Pengertian Resin Menurut Para Ahli

Resin yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu. Pemanfaatan resin di dunia saat ini banyak digunakan di berbagai bidang industri seperti kerajinan, obat-obatan, makanan, dan lain sebagainya.

Dewasa ini, penggunaan resin yang berasal dari berbagai jenis pohon sangat banyak diminati terlebih-lebih di daerah luar negeri. Salah satu pohon penghasil resin yang tidak asing lagi dengan harga yang fantastis adalah pohon gaharu. Hal ini dikarenakan harga gaharu perkilo bisa mencapai 1,5 miliar rupiah.

Resin yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu. Pemanfaatan resin di dunia saat ini banyak digunakan di berbagai bidang industri seperti kerajinan, obat-obatan, makanan, dan lain sebagainya. Beberapa pengertian resin yang pernah ditulis oleh beberapa ahli adalah sebagai berikut:

Sebelumnya, perlu diketahui apakah yang dimaksud dengan resin. Beberapa pengertian resin yang pernah ditulis oleh beberapa ahli adalah sebagai berikut:

1. Boer & Ella (2001)

Resin didefinisikan sebagai suatu senyawa organik atau campuran berbagai senyawa polimer alam yang disebut terpentin, berbentuk padat atau semi padat yang mudah larut di dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air.

Kunjungi juga : Jenis Jenis Pohon Penghasil Resin

2. Frial & McBride (2016)

Resin merupakan bahan yang bentuknya tidak dapat dideskripsikan dengan jelas (amorf) dimana susunannya terdiri dari bahan kimia alam yang tersusun atas bahan kimia alam yang berkelompok (kompleks). Umumnya, resin memiliki sifat keras atau kental, mampu larut di dalam pelarut organik seperti alkohol dan mengalami pelelehan jika dipanaskan.

3 Kartika, et al. (2017)

Pengertian resin adalah senyawa yang memiliki banyak ikatan rantai karbon (polimer) yang terdiri dari monomer atau polimer pendek dengan kelompok epoksida di kedua ujung.

4. Kuspradini, dkk. (2016)

Resin diartikan sebagai hasil eksudasi tumbuhan yang proses terjadi dan keluarnya secara alami atau pun buatan dengan bercirikan berbentuk padat, mengkilat, terlihat bening hingga kusam, rapuh, serta dapat meleleh dan lebih mudah untuk terbakar apabila terkena panas sehingga mengeluarkan asap dan aroma yang khas.

5. Langenheim (2003)

Pengetian dari resin adalah senyawa terpenoid dan fenolik yang tercampur dengan baik yang memiliki sifat mudah menguap (volatile) atau pun tidak mudah menguap (non volatile).

6. Michon, dkk. (2000)

Resin merupakan cairan getah yang bersifat lengket yang berasal dari beberapa jenis pohon hutan dan termasuk di dalam produk dagang yang sangat tua ari hutan alam.

7. Moko (2008)

Resin dapat diartikan sebagai salah satu hasil hutan bukan kayu yang nilai jualnya potensial serta mampu dijadikan sebagai sumber pendapatan oleh masyarakat dan juga penambah devisa negara.

8. Sanggarang (2004)

Pengertian resin adalah suatu bahan cair yang dapat memiliki kekuatan lebih keras melebihi kayu maupun besi apabila dicampur dengan bahan tertentu.

9. Usri, dkk. (2020)

Menurut tulisan Usri, dkk. (2020) pengertian resin adalah getah yang asalnya diperoleh dari berbagai jenis tumbuhan terutama jenis pohon konifer.

10. Tidak Diketahui Sumber

Resin diartikan sebagai suatu campuran yang berkelompok yang berasal dari tumbuhan dan insekta berupa eksudat, yang pembentukan nya terjadi pada saluran skizogen dan skolisigen pada batang tumbuhan.

Resin merupakan suatu bahan yang bersifat keras atau rapuh dan terlihat transparan yang bentuknya dapat meleleh apabila terkena panas (dipanaskan) sehingga menghasilkan campuran yang kompleks yang terdiri dari asam resin dan beberapa senyawa lainnya seperti ester, resin alkohol, resinotanol, dan resena.

Resin diartikan sebagai suatu zat berbentuk padat atau pun setengah padat yang tidak dapat larut dalam air tapi larut di dalam alkohol (pelarut organik lainnya) sehingga membentuk sabun dengan alkali.

Resin merupakan campuran yang kompleks dari berbagai senyawa seperti asam resinat, alkohol, ester, resinotannol, dan resene yang bebas dari zat lemas tetapi mengandung karbon dengan kadar yang tinggi sehingga kandungan oksigen berjumlah sedikit dan akan hangus apabila dibakar. 

Resin diartikan sebagai suatu senyawa kimia yang komplek, amorf, yang umumnya mengalami pembentukan di dalam rongga schizogen dan schizolizigen sehingga dapat disimpulkan bahwa resin sebagai hasil akhir dari suatu metabolisme yang terbentuk di dalam tanaman dan merupakan hasil oksidasi dari terpan.

Resin diartikan suatu senyawa bersifat keras yang tidak dapat larut di dalam air setelah pemurnian tetapi larut di dalam pelarut organik. Senyawa ini akan mengalami perubahan menjadi lembek apabila dipanaskan. Selanjutnya, apabila dibakar akan terbentuk nyala yang berasap.

Pengertian resin adalah bahan yang diperkuat serat yang sifatnya cair dengan viskositas yang rendah, dan akan mengalami pengerasan setelah terjadinya proses polymerisasi.

Pustaka:

Boer & Ella. 2001. Plant Resources of South East Asia 18: Plant Producing Ekudates. Prosea Foundation. Bogor

Frial & McBride. 2016. Extraction of Resins from Capsicum annum var. longum (Siling haba) for the Study of Their Potential Anti-Microbial Activities. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research 8 (3):117-127.

Kartika, dkk. 2017. Ekstraksi Minyak dan Resin Nyamplung dengan Campuran Pelarut Heksan-Etanol. Jurnal Teknologi Industri Pertanian 27 (2):117-127

Kuspradini, dkk. 2016. Pengenalan Jenis Getah (Gum, Lateks, Resin). Mulawarman University Press. Samarinda

Langenheim JH. 2003. Plant resins: Chemistry, Evolution, Ecology, and Ethnobotany. Timber Inc, Portland, Oregon, USA.

Michon, et al. 2000. The amar Agroforests of Krui. Chapter 2. Indonesia: Justice for Forest Farmers. In C. Zerner (Editor): People, Plants, and Justice. Columbia University Press

Sanggarang. 2004. Membuat Kerajinan Berbahan Fiberglass. Kawan Pustaka. Jakarta

Usri, dkk. 2020. Potensi Damar Indonesia Sebagai Bahan Baku Material Kedokteran Gigi. Jurnal Material Kedokteran Gigi 9 (1): 1-5

Moko, H. 2008. Menggalakan Hasil Hutan Bukan Kayu Sebagai Produk Unggulan. Informasi Teknis 6 (2): 1-5

Editor : Zega Hutan