Perawatan Tanaman (Cara Teknis Pemeliharaan)

A. Perawatan Tanaman
Perawatan tanaman merupakan suatu bentuk tindakan rutin yang menjadi konsekuensi dari arti memelihara tanaman. Perawatan tanaman merupakan serangkaian tindakan yang meliputi penyiangan, pendangiran, penjarangan, penyulaman dan pencegahan gangguan hama dan penyakit pada tanaman muda.

Perawatan tanaman merupakan suatu bentuk tindakan rutin yang menjadi konsekuensi dari arti memelihara tanaman. Perawatan tanaman meliputi kegiatan penyiangan tanaman, pendangiran, penyulaman, penjarangan, dan pemberantasan hama dan penyakit.

1. Penyiangan Tanaman
Penyiangan tanaman adalah pengendalian gulma yang bertujuan untuk menghambat serta mengulangi populasi gulma sehingga populasi tersebut menurun. Dalam hal ini, gulma yang diprioritaskan seperti alang-alang, rumput-rumputan dan liana. Selain itu, penyiangan diartikan sebagai cara pengendalian gulma yang sangat aman, efesien, murahn dan praktis jika penerapannya di lakukan pada suatu area yang tidak luas dan di daerah yang cukup banyak tenaga kerja (Moenandir, 1993).

Tujuan dilakukannya penyiangan pada suata tanaman adalah supaya terdapat ruang tumbuh tanaman pokok dan mengalami pertumbuhan yang lebih baik.  Penyiangan tersebut dilakukan dengan cara memberantas tanaman pengganggu. Tanaman perlu disiangi jika 40-50% tanaman tertutup oleh gulma atau tumbuhan liar. Penyiangan dilakukan pada waktu musim hujan atau musim kemarau. Ketapatan waktu penyiangan akan memberikan produktivitas yang lebih baik dari sebelumnya. Berdasarkan penelitian Puspita et al. (2017) dengan objek tanaman kedelai menjelaskan bahwa waktu penyiangan dan kultivar kedelai sangat berpengaruh pada tanaman dengan menunjukkan hasil yang berbeda nyata. Hasil yang diperoleh adalah terdapatnya peningkatan jumlah polong pada tanaman kedelai. Selanjutnya kegiatan penyiangan akan dihentikan apabila tanaman pokok dapat memeproleh cahaya matahari dan mampu bersaing terhadap gulma.

2. Pendangiran Tanaman
Pendangiran adalah kegiatan penggemburan tanah di sekitar tanaman pokok supaya aerasi tanah menjadi lebih baik dan memacu pertumbuhan tanaman. Barkelaar (2005) mendefinisikan pendagiran sebagai suatu kegiatan menggemburkan tanah menggunakan tangan atau alat-alat sederhana, untuk menggemburkan dan memeperbaiki aerasi tanah serta meminimalkan kompetisi antara tanaman pokok dengan gulma. Kegiatan pendangiran bertujuan untuk memberikan ruang udara yang cukup di dalam tanah, kehidupan mikroorganisme lebih baik dan pelapukan bahan organik tanah menjadi cepat (Pane & Rochmat, 1993).


Pendangiran merupakan salah satu kegiatan pengendalian mekanis terhadap gulma. Pendendalian mekanis ini tergolong menjadi dua bagaian yakni dengan menggunakan tangan atau alat. Proses pendangiran dilakukan dengan membalikkan tanah di sekitar perakaran tanaman tanpa mengambil gulma (Pratwi & Rahmiana, 2014).

3. Penyulaman Tanaman 
Penyulaman merupakan menormalkan jumlah tanaam dalam suatu kestuan luas tetentu sesuai dengan jarak tanam yang dilakukan dengan kegiatan penanaman kembali bagian-bagia yang kosong bekas tanaman mati/akan mati dan rusak (Oktaviyani, et al., 2017). Kegiatan penyulaman akan dilakukan ketika telah mengetahui tingkat pertumbuhan tanaman dengan baik melalui kegiatan pengontrolan. Dengan kegiatan penyulaman tersebut maka tanaman yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik. Kementerian Kehutanan (2012) mengemukakan bahwa tujuan dilakukannya penyulaman adalah untuk meningkatkan persen jadi tanaman dalam satu kesatuan luas tertentu sehingga memenuhi jumlah yang diharapkan. Selanjutnya, Arifin & Nurhayati mengemukakan bahwa penyulaman tanaman yang baik dilakukan pada saat musim penghujan.

4. Penjarangan Tanaman
Penjarangan merupakan suatu tindakan silvikultur terhadap tegakan hutan yang bertujuan untuk memperoleh tanda batas, tegakan tinggal yang sehat dan kualitas kayu yang baik pada akhir daur (Oktaviyani, 2016). Selanjutnya Kementerian Kehutanan (2012) mendefenisikan penjarangan sebagai tindakan pegurangan jumlah batang per satuan luas untuk mengatur kembali ruang tumbuh pohon dalam rangka mengurangi persaingan antar pohon. Selain mengatur ruang tumbuh pohon penjarangan juga dapat meningkatkan hasil panen tanaman serta fase pertumbuhan tinggi bebas cabangnya lebih baik dari tingkat semai sampai tingkat pohon. Tindakan penjarangan yang dilakukan pada fase tiang dan fase pohon lebih spesifik untuk mengarahkan produksi kuantitatif pada produksi kualitatif (Baker et al., 1979). Akan tetapi, tujuan tersebut dapat dicapai apabila kegiatan penjarangan yang dilakukan sesuai dengan waktu atau umur tanaman. Oktaviyani, et al. (2017) menjelaskan bahwa kegiatan penjarangan dilakukan apabila tanaman sudah berumur 5 sampai 10 tahun.

5. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Hama adalah organisme pengganggu tumbuhan yang disebabkan oleh serangga, tungau, serta mamalia. Sedangkan penyakit adalah organisme pengganggu tumbuhan yang disebabkan oleh mikroorganisme berupa jamur, bakteri, atau virus (Sulistyowati, et al., 2008). Keberadaan hama dan penyakit tentunya akan menimbulkan kerugian pada tanaman sehingga menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan jumlah produksi tanaman. Untuk itu perlu adanya kegiatan pemberantasan hama dan penyakit supaya produsi tanaman dapat meningkat.


Suratmo (1982) mengemukakan bahwa kegiatan pemberantasan hama dan penyakit dilakukan untuk menekan populasi hama dan penyakit supaya tidak menimbulkan kerusakan yang merugikan. Kegiatan pemberantasan hama dan penyakit meliputi pemupukan, pemangkasan, panen sering, sanitasi, serta pengendalian hayati dengan memanfaatkan organisme hidup (Sulistyowati, et al., 2008). Selanjutnya Sukanto (2008) menjelaskan bahwa kegiatan pemupukan, pemberian naungan, sanitasi, penyemprotan fungisida, dan eradiksi dapat menanggulangi serangan penyakit.

Pustaka:
Arifin H. S. & Nurhayati. 2000. Pemeliharaan Taman. Penebar Swadaya. Jakarta

Baker, F. S., T. W. Daniel, & J. A. Helms. 1979. Principles of Silviculture. McGraw-Hill Inc. New York

Berkelaar, D. 2005. Sistem Intensifikasi Padi (Sistem of Rice Intensification). Terjemahan: Indro Surono. http:// elsppat.or.id/ download/file/sriecho%20note. htm.

Kementrian Kehutanan. 2012. Siaran RRI Ke-6 Pemeliharaan Tanaman Hutan. Kementrian Kehutanan. Makassar

Moenandir, J. 1993. Pengantar ilmu dan pengendalian gulma. PT. Rajawali Press. Jakarta.

Oktaviyani, E. S. 2016. Identifikasi Jenis Tanaman Hutan Rakyat Dan Pemeliharaannya Di Hutan Rakyat Desa Kelungu Kecamatan Kota Agung Kabupaten Tanggamus. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Lampung

Oktaviyani, E. S., Indriyanto, & Surnayanti. 2017. Identifikasi Jenis Tanaman Hutan Rakyat Dan Pemeliharaannya Di Hutan Rakyat Desa Kelungu Kecamatan Kotaagung Kabupaten Tanggamus. Jurnal Sylva Lestari 5 (2): 63-77

Pane, H. dan Rochmat. 1993. Pengolahan Tanah dan Pengendalian Gulma pada Padi Pindah Tanam. Media Penelitian Sukamandi (14):29-36.

Pratiwi, H. & Rahmiana, A. A. 2014. Efektivitas Cara Pengendalian Gulma dan Pengaruhnya Terhadap Hasil Kacang Tanah. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi. Hal. 643-651
Puspita et al. 2017. Pengaruh Waktu Penyiangan Terhadapa Pertumbuhan dan Hasil Dua Kultivar Kedelai (Glycine max (L.) Merr.). Vegetalika 6 (3): 24-36

Sulistyowati, et al. 2008. Pengendalian Hama. dalam Panduan Lengkap Kakao Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suratmo F. G. 1982. Ilmu Perlindungan Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor