjemah: Ketaren, S. 1987. Minyak Atsiri. Jilid I. Universitas Indonesia. Jakarta

Gunawan, M. 1987. Peranan Pengeringan pada Minyak Jahe. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Yogyakarta

Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Universitas Indonesia. Jakarta

Putri, D. A. 2014. Pengaruh Metode Ekstraksi dan Konsentrasi Terhadap Aktivitas Jahe Merah (Zingiber officinale var rubrum) Sebagai Antibakteri Escherichia coli. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Bengkulu. Bengkulu

Utomo, J. & Cisilia, M. 2003. Pengaruh Ukuran Biji Pala dan Rasio Pelarut Terhadap Rendemen dan Mutu Oleoresin Biji Pala (Myristica fragrans Houtt). Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Katolik Parahyangan. Bandung

Widada, H. D. 1993. Pengaruh Pengecilan Ukuran Daun, Gagang dan Bunga Cengkeh Terhadap Rendemen dan Kualitas Minyak yang Dihasilkan. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Yogyakarta

Zega, S. 2022. Karakteristik dan Toksisitas Oleoresin Rimpang Lengkuas Hutan (Alpinia cf. mutica Roxb.). Skripsi. Universitas Palangka Raya. Palangka Raya.