Kayu Gubal dan Kayu Teras (Sapwood dan Heartwood)

Kayu merupakan salah satu kebutuhan terpenting manusia. Hal ini dikarenakan kayu memiliki berbagai manfaat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Biasanya kayu dihasilkan oleh pohon. Di dalam pohon terdiri dari berbagai jenis sifat kayu yang diantaranya adalah sifat-sifat kasar kayu. Di dalam sifat-sifat kasar kayu terdapat dua bagian lapisan kayu yakni kayu gubal (sapwood) dan kayu teras (heartwood). Penjelasan tentang kayu gubal dan kayu teras akan diuraikan sebagai berikut.

Di dalam sifat-sifat kasar kayu terdapat dua bagian lapisan kayu yakni kayu gubal (sapwood) dan kayu teras (heartwood). Penjelasan tentang kayu gubal dan kayu teras akan diuraikan sebagai berikut. Kayu gubal merupakan bagian dalam kayu di dalam pohon yang terdiri dari bagian silim yang masih hidup sehingga menjamin proses fisiologis yakni fungsi penyalur, penyimpan cadangan makanan, dan kekuatan mekanis dapat berjalan secara aktif (Pandit & Ramdan, 2002). Sunardi (1977) menjelaskan bahwa kayu teras merupakan bagian yang sudah mati di tengah batang kayu.

1. Kayu Gubal (Sapwood)
Kayu gubal merupakan bagian dalam kayu di dalam pohon yang terdiri dari bagian silim yang masih hidup sehingga menjamin proses fisiologis yakni fungsi penyalur, penyimpan cadangan makanan, dan kekuatan mekanis dapat berjalan secara aktif (Pandit & Ramdan, 2002). Searah dengan hal tersebut, Sunardi (1977) juga mendefinisikan kayu gubal adalah bagian kayu yang tetap hidup selama pohon masih melakukan proses kehidupannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kayu gubal atau juga dikenal dengan alburnum ini utamanya bertugas untuk mengalirkan air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dari tanah ke tajuk pohon. Di dalam kayu gubal terdapat sekitar 30-40% sel yang masih hidup dan beraktivitas

2. Kayu Teras (Heartwood)
Kayu teras merupakan sel-sel silim yang telah mati yang menyebabkan proses fisiologis  yakni sebagai penyalur dan penyimpan cadangan makanan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (Pandit & Ramdan, 2002). Searah dengan pengertian tersebut, Sunardi (1977) juga menjelaskan bahwa kayu teras merupakan bagian yang sudah mati di tengah batang kayu. Lebih lanjut dikatakan bahwa kayu teras yang juga ddapat dikatak sebagai truewood dan duramen ini memiliki tugas utama yakni kekuatan mekanis pada kayu serta tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan kehidupan pohon.

3. Proses Perubahan Kayu Gubal Menjadi Kayu Teras
Pengujian formasi kayu gubal dan kayu teras di dalam batang pohon cenderung dilihat lebih cepat karena adanya perbedaan warna yang lebih mencolok diantara keduanya. Warna kayu teras pada umumnya lebih gelap dari pada warna kayu gubal. Selain itu, kayu teras terletak di bagian dalam batang pohon, sedangkan kayu gubal terletak di luar batanng pohon (Pandit & Ramdan, 2002).

Proses perubahan kayu gubal menjadi kayu teras pada dasarnya disertai dengan pembentukan substansi organik yang bervariasi. Substansi organik tersebut lebih dikenal dengan zat ekstraktif, zat infiltrasi, dan tilosis. Tilosis merupakan protoplasma sel-sel parenkim yang tercampur dengan pati, kristal, resin, getah, dan zat lain di dalam kayu. Pembentukan tilosis pada kayu terjadi pada pembuluh kayu (vesel cell). Tilosis ini akan terbentuk di dalam lumen pembuluh yang sudah tidak dapat berfungsi. Awalnya, tilosis berasal dari sel jari-jari (parenkim)  aksial ke dekat pori yang masuk ke dalam sel pembuluh. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan tekanan antar lumen pori dengan lumen sel-sel parenkim yang berada di dekat pori (sel pembuluh). Selain itu, tilosis juga terbentuk akibat adanya penyakit pada kayu yakni kerusakan mekanis ataupun karena serangan cendawan (Pandit & Ramdan, 2002).

Kunjungi juga : Materi Lingkaran Tahun

Pembentukan kayu teras dimulai dari riap tumbuh tertua pada kayu di daerah dekat empulur. Oleh karena hal tersebut, kayu teras akan mengalami penurunan variasi yang dimulai dari pangkal hingga ke bagian ujung pohon. Kayu teras dengan kayu gubal memiliki jumlah yang relatif berbeda tergantung dari jenis pohonnya. Biasanya kayu teras selalu terdapat di dalam sebatang pohon pada umur tertentu tanpa adanya perbedaan warna (Pandit & Ramdan, 2002).

Perkembangan komponen bahan kimia di dalam sel silim biasanya ditandai  dengan perubahan warna. Namun, di beberapa jenis kayu, terang dan gelapnya suatu warna kayu tergantung pada zat-zat ekstraktif yang telah terendap sebelumnya (Pandit & Ramdan, 2002). 

Pustaka:
Pandit, I. K. N. & Ramdan, H. 2002. Anatomi Kayu: Pengantar Sifat Kayu Sebagai Bahan Baku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor

Sunardi. 1977. Ilmu Kayu. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta