Manfaat Pohon Kapur (Dryobalanops camphora Colebr)

Pohon kapur memiliki berbagai manfaat yang sangat penting bagi masayarakat. Pohon kapur dapat mengahasilkan balsam, damar, kamper (kapur barus), dan minyak atsiri.

Pada umumnya manfaat pohon kapur adalah sebagai obat-obatan sehingga memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Nilai ekonomi tinggi pada pohon kapur tidaklah berlebihan, karena hampir sebagian besar dari organ tumbuhan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Berikut penjelasan tentang manfaat dari pohon kapur.

Pohon kapur memiliki berbagai manfaat yang sangat penting bagi masayarakat. Pohon kapur dapat mengahasilkan balsam, damar, kamper (kapur barus), dan minyak atsiri. Pada umumnya manfaat pohon kapur adalah sebagai obat-obatan sehingga memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Nilai ekonomi tinggi pada pohon kapur tidaklah berlebihan, karena hampir sebagian besar dari organ tumbuhan ini dapat dimanfaatkan untuk keperluan manusia. Berikut penjelasan tentang manfaat dari pohon kapur.

1. Balsam
Balsam diperoleh dengan cara membuat takikan berbentuk lubang sedalam 4 inci yakni kurang lebih mulai dari kulit kayu sampai terkena kayunya, yang terletak di bagian pangkal pohon (6 kaki dari atas tanah). Dari hasil takikan tersebut akan mengalir secara perlahan-lahan cairan balsam dan sekitar 6 jam akan diperoleh balsam sebanyak setengah cangkir teh kecil. Kebanyakan orang dahulu memanfaatkan balsam sebagai pengganti minyak kayu putih untuk obat sakit gigi.

Kayu kapur yang diperoleh dalam ukuran sangat besar merupakan salah satu jenis kayu rimba terbaik untuk dipakai sebagai bahan bangunan rumah yang berada di bawah atap.

Penggunaan kayu tersebut sangat kurang cocok untuk bahan bangunan yang terkena langsung sinar matahari karena akan mudah retak- retak yang kemudian diikuti oleh proses pelapukan, misalnya untuk papan geladak jembatan (Heyne, 1987).


2. Damar
Damar, diperoleh dengan cara menakik-nakik bagian kulit batangnya kemudian akan dihasilkan sejenis damar berbau terpentin. Damar ini dimanfaatkan sebagai obat luka luar setelah mengalami proses pengeringan dengan cara meremas-remaskan di bagian kulit yang terluka (Heyne, 1987). 

3. Kamper (Kapur Barus)
Kamper diperoleh dengan cara sebagai berikut, pertama kali pohon kapur diseleksi (dipilih), selanjutnya dilakukan penebangan dan pemotongan batang menjadi bagian-bagian yang ukurannya lebih kecil. Kemudian potongan-potongan batang dibelah, setelah beberapa hari kemudian getah-getah yang keluar dari dalam batang mengalami pengeringan sehingga terbentuklah kristal-kristal kapur barus.

Beragam kemanfaatan kapur barus telah digunakan untuk keperluan manusia, diantaranya orang-orang China menggunakan kapur barus sebagai penguat (tonikum), penguat syahwat (aphrodisiacum), dan untuk radang mata (Heyne, 1987). 

Masyarakat di wilayah Mesir memanfaatkan kapur barus sebagai pengawet jasad manusia yang telah meninggal dengan cara melumurinya balsem (ramuan hasil campuran kapur barus dengan rempah-rempah dari Ophir) di sekujur tubuh mayat tersebut.

Sejarah mencatat bahwa jasad raja-raja Mesir sejak abad ke-7 sampai dengan abad ke-16 Masehi diawetkannya dengan menggunakan kapur barus, termasuk diantaranya mumi Ramses II dan Ramses III. Di samping itu oleh masyarakat Timur Tengah termasuk Arab dan Mesir kapur barus juga digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan obat-obatan dan parfum.


4. Minyak Atsiri
Minyak atsiri diperoleh melalui proses penyulingan dari bagian daunnya, minyak ini seringkali dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik dan parfum terutama oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang kefarmasian. Selain itu dari buahnya dapat dibuat manisan yang langsung dapat dimakan, bahkan berdasarkan catatan sejarah dengan cara memasak buah di atas perapian dapat dihasilkan minyak (Heyne, 1987).

Pustaka:
Heyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta