4 Sistem Agroforestri di Indonesia

Sistem agroforestri di Indonesia merupakan suatu sistem pertanian yang menggabungkan penanaman antara pohon dan satu atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan. Sistem agroforestri yang saat ini dikenal dan diketahui di kalangan masyarakat terbagi menjadi 4 bagian yaitu sistem strip rumput, sistem pertanaman lorong, sistem pagar hidup, dan sistem multistrata. Penjelasan keempat sistem agroforestri tersebut akan diuraikan di bawah ini.

1. Sistem Strip Rumput

Sistem strip rumput adalah suatu bentuk sistem pertanian menggunakan tanaman semusim yang dialihkan menjadi sistem agroforestri. Strip rumput merupakan barisan rumput yang ditanam sejajar dengan garis kontur yang memiliki ukuran lebar 0,5 sampai 1 meter dengan jarak antara setiap strip berkisar 4 sampai 10 meter.

Sistem agroforestri di Indonesia merupakan suatu sistem pertanian yang menggabungkan penanaman antara pohon dan satu atau lebih jenis tanaman dalam satu lahan.

Penggunaan sistem ini perlu diperhatikan beberapa hal. Misalnya dilakukan pada tanah yang berteras. Pada tanah yang berteras, rumput ditanami pada bagian pinggir teras. Selain itu, perlu juga memperhatikan rumput yang cocok. Tanah yang memiliki teras sangat cocok ditanami dengan rumput jenis Brachiaria decumbens, Brachiaria humidicola, Paspallum notatum, Pennisetum purpureum dan beberapa jenis rumput lainnya.

Pemilihan beberapa jenis rumput tersebut didasari dengan jenis rumput yang memiliki sistem perakaran yang rapat. Selain itu, jenis rumput tersebut juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Selain dari kedua alasan tersebut, kadang kadang juga dapat ditanami jenis rumput yang dapat menghasilkan minyak atsiri seperti Vetiveria zizanioides sebagai bahan dasar pembuatan kosmetik.

Keuntungan menggunakan sistem strip rumput pada kegiatan agroforestri adalah sebagai berikut:

  • Mengurangi aliran kecepatan air dan erosi tanah.
  • Membuat pinggir tanah yang berteras menjadi semakin kuat.
  • Tersedianya hijauan pakan ternak
  • Mampu mempercepat proses pembentukan teras tanah secara alami.

Akan tetapi, uraian keuntungan tersebut di atas juga tidak terlepas dari kelemahan yang diperoleh dari sistem strip rumput tersebut. Salah satu kelemahannya adalah lahan yan digunakan cukup luas yaitu sekitar 5 sampai 15 % dari total luas lahan yang digunakan.

2. Sistem Pertanaman Lorong

Sistem pertanaman lorong merupakan sistem pertanian yang memanfaatkan tanaman semusim untuk ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditata menurut garis kontur.

Kunjungi juga : Pengertian Agroforestry Menurut Para Ahli

Tanaman pagar pada sistem pertanaman lorong memiliki pengaruh yang sangat penting dalam pertumbuhannya. Hal ini disebabkan oleh bahan organik dan unsur hara yang diperlukan pada sistem pertanaman lorong seperti nitrogen berasal dari sumbangan tanaman pagar. Selain itu, tanaman pagar yang dimanfaatkan dalam sistem pertanaman lorong juga mampu meminimalkan laju aliran permukaan dan erosi.

Biasanya pada sistem ini, jenis tanaman yang cocok untuk digunakan sebagai tanaman pagar adalah jenis tanaman kacang-kacangan seperti Calliandra callothirsius, Flemingia congesta, Gamal, dan Lamtoro. Jarak antara baris tanaman pagar sekitar 4 sampai 10 m.

Selanjutnya pembuatan jarak antara barisan tanaman pagar dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni salah satunya adalah faktor lereng. Dalam hal ini, tanah tempat tanaman pagar yang memiliki lereng yang semakin curam maka jarak antara barisan tanaman pagar juga dibuat semakin dekat. 

Kelemahan sistem pertanaman lorong dengan memanfaatkan tanaman pagar adalah sebagai berikut:  

  • Tanaman pagar membutuhkan tempat 5 sampai 15% dari total luas lahan yang digunakan
  • Adanya persaingan penyerapan unsur hara dan bahan organik lainnya antara tanaman pagar dengan tanaman lorong.
  • Tanaman pagar terkadang mampu mengeluarkan cairan atau pun gas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman lorong. Biasanya lebih dikenal dengan pengaruh alelopati.
  • Membutuhkan tenaga kerja cukup banyak untuk kegiatan penanaman dan pemeliharaan tanaman pagar

3. Sistem Pagar Hidup

Sistem pagar hidup merupakan sistem pertanian dimana barisan tanaman perdu atau pohon ditanam pada titik batas kebun. Selanjutnya, sistem ini sangat bagus dan baik dilakukan pada lahan yang memiliki lereng curam. Hal ini dikarenakan tanaman pagar hidup akan membentuk jejaring yang bermanfaat bagi konservasi tanah. Selain itu, pangkal dari tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik atau sebagai hijauan pakan ternak.

Umumnya, tanaman yang digunakan sebagai tanaman pagar adalah jenis tanaman yang mudah ditanam dan bibutnya mudah diperoleh, misalnya Gamal dengan stek, Lamtoro, Kaliandra dengan biji, dan Turi. Selanjutnya pada jenis tertentu seperti Lamtoro gamal perlu memperhatikan jarak tanamnya. Jarak tanam yang digunakan adalah ± 20 cm. Rapatnya jarak jenis tanaman ini dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman yang tidak terlalu tinggi.

Kunjungi juga : Pengertian Hutan Menurut Para Ahli (Terlengkap)

Keuntungan yang diperoleh dari sistem pagar hidup adalah sebagai berikut:

  • Melindungi lahan/kebun yang di dalamnya terdapat tanaman pokok dari ternak
  • Mampu menyediakan hijauan pakan ternak meskipun dalam skala kecil
  • Menjadi sumber bahan organik dan hara tanah
  • Apabila sudah kering dan ditebang dapat dijadikan sebagai kayu bakar
  • Mengontrol kecepatan angin sehingga tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.

4. Sistem Multistrata

Sistem multistrata merupakan sistem pertanian dengan tajuk bertingkat yang tanaman di dalamnya terdiri dari tanaman bertajuk tinggi, sedang, dan rendah. Tanaman yang memiliki tajuk tinggi contohnya adalah kemiri dan mangga, tanaman dengan tajuk sedang contohnya gamal, kopi, dan lamtoro, serta tanaman dengan tajuk rendah contohnya rumput. Jenis tanaman tersebut ditanam di dalam satu lahan yang diatur sedemikian rupa sehingga persaingan penyerapan unsur hara dan bahan organik antara satu dengan lainnya dapat dihindari.

Keuntungan penggunaan sistem multistrata dalam pertanian adalah sebagai berikut:

  • Intensitas cahaya dapat dikurangi terhadap beberapa jenis tanaman yang membutuhkan naungan dalam pertumbuhannya.
  • Panen dapat dilakukan secara bergantian sehingga terhindar dari musim paceklik (tidak menghasilkan)
  • Mampu menghindari terjadinya erosi karena tanah selalu tertutup dengan tanaman.
Pustaka:

Agus, F. & Ruijter, J. 2004. Sistem Agroforestri (Sistem Multistrata Kopi dengan Berbagai Tanaman Pohon). World Agroforestry Centre.


Editor : Zega Hutan