Mars Rimbawan | Sejarah dan Lirik Lagu

1. Sejarah Mars Rimbawan

Mars Rimbawan merupakan seruan rimba yang mengekspresikan kecintaan terhadap alam dan lingkungan. Seruan rimba diekspresikan melalui lagu yang memiliki makna terkait dengan alam dan lingkungan. Lagu yang berdurasi lebih dari 120 detik ini memiliki makna yang mendalam terutama pada kawasan hutan Indonesia. Makna tersebut tercitra disetiap lirik-liriknya.

Awalnya Mars rimbawan ini tercipta pada masa penjajahan Jepang tepatnya tahun 1942-1943. Pada tahun tersebut, siswa lulsan SKMT atau yang masih belajar di sekolah itu diliburkan ke daerahnya masing-masing. Sebaliknya siswa yang berasal dari daerah luar Jawa dikecualikan. Hal ini dikarenakan siswa yang dari Daerah Jawa sebenarnya bukan libur melainkan memiliki tugas untuk bergabung dengan instansi Kehutanan sebagai volontair. Adanya volontair diharapkan dapat membantu kegiatan dinas kehutanan setempat. Semua tenaga tersebut terjun ke lapangan di suatu Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

Di daerah Jatiketok Selatan (Beran) KPH Saradan berkumpul 5 orang yang sudah tamat MBS yaitu Notosoekotjo, Roestam, Moh Weiss, Soeherinomo, dan Banu Mhdi. Selanjutnya 5 orang dari CS dan siswa SKMA yang masih duduk di kelas II yakni Jahya Bahram, Hoetapea, Sitanggang, Ambarita, Siagian dan Soe. Pekerja disana yakni Mantri dan Sinder (KBKPH) bersama para volontair kemudian diperintahkan pergi ke Klino untuk menghadiri pertemuan pada Pesanggrahan Kehutanan yang letaknya di bukit Gunung Pandan dan yang berada di perbatasan 3 KPH yaitu Saradan, Nganjuk dan Bojonegoro.

Sejarah dan Lirik Lagu Mars Rimbawan merupakan seruan rimba yang mengekspresikan kecintaan terhadap alam dan lingkungan.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh semua pejabat dari ketiga KPH dengan tujuan menyatukan pendapat bagaimana mengelola hutan yang baik dan lestari, mempertahankannya dari bahaya kerusakan oleh rakyat dan bala tentara Jepang karena mereka menyadari penuh betapa pentingnya peranan hutan bagi kemakmuran bangsa. Pertemuan ini dilakukan secara sangat rahasia di tempat tersembunyi karena berbahaya sekali kalau sampai diketahui Jepang, bisa dituduh sebagai antek Belanda untuk melawan Jepang yang bisa dihukum mati oleh militer Jepang.

Suasana Klino waktu itu masih merupakan tempat yang sangat indah dan sejuk, dikelilingi oleh hutan alam jati yang lebat dengan kayu-kayu berukuran besar berdiameter 1,0-1,5 m, kehidupan fauna dan flora yang lengkap dan aman. Ada burung merak yang indah dan berbagai burung yang bunyinya bermacam-macam yang enak didengar. Ada harimau, babi hutan, kera, lutung, dan lain-lain. Juga ada belukar, rotan, liana dan sebagainya seperti gambaran hutan alam yang masih utuh di luar Jawa.

Suasana tersebut sangat disenangi olah kaum rimbawan baik yang tua maupun yang muda. Sewaktu rapat berlangsung di ruangan dalam, di luar anak-anak muda rimbawan bernyanyi-nyanyi dan membuat api unggun. Salah satu lagu yang dinyanyikan adalah Mars MBS yang lagunya sangat membangkitkan semangat tetapi syairnya berbahasa Belanda yang berisi rasa kebanggaan tetapi tidak berisi semangat perjuangan (patriotisme). Salah satu dari anak muda tersebut yaitu Jahya Bahram tidak terlalu bersemangat untuk menyanyi tetapi lebih banyak merenung dan terlihat gundah mengingat isi syair Mars MBS yang tidak memicu semangat kejuangan, bahasa Belanda sudah tidak akan lagi dipakai, keadaan hutan di Klino yang ideal, menyenangkan dan membanggakan yang perlu dipertahankan tetapi hubungan antara pegawai tinggi dan bawahan masih feodalistis, hal yang tidak disukai dalam alam merdeka. Kaum rimbawan harus mau bekerja keras bahu-membahu untuk dapat membangun dan memelihara hutan.

Akhirnya malam-malam dia menyendiri menulis syair perjuangan rimbawan dan lagu yang dipakai adalah Mars MBS ciptaan R. Notosoekatjo. Ketika rapat selesai diadakan pesta kecil dengan bernyanyi-nyanyi. Jahya Bahram menyampaikan teks nyanyian yang disusun dalam bahasa Indonesia kepada Notosoekotjo pencipta Mars MBS. Pada waktu teks dinyanyikan dengan baik para hadirin terperangah kagum termasuk dari Golongan Tua dan Pejabat, singkat kata para rimbawan sangat terkesan dengan nyanyian tersebut. Setelah kembali ke Saradan, Yahya Bahram menemui Notosoekotjo untuk menyempurnakan syairnya diserasikan dengan lagunya. Selanjutnya mengusulkan kepada Pak Soepardi Kepala Daerah Hutan Saradan untuk membantu menyebarluaskan nyanyian tersebut. Dalam perkembangannya lagu tersebut manjadi satu-satunya lagu perjuangan berbahasa Indonesia sebelum Indonesia merdeka terutama bagi kaum rimbawan, di samping lagu Indonesia raya yang waktu itu juga belum populer.

Penjelasan dari sejarah tersebut di atas sengaja pengunggah untuk tidak mengedit karena alur cerita yang perlu diketahui dan perlu untuk dikenal oleh rimbawan-rimbawan di seluruh Indonesia. Artikel ini ditulis oleh Adjis Herdjan dengan judul “Renungan Seorang Rimbawan Masa Lalu” yang termuat di dalam Jurnal Rimba Indonesia Volume 56 tahun 2015.

2. Lirik Lagu Mars Rimbawan 

Pengarang: Yahya Bahram

Penyusun Lirik: R. Noto Soekotjo

Hai Perwira Rimba Raya mari kita bernyanyi

Memuji hutan rimba dengan lagu yang gembira dan nyanyian yang murni.

Meski sepi hidup kita jauh di tengah rimba

Tapi kita gembira sebabnya kita bekerja untuk nusa dan bangsa.


[Ref]

Rimba Raya, Rimba Raya indah permai dan mulia,

maha taman tempat kita bekerja. (2x)


Rimba Raya maha indah, cantik, molek, perkasa,

Penghibur hati susah, penyokong Nusa dan Bangsa Rimba Raya mulia.

Disitulah kita kerja di sinar matahari,

gunung lembah berduri haruslah kita lalui dengan hati yang murni.


Pagi petang, siang malam Rimba kita berseru

Bersatulah, bersatu, tinggi rendah jadi satu pertolongan selalu.

Jauhkanlah sikap kamu yang mementingkan diri

Ingatlah Nusa Bangsa minta supaya dibela oleh kamu semua.

Pustaka:

Herdjan, A. 2015. Renungan Seorang Rimbawan Masa Lalu. Jurnal Rimba Indonesia Volume 56


Video Mars Rimbawan