5 Alat Ukur Tinggi Pohon Terbaru

Menurut Mardiatmoko et al. (2014) tinggi pohon merupakan suatu jarak yang pendek antara satu titik dengan titik proyeksinya pada bidang dasar/horizontal. Tinggi pohon dapat dibedakan atas 2 (dua) macam yaitu tinggi pohon seluruhnya dan tinggi pohon bebas cabang. Alat ukur tinggi pohon pada dasarnya dibuat berdasarkan prinsip-prinsip geometri dan trigonometri. Beberapa alat ukur dengann ketelitian tertentu yang digunakan untuk mengukur tinggi pohon menurut Mardiatmoko et al. (2014) adalah sebagai berikut:

Alat ukur tinggi pohon merupakan suatu jarak yang pendek antara satu titik dengan titik proyeksinya pada bidang dasar/horizontal. Tinggi pohon dapat dibedakan atas 2 (dua) macam yaitu tinggi pohon seluruhnya dan tinggi pohon bebas cabang. Alat ukur tinggi pohon terbaru adalah sebagai berikut.

1. Christen Meter 
Christen meter merupakan alat yang terbuat dari kayu atau logam dengan skala untuk ketinggian dibuat berdasarkan prinsip geometri yang digunakan secara sederhana dengan menggunakan alat bantu berupa tongkat atau galah. Pengukuran tinggi pohon menggunakan alat ini dilakukan dengan cara si pengukur berdiri lebih jauh dari tinggi pohon yang diperkirakan supaya pangkal dan ujung pohon dapat dilihat melalui ujung alat. Hal ini dilakukan untuk menemukan jarak antara titik nol ke pangkal pohon dan titik akhir ke puncak pohon. Alat ini juga memiliki kelebihan yakni murah dan praktis untuk dibawa. Sedangkan kelemahan dari alat ini adalah penggunaannya sulit pada hutan campuran serta terbebani untuk membawa galah atau tongkat.

Kunjungi juga : Jenis-jenis Alat Ukur Diameter Pohon Terbaru 

2. Tongkat Ukur
Tongkat ukur merupakan alat yang berbentuk tongkat yang terbuat dari kayu ataupun dari logam dengan ujung yang runcing seerta bagian pangkal bengkok ataupun lurus sebagai tempat pemegang. Penggunaan alat ini dilakukan dengan memegang alat secara tegak lurus pada bidang horizontal setinggi arah mata. Kemudian mata melakukan pembidikan pada jarak yang telah diberi tanda sebelumnya. Lalu jarak tersebut diukur oleh pihak kedua.

3. Alat Ukur Lereng (Abney Level)
Mengukur pohon dengan menggunakan sistem trigonometri memerlukan pengukuran jarak datar dari pangkal pohon yang akan diukur tingginya ke tempat berdirinya si pengukur. Penggunaan alat ini dilakukan denngan meletakkan mata pada bagian tabung besar kemudian membidik ke puncak pohon/bebas cabang. Setelah terdapat penyesuaian alat tersebut dikunci, lalu membaca sudut a, kemudian kunci dibuka dan melakukan hal yang sama ke pangkal pohon, kemudian dikunci dan membaca sudut b. Terakhir  mengukur jarak datar dari tempat pengukuran ke posisi pohon yang diukur.

4. Clinometer (Suunto)
Penggunan alat ini sama dengan abney level namun memiliki bentuk yang berbeda. Cara kerja alat ini yakni dengan meletakkan mata pada lubang di bagian alat kemudian mengarahkan alat ini ke bebas cabang pertama/puncak pohon sesuai tujuan pengukuran. Apabila sasarannya telah berhimpit dengan garis horizontal (warna hitam) yang ada di dalam alat tersebut, maka bacalah besar sudut a pada skala yang memberi angka derajat yang berhimpitan dengan garis horizontal tersebut. Kemudian arahkan alat ke pangkal pohon dengan cara yang sama dengan ke puncak pohon kemudian baca sudut b. Ukur jarak berdiri ke sasaran dan cara perhitungan sama dengan Abney level.

Kunjungi juga : Rumus Mengukur Volume Pohon

5. Hagameter
Prinsip penggunaan dari alat ini sama dengan alat ukur Abney level maupun Clinometers. Penggunaan alat ukur ini dilakukan dengan cara mengukur jarak datar ke sasaran yang harus disesuaikan dengan jarak yang ada pada alat. Selanjutnya membidik sasaran ke puncak pohon/bebas cabang kemudian menekan tombol F. Lalu baca jarum yang menunjukkan skala (H) dan ini merupakan tinggi (T1). Setelah itu tekan tombol G untuk menggerakkan jarum. Bidik sasaran ke pangkal pohon, kemudian tekan tombol F dan baca skala yang menunjukkan (-T2) untuk daerah datar. Apabila pangkal lebih tinggi dari pengamat maka hasilnya (T2) dan apabila pengamat lebih tinggi dari bebas cabang/puncak pohon maka hasilnya adalah (-T1) dan (-T2).

Pustaka:
Mardiatmoko, G., Pietersz, J. H. & Boreel A. 2014. Ilmu Ukur Kayu dan Inventarisasi Hutan. BPFP. UNPATTI