Alat-alat Pemanenan Hutan

Pemanenan hutan merupakan kegiatan mengumpulkan hasil hutan baik itu yang bersifat kayu atau non-kayu. Umumnya istilah pemanenan hutan sangat identik dengan hasil kayu atau pohon. Pemanenan hutan biasanya dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat pemanenan. Hal ini dikarenakan alat pemanenan hutan dari waktu ke waktu mulai dikembangkan dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang lebih banyak dan memberikan keuntungan yang lebih besar serta mampu meminimalisir dampak lingkungan yang terjadi di daerah kawasan hutan.

Di Indonesia sendiri, alat yang digunakan pada kegiatan pemanenan hutan secara umum masih sederhana serta mengandalkan tenaga manusia atau hewan. Akan tetapi hasil yang diperoleh masih tergolong rendah dan memiliki kesulitan yang mumpuni terutama dalam mengeluarkan kayu yang memiliki ukuran besar dari dalam hutan dan kemampuan operasinya tidak dapat mencapai dalam skala besar dan luas meskipun biaya operasionalnya bisa dibilang tergolong murah.

Alat-alat pemanenan hutan terdiri dari kapak, baji, gergaji tangan, gergaji mesin, exvacator grapple, delimber, dan harvester.

Penjelasan singkat tersebut di atas merupakan acuan kenapa alat-alat pemanenan hutan selalu dikembangkan penggunaannya baik itu dari segi alat yang sederhana diubah menjadi modern maupun dari segi pengelolaannya terutama untuk meminimalisir penggunaan tenaga manusia karena pemanenan hutan tergolong sangat berat. Alat-alat pemanenan hutan yang digunakan dari sederhana sampai modern adalah sebagai berikut:

1. Kapak

Kapak merupakan salah satu alat sederhana yang bisanya digunakan untuk memanen hasil hutan berupa kayu. Kapak terdiri dari dua bagian yakni kepala kapak yang biasanya terbuat dari logam atau besi dan tangkai kapak yang terbuat dari kayu atau pun besi. Akan tetapi, yang umum ditemui adalah kapak dengan tangkai kayu. Hal ini dikarenakan penggunaan kayu sebagai tangkai kapak lebih ringan daripada menggunakan besi sebagai tangkainya sehingga tidak memberatkan pekerja.

2. Gergaji Tangan

Alat pemanenan hutan selanjutnya secara sederhana adalah gergaji tangan. Gergaji tangan merupakan alat yang dibuat dari tempaan besi (baja) berkualitas tinggi yang didesain sedemikian rupa sehingga alatnya menjadi keras, tegang, ringan dan memiliki elastisitas. Umumnya, gergaji tangan memiliki spesifikasi tersendiri. Gergaji dengan jenis pembelah biasanya memiliki jumlah gigi sepanjang 25 milimeter. Selanjutnya, di beberapa jenis gergaji lain memiliki spesifikasi tersendiri. Adapun jenis-jenis gergaji tangan terbagi menjadi 5 bentuk yaitu gergaji pembelah, gergaji pemotong, dan gergaji khusus (terdiri dari gergaji punggung, gergaji ekor burung, gergaji kurva, gergaji gerek, dan gergaji vinir).

Kunjungi juga: Pengertian, Tujuan, dan Perencanaan Pemanenan Hutan

3. Baji

Baji merupakan salah satu bagian alat bantu yang digunakan dalam kegiatan pemanenan hutan. Penggunaan baji biasanya dilakukan bersamaan dengan penggunaan kapak, gergaji tangan dan gergaji mesin untuk memotong pohon. Penggunaan ini dilakukan supaya gergaji atau kapak tidak terjepit pada batang pohon yang akan ditebang. Selain itu, baji bermanfaat untuk merobohkan pohon. Ruslim et al. (1999) menjelaskan bahwa baji termasuk ke dalam salah satu syarat teknis dalam penentuan arah rebahan pohon. Baji dapat dibuat dari berbagai benda baik itu berupa kayu, plastik, besi, maupun aluminium. Berdasarkan penggunaannya baik yang memiliki kekuatan paling bagus adalah baji yang berasal dari aluminium.

4. Gergaji Mesin

Gergaji mesin merupakan alat pemanenan hutan yang lebih modern dari gergaji tangan. Bisa dikatakan bahwa gergaji mesin diawali oleh gergaji tangan. Gergaji mesin juga dapat disebut sebagai gergaji rantai (chainsaw). Pradipta (2016) berpendapat bahwa chainsaw merupakan alat pemotong kayu yang memanfaatkan mesin untuk menggerakkan rantai gergajinya. Penggunaan chainsaw lebih efektif dalam meningkatkan hasil pemanenan karena waktu yang digunakan lebih sedikit dalam kegiatan pemanenan dalam satu batang pohon.

Penggunaan chainsaw sangat memudahkan dan meningkatkan efisiensi waktu penebangan. Umumnya, chainsaw pertama kali terbuat memiliki bodi yang cukup besar dan cukup berat. Seiring dengan perkembangan teknologi, desain chainsaw saat ini menjadi lebih ringan kecil, tahan gesekan, tekanan, tahan panas, bertenaga listrik, dan memiliki performa mesin yang lebih baik. Pengembangan pada mesin chainsaw bertujuan untuk menunjang produktivitas kerja, kenyamanan dan keselamatan kerja bagi operatornya (Matangaran, 2007).

5. Excavator Grapple

Excavator grapple merupakan alat berat dibidang kehutanan yang digerakkan oleh tenaga hidrolis. Alat ini memiliki mesin diesel dan berada pada bagian atas roda rantai. Alat pemanenan hutan jenis ini terdiri dari lengan alat, bahu alat, dan alat capit. Mesin ini juga kadang disebut sebagai mesin kepiting karena di bagian ujung lengan memiliki alat capit seperti capit kepiting. Alat ini juga dibantu dengan mesin chainsaw untuk melakukan pemotongan pada kayu.

Kunjungi jugaTujuan Pemanenan Hutan

6. Delimber

Alat pemanenan hutan yang satu ini merupakan alat yang dipasang pada excavator hidrolik yang dimanfaatkan untuk menghilangkan cabang-cabang yang terdapat pada pohon setelah ditebang.

7. Harvester

Harvester merupakan salah satu alan modern dalam kegiatan pemanenan hutan yang sering digunakan oleh perusahaan kayu. Seperti halnya dengan yang alat sebelumnya, harvester juga dipasang pada excavator dengan bagian ujung lengannya memiliki alat berbentuk capit yang berfungsi untuk menebang pohon, memotong kayu, mencincang kayu, dan mengupas kayu.

Pustaka:

Matangaran, J. 2007. Pengetahuan Tentang Chainsaw (Prinsip Kerja dan Pengoperasian). Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Pradipta, R. A. 2016. Risk Assessment pada Pekerjaan Menebang Kayu di Hutan Produksi (Studi Kasus pada Pengoperasian Chainsaw Perum Perhutani KPH Madiun). The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health 5 (2): 153-162.

Ruslim, Y., Hinrichs, A., & Ulbricht, R. 1999. Panduan Teknis Pelaksanaan Pembalakan Ramah Lingkungan. Laporan Kerja Sama Teknik Indonesia-Jerman. Departemen Kehutanan dan Perkebunan. Jakarta.