LILIN DAN SABUN BERBASIS MINYAK TENGKAWANG




Tengkawang merupakan nama buah dari beberapa jenis shorea yang memiliki potensi dalam menghasilkan minyak lemak yang dapat diproduksi menjadi berbagai macam produk dalam menunjang kebutuhan hidup manusia seperti bahan pembuatan sabun dan lilin. Tengkawang yang merupakan tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropis ini biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu penunjang ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

MAKALAH
ILMU TANAH HUTAN
LILIN DAN SABUN BERBASIS MINYAK TENGKAWANG





OLEH:
SEFEARIFIN ZEGA
CCA 117 006








Tengkawang merupakan nama buah dari beberapa jenis shorea yang memiliki potensi dalam menghasilkan minyak lemak yang dapat diproduksi menjadi berbagai macam produk dalam menunjang kebutuhan hidup manusia seperti bahan pembuatan sabun dan lilin. Tengkawang yang merupakan tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropis ini biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu penunjang ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarga.













FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat-Nya makalah yang berjudul “Lilin dan Sabun Berbasis Minyak Tengkawang dapat terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan sebagaimana mestinya.
Makalah ini disusun untuk memenuhi satuan kredit semester khususnya dalam mata kuliah Ilmu Tanah Hutan. Selain itu, penyusunan makalah ini ditujukan memberikan gambaran bagaimana pengaruh tanah dalam produktivitas yang dihasilkan oleh hutan. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun mendapat banyak bantuan, masukan, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu, melalui kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada para dosen pegampu mata kuliah Ilmu Tanah Hutan yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penyusun sehingga mampu menyelesaikannya tanpa ada keraguan.
Penyusun menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna sehingga perlu pendalaman lebih lanjut. Oleh karena itu, segala kritikan dan saran dari berbagai pihak yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah ini sangat diharapkan. Penyusun berharap semoga gagasan pada makalah ini dapat bermanfaat baik bagi dunia pendidikan ataupun hal yang lainnya.




Palangka Raya,           Desember 2018

 Penyusun



DAFTAR ISI
                                                                                          Halaman
KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI..................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................... iii
DAFTAR TABEL........................................................................................... iii
I.              PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2    Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3    Tujuan................................................................................................. 2
II.           PEMBAHASAN
2.1    Gambaran Umum Tengkawang.......................................................... 3
2.2    Pengambilan Tengkawang.................................................................. 5
2.3    Budidaya Tengkawang....................................................................... 6
2.3.1   Ekologi ..................................................................................... 6
2.3.2   Teknik Pembibitan..................................................................... 6
2.3.3   Teknik Penanaman.................................................................... 7
2.3.4   Prospek Ekonomi ..................................................................... 8
2.4    Pembuatan Minyak Dari Tengkawang................................................ 8
2.5    Produk Dari Minyak Tengkawang.................................................... 11
2.5.1   Lilin Berbasis Minyak Tengkawang........................................ 11
2.5.2   Sabun Berbasis Minyak Tengkawang..................................... 13
III.        PENUTUP
3.1    Kesimpulan....................................................................................... 15
3.2    Saran................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA



DAFTAR TABEL
No.                                                  Judul                                     Halaman
1. Penyebaran Tengkawang dan Statusnya di Indonesia.................................... 5


I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hutan Indonesia merupakan salah satu wilayah hutan terluas di dunia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkunagan KLHK, luas hutan (forest cover) Indonesia pada tahun 2017 adalah seluas 93,6 juta ha. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki iklim tropis dengan hutan yang sangat luas sehingga lebih banyak terdapat kehidupan dari berbagai macam spesies. Keadaan ini membuat Indonesia memperoleh hasil hutan kayu yang berlimpah. Di samping itu, hutan Indonesia juga memiliki berbagai macam hasil hutan bukan kayu yang komoditinya dapat mempengaruhi kehidupan manusia.

Pengambilan hasil hutan bukan kayu tidak memberikan dampak buruk pada kondisi lingkungan hutan sehingga hutan dapat terjaga dengan baik. Menurut Permenlhk No. 66 Tahun 2016, pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu untuk selanjutnya disebut HHBK adalah kegiatan untuk memanfaatkan dan mengusahakan hasil hutan berupa produk bukan kayu dengan tidak mengurangi fungsi pokoknya. Dengan demikian, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu ini merupakan suatu hal yang lebih efektif dalam mengurangi kerusakan hutan.

Sebagaimana diketahui masalah pemanfaatan dan pengembangan hasil hutan bukan kayu tidak semata-mata terletak pada pemilihan komoditi unggulan, namun upaya dalam memajukan komoditi tersebut. Selain itu, hal yang dibutuhkan dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu adalah dukungan data dan informasi tentang potensi dan pemanfaatan, pemungutan, pengolahan dan kualiats produk. Berbagai macam hasil hutan bukan kayu yang dapat dijadikan menjadi sebuah produk dapat mencangkup semua keanekaragaman biologi. Hasil-hasil hutan ini termasuk obat-obatan, makanan, getah, damar, tanaman hias, dan lemak. Berbagai macam hasil hutan bukan kayu yang dapat memberikan nilai ekonomi berasal dari tumbuh-tumbuhan, salah satunya adalah tengkawang.

Tengkawang merupakan nama buah dari beberapa jenis shorea yang memiliki potensi dalam menghasilkan minyak lemak yang dapat diproduksi menjadi berbagai macam produk dalam menunjang kebutuhan hidup manusia. Keberadaan jenis shorea penghasil tengkawang ini mulai dilindungi oleh pemerintah. Tindakan ini menujukan bahwa permintaan pasar akan jenis penghasil tengkawang lebih besar.

1.2 Rumusan Masalah
1.    Apa sajakah proses pembuatan minyak dari buah tengkawang?
2.    Apakah produk yang dapat dihasilkan oleh minyak tengkawang?
3.    Bagaimanakah proses pembuatan produk yang dihasilkan dari minyak tengkawang?
4.    Apa sajakah keuntungan dari pemanfaatan produk dari minyak tengkawang?

1.3 Tujuan
1.    Untuk mengetahui proses pembuatan minyak dari buah tengkawang.
2.    Untuk mengetahui produk yang dapat dihasilkan oleh minyak tengkawang.
3.    Untuk mengetahui proses pembuatan produk yang dihasilkan dari tengkawang.
4.    Untuk mengetahui keuntungan dari pemanfaatan produk dari tengkawang.


II. PEMBAHASAN
2.1 Gambaran Umum Tengkawang
Tengkawang adalah nama buah dan pohon dari genus shorea yang buahnya menghasilkan minyak nabati (Okta, 2017). Di dalam bahasa Inggris, buah tengkawang disebut dengan illipe nut atau Borneo tallow nut. Minyak yang dihasilkan dari jenis ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi (Sidabutar dan Lumangkun, 2013). Tengkawang merupakan salah satu tanaman hutan yang akan berbuah pada usia 8-9 tahun. Biasanya, pohon yang baru berbuah dapat menghasilkan 50-100 kg biji tengkawang kering. Tetapi, pada panen raya potensi biji tengkawang mengalami peningkatan yakni berkisar anatara 250-800 kg biji tengkawang kering. Sedangkan di luar panen raya, biji yang dihasilkan sama seperti pad awal berbuah yakni sekitar 50-100 kg biji (Andianto, 2013).

Genus shorea atau biasa disebut meranti termasuk dalam famili Dipterocarpaceae. Famili ini tumbuh dan mendominasi struktur tegakan di hutan hujan tropis, dari daratan rendah hingga pegunungan dengan ketinggian 1.750 mdpl. Penyebaran jenis shorea ini mencangkup wilayah yang cukup luas yakni meliputi wilayah Sri Lanka, India, Indochina, dan Malesia (Maharani, 2013). Karena jenis shorea merupakan jenis terbanyak dalam famili Dipterocarpaceae, maka para ahli botani mengelompokkannya ke dalam 11 kelompok yang terdiri dari beberapa jenis. Kelompok tersebut adalah Doona, Pentacme, Anthoshorea, Neohopea, Shorea, Brachypterae, Mutica, Ovalis, Pachycarpae, Rubella, dan Richetioides.

Di dalam penyebaran tersebut, beberapa jenis shorea dikenal sebagai jenis meranti penghasil tengkawang tidak kurang dari 17 jenis. Di Indonesia, ditemukan 15 jenis tengkawang yang meliputi dua daerah, yakni di Kalimantan terdapat 12 jenis dan di Sumatera terdapat 3 jenis. Jenis-jenis tersebut termasuk dalam 4 kelompok yakni Brachypterae, Mutica, Pachycarpae, dan Shorea yang dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Penyebaran Tengkawang dan Statusnya di Indonesia
Ket : K=Kalimantan, S=Sumatera, dan SK=Sumatera dan Kalimantan (sumber : Maharani, 2013)

2.2 Pengambilan Tengkawang
Tengkawang yang merupakan tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropis ini biasanya dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu penunjang ekonomi dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Masyarakat biasanya mengumpulkan atau memanen buah tengkawang yang terdapat di hutan. Disadari akan nilai ekonomi yang dihasilkan, masyarakat tersebut melakukan pemeliharaan kebung tengkawang (Fajri dan Fernandes, 2015).

Masyarakat lokal khususnya di Desa Penyeladi dan Desa Entuna Kabupaten Sanggau Kalimantan Barat telah memiliki pola pemanenan buah tengkawang yang meliputi waktu pemanenan serta pola pemanenan. Biasanya, pemanenan buah tengkawang dilakukan pada bulan Desember-Maret ddengan masa perbungaan dimulai pada bulan Nopember-Januari. Pemanenan yang dilakukan oleh masyarakat masih menggunakan cara yang tradsional yaitu dengan memungut buah tengkawang yang telah jatuh di lantai hutan. Pengambilan buah ini dilakukan dengan cara memilih buah yang masih bagus, sedangkan buah yang telah berkecambah akan dibiarkan tumbuh. Waktu pemungutan buah tengkawang dilakukan pada pagi dan sore hari. Buah yang memiliki kondisi yang bagus diutamakan untuk di jual (Fajri dan Fernandes, 2015).

2.3 Budidaya Tengkawang
Budidaya pada tanaman tengkawang meliputi bebrapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain ekologi, teknik pembibitan, teknik penanaman, serta prospek ekonominya.

2.3.1 Ekologi
Tengkawang biasanya tumbuh pada tipe curah hujan A dan B dengna ketinggian tempat sampai 1.300 m dpl. Jenis tanah tempat tumbuh adalah latosol, podsolik merah kuning, dan podsolik kuning. Saridan (2013), menyebutkan bahwa sebaran dari jenis tengkawang terletak pada tanah yang memiliki karakteristik tekstur lempung, lempung liat berpasir, samapai lempung berliat, warna kuning kecoklatan (10 YR 6/8), dan struktur gumpal.

2.3.2 Teknik Pembibitan
Pembibitan dimulai dengan melakukan perkecambahan langsung di dalam polybag ukuran 15 cm x 22 cm yang telah dilabel di persemaian tanpa melaui proses penyapihan. Setelah itu memberikan paranet untuk menjaga kondisi suhu tetap stabil sesuai dengan yang dibutuhkan dalam kegiatan perkecambahan.  Pada kondisi ini tetap dilakukan penyiraman secara rutin dan juga menerapkan penyiangan (Fambayun, R. A., 2014). Teknik pembibitan ini dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif. Namun, pada pembibitan generatif akan mengalami kendala dikarenakan pohon tengkawang tidak berbuah setiap tahun.

2.3.3 Teknik Penanaman
Penanaman tanaman tengkawang dimulai dari pembuatan plot dengan batasan yang jelas. Selanjutnya, dilakukan pembuatan lubang tanam berjarak 5 x 5 m denganmasing masing lubang diberikan pupk sekitar 1 kg untuk memacu pertumbuhan awal. Setalah hal tersebut dilakukan maka bibit tanaman didiami di lokasi penanaman. Hal ini dilakukan supaya bibit tersebut dapat menyesuaikan dengan keadaan lingkungannya. Setelah penyesuaian, bibit segera ditanam dengan memisahkan media dari polybag. Pada awal penanaman bibit dapat membutuhkan naungan ataupun tidak, tergantung dari sifat yang dimiliki jenis bibit tersebut.

Pertumbuhan semai dari jenis penghasil tengkawang apabila memberikan inokulum alami (ektomikoriza) dengan dosis yang tepat. Pemberian inokulum alami ini akan merangsang pertumbuhan tinggi dan jumlah cabang. Selain itu, penanaman jenis-jenis shorea penghasil tengkawang juga sangat perlu diperhatikan tempat tumbuh yang sesuai karena ketinggian tempat akan memberikan pengaruh optimal dalam pertumbuhannya (Fambayun, R. A., 2014).

2.3.4 Prospek Ekonomi
Jenis shorea penghasil tengkawang memiliki prospek ekonomi yang baik, baik itu pada bagian kayunya ataupun bukan kayu. Famili dari Dipterocarpaceae ini  mendominasi produksi kayu dari hutan alam baik di pasar dalam negeri maupun di pasar luar negeri. Lemak nabati yang dihasilkan biji tengkawang memiliki sifat yang khas sehingga memiliki harga lebih tinggi dibanding dengan minyak nabati lainnya (Fambayun, R. A., 2014).

2.4 Pembuatan Minyak Dari Tengkawang
Untuk menghasilkan minyak dari tengakawang memerlukan proses yang agak lama. Sebelum pengepresan, biji tengkawang harus kering terlebih dahulu. Secara tradisional, masyarakat lokal telah mengenal dua pengeringan biji tengkawang. Biji tengkawang dapat dikeringkan di bawah sinar matahari, namun proses pengeringan dengan cara ini sangat tergantung pada cuaca yang akan berubah setiap saat, sehingga cara ini memerlukan waktu yang lebih lama. Sedangkan pengeringan dengan sistem salai dilakukan dengan cara mengasapi buah tengkawang  di atas api. Cara ini memerlukan bahan baku dan harus selalu diawasi. Buah yang disalai harus sering dibolak-balik agar matangnya merata dan tidak gosong (Heri, 2013).

Setelah melakukan pengeringan, tahap selanjutnya adalah menumbuk biji tengkawang yang sudah kering sampai halus. Kemudian, bubuk tersebut dikukus. Selanjutnya, bubuk yang telah dikukus sebelumnya dimasukan ke dalam kantong anyaman, lalu mengepresnya dengan alat yang sederhana.

2.5 Produk Dari Minyak Tengkawang
Secara tradisional, minyak tengkawang digunakan untuk memasak, sebagai penyedap masakan dan ramuan obat-obatan. Dalam dunia industri, minyak tengkawang digunakan sebagai bahan pengganti lemak coklat, bahan farmasi dan kosmetika, juga dipakai dalam pembuatan lilin, sabun, margarin, pelumas dan sebagainya (Budi, dkk.,  2017).

2.5.1 Lilin Berbasis Minyak Tengkawang
Lilin adalah ester dari asam lemak berantai panjang denagn alkohol monohidrat beranati panjang atau sterol. Lilin berbasis tengkawang merupakan salah satu lilin alami komersial yang merupakan hasil sekresi dari biji tengkawang. Biji tengkawang yang diekstrak dengan melakukan pengempresan mengakibatkan bijinya menjadi hancur dan menghasilkan minyak. Minyak dari tengkawang ini yang dikenal dengan nama vegetable thllow atau illip nut memiliki prospek yang baik yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan lilin (Andianto, 2013).

2.5.2 Sabun Berbasis Minyak Tengkawang
Sabun adalah garam natrium dan kalium dari asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Biasanya, sabun memiliki wujud padat, lunak dan cair. Molekul-molekul dalam sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang dan ion. Bagian hidrokarbon ini bersifat hidrofilik. Ketika terkena air, molekul dengan  rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menghadap air sehingga mudah tersuspensi.

Minyak tengkawang memiliki kekhasan tersendiri dibanding minyak nabati lainnya. Dengan sifat yang khas tersebut, minyak ini dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan sabun. Pemilihan bahan ini dikarenakan minyak tengkawang memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi diantaranya adalah asam oleat dan asam arachidat. Asam oleat tergolong asam lemak esensial yang dibutuhkan oleh manusia karena penggunaanya sebagai bahan dasar sabun dapat meningkatkan kelembaban kulit. Hal ini tentunya dipengaruhi oleh kandungan bahan dasar yang digunakan. Hal ini juga didukung data dari hasil penelitian Raden dan Zulnely (2015), yang menyimpulkan bahwa asam oleat adalah kandungan yang mendominasi dari semun jenis lemak dalam tengkawang.




III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:
1.   Pembuatan minyak tengkawang secara tradisional meliputi proses pengeringan, penghalusan, pengukusan dan pengepresa, sedangkna pembuatan minyak secara modern meliputi proses pengeringan, pengecilan ukuran, serta pengempasan.

2.   Produk yang dapat dihasilkan dari bahan dasar minyak buah tengkawang yakni lilin, sabun, margarin, lipstik, dan coklat.

3.   Proses pembuatan lilin dari bahan dasar minyak tengkawang mwliputi pemanasan, pewarnaan, pencampuran, pendadukan serta pencetakan, sedangkan proses pembuatan sabunnya meliputi penimbangan, pelelehan, pencampuran, penyiapan stock, pewarnaan, dan pencetakan.

4.   Hasil kualitas yang tinggi dan bagus dalam pembuatan produk berbasis minyak dari tengkawang merupakan keutungan yang akan didapat oleh pengguna.

3.2 Saran
Ditinjau dari manfaatnya, disarankan supaya produk dari bahan tengkawang ini diperkenalkan pada seluruh manyarakat Indonesi