(Anatomi Kayu) Struktur Kayu Daun Jarum

Kayu daun jarum merupakan kayu yang memiliki struktur homogen. Kayu daun jarum juga sering dikenal dengan sebutan kayu lunak atau kayu konifer. Seperti halnya kayu daun lebar, kayu daun jarum juga memiliki struktur kayu. Akan tetapi, struktur kayu daun jarum cenderung berbeda dengan struktur kayu daun lebar. Struktur kayu daun jarum pada umumnya disusun oleh beberapa elemen jika dilihat dari arah orientasi. Elemen-elemen tersebut adalah elemen longitudinal yang dihasilkan oleh kambium fusiform dan elemen transversal dari hasil differensiasi kambium jari-jari. Selanjutnya struktur kayu daun jarum secara umum terdiri dari sel-sel yang bersifat prosenkim, sel-sel yang besifat parenkim, penoktahan silang jari-jari (crossfild), saluran damar normal, saluran luka, dan kristal (Pandit & Ramdan, 2002).

Kayu daun jarum merupakan kayu yang memiliki struktur homogen. Kayu daun jarum juga sering dikenal dengan sebutan kayu lunak atau kayu konifer. Selanjutnya struktur kayu daun jarum secara umum terdiri dari sel-sel yang bersifat prosenkim, sel-sel yang besifat parenkim, penoktahan silang jari-jari (crossfild), saluran damar normal, saluran luka, dan kristal (Pandit & Ramdan, 2002).

A. Sel-Sel yang Bersifat Prosenkim
Sel-sel yang bersifat prosenkim yaitu sel trakeida kayu daun jarum yang terbagi menjadi dua bagian yakni sel trakeida berdamar dan sel trakeida rantai.

1. Sel Trakeida Kayu Daun Jarum
Sel trakeida merupakan sel yang berbentuk panjang dengan ujung tertutup dan runcing. Sel trakeida kayu daun jarum umumnya sebagai penyusun yang lebih dominan dalam kayu daun jamur. Sekitar 90-95 persen kayu daun jarum disusun oleh sel trakeida. Untuk kegiatan identifikasi kelompok kayu sel trakeida dijadikan sebagai acuan karena memiliki tanda yang bervariasi. Sel trakeida kayu daun jarum memiliki ukuran yang bevariasi dimana ukuran terpendek adalah 1 mm dan tepanjangnya adalah lebih atau sama dengan 7 mm. Biasanya, rata-rata panjang sel trakeida adalah sekitar 3,5 mm (Pandit & Ramdan, 2002).

Diameter sel trakeida dapat dibedakan berdasarkan arahnya yakni radial dan tangensial. Diameter radial dikatakan sebagai tebal trakeida sedangkan diamter tangensialnya dikatakan sebagai lebar trakeida. Lebar sel trakeida memiliki ukuran rata-rata 30-45 mikron disebut kayu bertekstur sedang. Selanjutnya ukuran yang ada di atas rata-rata tesebut dikatakan bertekstur kasar dan ukuran di bawahnya dikatakan bertekstur halus (Pandit & Ramdan, 2002).

Bagian terpenting di dalam sel trakeida adalah noktah halaman. Noktah halaman terbentuk jika sel trakeida bertemu dengan sel trakeida jari-jari. Noktah halaman yang terletak pada dinding trakeida tersusun menjadi dua pola yakni pola berhadapan (opposite) dan pola berseling (alternate) (Pandit & Ramdan, 2002).

a. Sel Trakeida Berdamar
Sel trakeida berdamar merupakan sel trakeida yang terletak pada zona transisi kayu gubal ke kayu teras sehingga terjadi pengendapan zat-zat damar dalam lumen sel-sel trakeida yang berhubungan dengan jari-jari. Endapat tersebut umumnya berwarna coklat sampai kehitam-hitaman dengan sifat amorf. Pada bagian penampang melintang endapan tersebut terlihat mengisi penuh sel trakeida. Akan tetapi, kadang-kadang endapan tersebut hanya mengisi sebagian sel trakeida (Pandit & Ramdan, 2002).

b. Sel Trakeida Rantai
Sel trakeida rantai merupakan sel yang mengalami peralihan antara trakeida aksial dengan parenkim aksial. Sel trakeida rantai terletak pada jenis asaluran damar aksial atau parenkim aksial. Sel trakeida rantai umumnya memiliki ukuran yang pendek dan terletak pada dinding ujung yang datar. Noktah halaman pada sel trakeida rantai biasanya terdapat di dekat saluran damar atau jaringan tematik (Pandit & Ramdan, 2002).

B. Sel-Sel yang Bersifat Parenkim
Sel-sel yang bersifat parenkim sebagai struktur kayu daun jarum terbagi menjadi dua bagian yakni sel parenkim aksial dan sel parenkim jari-jari.

1. Sel Parenkim Aksial
Parenkim aksial merupakan sel yang memiliki bentuk kotak, persegi empat kecuali sel yang terdapat pada ujungnya dengan bentuk bulat atau runcing. Secara umum, sel trakeida memiliki dinding sel yang tipis daripada sel trakeida. Sel parenkim aksial tersusun secara vertikal dan lumennya berisi endapat berwarna gelap. Pada dinding sel parenkim aksial terdapat noktah sederhana (Pandit & Ramdan, 2002).


Pada struktur kayu daun jarum, sel parenkim aksial memiliki tiga penyebaran yakni diffuse (menyebar secara terpencar), menyebar membentuk garis tangensial pendek, dan menyebar membentuk garis tangensial panjang. Penyebaran sel parenkim ini biasanya digunakan sebagai acuan untuk mengenal jenis-jenis kayu daun jarum (Pandit & Ramdan, 2002).

2. Parenkim Jari-Jari (Jari-Jari Kayu)  
Jari-jari kayu merupakan bagian struktur kayu daun jarum yang memiliki bentuk garis tipis megrah ke empulur kayu apabila dilihat pada penampang melintang. Jari jari kayu yang berukuran lebar terbetuk akibat adanya saluran damar radial di dalam jari-jari sehingga membentuk jari-jari fusiform dengan bentuk gelondong (Pandit & Ramdan, 2002).

Berdasarkan macamnya, jari jari dapat disebut sebagai jari-jari satu macam dan dua macam. Jari-jari kayu satu macam artinya suatu jenis kayu hanya memiliki jari-jari sempit saja. Sedangkan jari-jari kayu dua macam artinya suatu jenis kayu memiliki jari-jari sempit dan jari-jari lebar. Ukuran jari-jari kayu pada umumnya dapat dilihat berdasarkan ukuran jumlah sel dan uuran mikron. Ukuran humlah sel terdiri dari tiga bagian yakni 1-10 sel disebut jari-jari kayu rendah, 10-15 sel disebut jari-jari kayu sedang, dan 15- lebih dari 60 sel disebut sebgai jari-jari kayi tinggi. Selanjutnya untuk ukuran mikro terdiri dari dua bagian yakni 15-30 mikron disebut sebagai jari-jari kayu rendah dan 500-1000 mikron disebut sebgai jari-jari kayu tinggi (Pandit & Ramdan, 2002). 

C. Pernoktahan Silang Jari-Jari (Crossfild)
Pembentukan noktah setengah halaman (halphordered) diawali dengan bergabungnya noktah sederhana pada dinding parenkim jari-jari dan noktah halaman pada dinding sel trakeida aksial. Selanjutnya pasangan noktah setengah halama akan terbentuk apabila parenkim jari-jari bersinggungan dengan trakeida aksial (Pandit & Ramdan, 2002). 

Tidak semua noktah dapat muncul pada dinding sel parenkim. Terkadang pada bagian dinding sel parenkim jari-jari di bagian daerah pernoktahan silang jari-jari tidak terdapat noktah sehingga noktah halaman pada dinding sel trakeida aksial sebagai penentu sistem pernoktahan. Pada bidang silang jari-jari terdapat 5 tipe pernoktahan yaitu fenestriform yang ditandai dengan noktah dan arpertur besar, pinoid yang ditandai dengan noktah lebih kecil dan halaman tidak tentu, piceoid yang ditandai dengan noktah berbentuk elips, arpertur sempit dan extended, cupressoid yang ditandai dengan noktah berbentuk elips, arpertur elip dan included, dan taxodioid yang ditandai dengan arepertur sangat besar, noktah berbentuk bulat sampai oval, serta memiliki ukuran yang lebih besar dari halaman noktah dan included (Pandit & Ramdan, 2002). 

D. Saluran Damar Normal
Saluran damar merupakan saluran yang dibatasi oleh sel-sel dengan ukuran yang sangat tipis. Sel pembatas tersebut dinamakan sebagai sel epitel yang berfungsi untuk mengeluarkan zat tertentu dari dalam saluran. Berdasarkan arahnya, saluran tersebut terdapat dua macam yakni saluran damar aksial yang sejajar denga sumbu batang dan saluran damar radial yang tegak lurus dengan sumbu batang. Saluran damar aksial secara umum memiliki ukuran yang lebih besar daripada saluran damar radial. Pembentukan saluran ini terjadi karena adnya pemisahan sel-sel epitel (schizogenous). Sel epitel yang membatasi saluran ini terkadang mengalami kehancuran dan pecah sehingga terjadinya penutupan dan menyebabkan terjadinya tilosoid. Pecahnya saluran ini terjadi saat perubahan kayu gubal menjadi kayu teras sehingga daluran ini mengalami perhentian fungsi (Pandit & Ramdan, 2002). 


E. Saluran Luka (Traumatik)
Saluran luka merupakan saluran yang terbentuk akibat luka-luka yang terdapat di dalam batang pohon. Saluran luka pada batang poho menyebar pada arah tangensial dan terbatas pada bagian kayu awal. Keberadaan saluran luka ini memiliki ketergantungan terhadap arahnya di dalam batang. Saluran luka radial terletak di dalam jari-jari dengan ukuran besar. Dinding sel epitel pembatas saluran luka memiliki ukuran yang tebal dan bernoktah. Pembentukan saluran luka di dalam batang kayu terbagi menjadi tiga bagian yakni secara schizogenous, lysigenous, atau secara bersamaan (Pandit & Ramdan, 2002). 

F. Kristal
Kristal pada kayu daun jarum dapat ditemukan, namun memiliki ukuran yang sangat kecil berbentuk kubus atau prisma. Kristal ini terletak di dalam lumen sel parenkim. Secara umum, kristal pada kayu daun jarum lebih sering terdapat pada parenkim aksial. Terdapatnya kristal di dalam kayu daun jarum mempengaruhi proses pengerjaan kayu. Alat-alat yang digunakan untuk mengerjakan jenis kayu yang memiliki kristal akan lebih cepat tumpul karena pengaruh kristal tersebut (Pandit & Ramdan, 2002).

Pustaka:
Pandit, I. K. N. & Ramdan, H. 2002. Anatomi Kayu: Pengantar Sifat Kayu Sebagai Bahan Baku. Yayasan Penerbit Fakultas Kehutanan IPB. Bogor