Mengenal Hutan Primer dan Hutan Sekunder

Hutan primer dan hutan sekunder merupakan kawasan hutan yang dapat dilihat berdasarkan cara terjadinya. Kedua jenis hutan ini sangat erat kaitannya. Umumnya, kehadiran hutan sekunder berasal dari hutan primer. Hutan primer yang telah terjamah oleh manusia atau mengalami bencana alam di dalamnya sehingga rusak akan berubah menjadi hutan sekunder. Untuk lebuh jelasnya, simak tulisan di bawah ini.

1. Mengenal Hutan Primer

Pengertian dari hutan primer adalah kawasan hutan yang terbentuk secara alami dimana bagian dalam kawasannya belum pernah terjamah oleh manusia atau vegetasi di dalamnya belum pernah mengalami kerusakan atau penebangan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri selama puluhan bahkan ratusan tahun. Lebih lanjut ditegaskan bahwa hutan primer merupakan kawasan hutan yang terbentuk secara alami dan belum pernah disentuh oleh manusia selama 50 tahun terakhir.

Yang dimaksud dengan hutan primer adalah hutan yang terbentuk secara alami tanpa terjamah manusia. Hutan sekunder adalah hutan bekas tebangan manusia.

Wahyudi (2013) menjelaskan bahwa ekologis hutan primer masih sangat baik sehingga di berbagai penelitian sering menjadi rujukan untuk menilai perubahan dan tingkat degradasi hutan. Selain itu, tegakan yang berada di dalamnya sangat beragam dan komplek. Di dalam kawasan hutan primer dapat ditemui puluhan ribu jenis vegetasi dalam berbagai tingkat umur dan menyebar secara random dan berdampingan dalam strata yang berlapis.

Kawasan hutan primer biasanya sangat lebat dan selalu hijau disebabkan oleh banyaknya jenis dan ukuran vegetasi yang sangat tinggi. Di dalam hutan primer dapat ditemukan jenis-jenis pohon tertentu yang memiliki diameter sangat besar bahkan mampu mencapai ukuran diameter belasan meter. Hal ini dikarenakan pohon yang terletak di dalamnya sudah berusia ratusan tahun.

Kunjungi juga : Jenis-Jenis Hutan di Indonesia

Ekosistem hutan di dalam kawasan hutan primer membentuk siklus hara tertutup. Siklus hara tertutup merupakan siklus peralihan unsur hara dimana hara yang dikeluarkan lebih kecil daripada hara yang diserap. Siklus hara tertutup yang terdapat di dalam kawasan hutan primer memiliki kemampuan dalam menjaga serat mempertahankan kesuburan lapisan tanah bagian atas serta proses kehilangan unsur hara dapat diabaikan karena pembentukan kembali unsur hara tersebut imbang atau pun lebih cepat (McKinnon et al., 2000). Akan tetapi, di beberapa kasus di dunia unsur kalium sering tercuci lebih banyak.

Kawasan hutan primer di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami perubahan. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya deforestasi yang tidak bisa dikendalikan. World Resources Institute (WRI) mengungkapkan bahwa hutan primer di Indonesia pada tahun 2019 telah mengalami deforestasi seluas 324.000 hektar. Indonesia berada pada urutan ke tiga setelah Brasil dan Kongo dalam kehilangan hutan primer. Untuk itu, perlu adanya perhatian khusus dalam menjaga kawasan hutan primer terutama pada penyebab kerusakannya.

2. Mengenal Hutan Sekunder

Hutan sekunder merupakan kawasan hutan primer yang telah mengalami perubahan akibat pengaruh deforestasi. Singkatnya, hutan sekunder adalah bekas tebangan dari hutan primer. Hutan sekunder terbentuk sebagai akibat dari ulah manusia yang memanfaatkan vegetasi penyusun di dalamnya baik itu disengaja maupun tidak disengaja.

Peraturan Dirjen Planologi Kehutanan Nomor P.1/VII-IPSDH/2015 menegaskan bahwa hutan sekunder diartikan sebagai seluruh kenampakan hutan dataran rendah, perbukitan, dan pegunungan yang telah menampakkan bekas penebangan, termasuk darah perkebunan, semak belukar, atau lahan terbuka.

Kawasan hutan sekunder disusun oleh vegetasi yang tumbuh kembali dari bekas tebangan yang ada sehingga keadaannya lebih terbuka dan vegetasi penyusun di dalamnya tidak selebat pada kawasan hutan primer (Wahyudi, 2013). Umumnya, perkembangan hutan sekunder terdiri dari 4 fase yaitu fase permulaan, fase awal, fase dewasa, dan fase klimaks (Irwanto, 2006). Keempat fase ini memiliki ciri ciri berikut ini.

Fase permulaan ditandai dengan munculnya semak dan tumbuhan herba lainnya dalam waktu sangat cepat setelah pengundulan hutan. Akan tetapi, pada fase ini biomassa memiliki kemungkinan kecil untuk beregenerasi.

Fase awal ditandai dengan perubahan tumbuhan herba digantikan oleh jenis pohon pionir yang dicirikan dengan kerapatan kayu yang rendah, tumbuh cepat, cabang tumbuh sedikit, daun tumbuh dengan ukuran lebar dan sederhana, cepat berbunga, banyak dorman benih, siklus hidup yang pendek, sampai nilai biomassanya meningkat mulai di tahun ke lima.

Fase dewasa ditandai dengan tinggi pohon yang mencapai batas maksimal dan kemudian akan mati secara perlahan dan digantikan oleh pionir akhir yang relatif beragam. Selanjutnya, pada fase dewasa ini akan mengalami penurunan akumulasi biomassa secara berkelanjutan.

Kunjungi juga : Pengertian, Pengusulan, dan Penetapan Hutan Adat

Fase klimaks ditandai dengan matinya pionir akhir setelah mencapai usia 100 tahun dan berangsur tergantikan dengan jenis tumbuhan yang tahan terhadap naungan dan tumbuhnya berada di bawah tajuk. Keadaan ini secara perlahan akan menyeimbangkan keadaan sehingga memiliki kondisi yang stabil. Waktu yang semakin berjalan akan membuat kawasan hutan sekunder tersebut menjadi areal yang basah dan biomassa yang diperoleh sama dengan keadaan pada kawasan hutan primer sehingga setelah 50 tahun, hutan sekunder tersebut menjadi hutan primer.

Pustaka:

Irwanto. 2006. Dinamika dan Pertumbuhan Hutan Sekuder. Yogyakarta

MacKinnon K., Hatta, G., Hakimah, H., & Arthur, M. 2000. Ekologi Kalimantan. Seri Ekologi Indonesia, Buku III. Canadian International Development Agency (CIDA), Prenhallindo. Jakarta.

Wahyudi. 2013. Sistem Silvikultur di Indonesia (Teori dan Implmentasi). Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Palangka Raya.