Jenis-Jenis Metode Ekstraksi

Jenis metode ekstraksi yang dikembangkan untuk melakukan penelitian dewasa ini telah banyak diperkenalkan di kalangan masyarakat khususnya pada dunia pendidikan. Metode ekstraksi adalah salah satu metode yang dilakukan untuk pengujian pada kayu khususnya di bidang kehutanan dengan lebih spesifik untuk melihat rendemen suatu bahan.

Ekstraksi merupakan suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak (Baharudin & Taksirawati, 2009). Selanjutnya Mukhriani (2014) berpendapat bahwa ekstraksi adalah proses pemisahan suatu bahan dari campurannya menggunakan pelarut yang sesuai dengan bahan. Pendapat ini searah dengan Supomo et al. (2019) yang mengatakan bahwa proses penarikan kandungan kimia yang terdapat di dalam suatu bahan yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut. Pengertian lainnya menyebutkan ekstraksi adalah isolasi senyawa metabolit sekunder dari suatu tanaman (Febrina et al. 2015).

Jenis metode ekstraksi yang dikembangkan untuk melakukan penelitian dewasa ini telah banyak diperkenalkan di kalangan masyarakat khususnya pada dunia pendidikan. Metode ekstraksi adalah salah satu metode yang dilakukan untuk pengujian pada kayu khususnya di bidang kehutanan dengan lebih spesifik untuk melihat rendemen suatu bahan.

Adapun metode ekstraksi yang sering digunakan di dunia pendidikan adalah sebagai berikut.

1. Metode Destilasi Uap
Metode destilasi uap merupakan metode ekstraksi senyawa organik yang memiliki daya tahan pada suhu yang lebih tinggi. Umumnya, metode ini digunakan untuk mengetahui kandungan minyak atsiri dalam suatu bahan.

2. Metode Infundasi
Metode infundasi merupakan salah satu jens metode ekstraksi dengan mencari simplisia yang terdapat di dalam air dengan suhu 90oC dengan ukuran waktu selama 15 menit. Infundasi ini pada umumnya dilakukan untuk memperoleh suatu zat kandungan yang aktif yang telah larut di dalam air yang berasal dari bahan-bahan nabati. Ekstrak cair yang diperoleh dari metode ekstrak ini selanjutnya diuapkan di atas penangas air sampai ekstrak cair tersebut mengental (Wijaya at al., 2018). Ansel (2005) menambahkan ekstrak yang diperoleh dari hasil metode infundasi memiliki ketidakstabilan sehingga mudah tercemar oleh kuman. Oleh karena itu, penyimpanan ekstrak yang diperoleh dari metode infundasi ini tidak lebih dari satu hari satu malam.

Menurut Ansel (2005), metode infundasi memiliki kelemahan dan kelebihan. Adapun kelemahan tersebut yaitu:
  • Sebagian zat mengendap apabila sudah dingin
  • Zat atsiri menghilang
  • Tidak cocok untuk mengekstrak senyawa yang tidak tahan panas
Senyawa yang memiliki kandungan zat albumin menyulitkan penarikan zat bermanfaat. Sedangkan kelebihan dari metode ini adalah biaya operasional yang digunakan cukup rendah karena alat yang dipakai sederhana.

3. Metode Maserasi
Metode maserasi merupakan metode ekstraksi dengan merendam sampel menggunakan pelarut organik pada suhu ruangan (Darwis, 200). Metode ini biasanya digunakan pada bahan yang mengandung zat aktif mudah larut ketika diekstrak dan tidak mengandung benzoin. Waktu yang digunakan dalam metode ini sangat signifikan dengan kualitas ekstrak. Setyaningsih et al. (2006) menjelaskan bahwa waktu yang efisien menggunakan metode ini adalah 4-10 hari. Selanjutnya, metode maserasi akan lebih efektif jika melakukan pengadukan secara konsisten karena keadaan yang tenang akan menyebabkan perpindahan bahan aktif turun (Voight, 1995). Keuntungan dengan menggunakan metode ini adalah mudah menemukan peralatan yang dibutuhkan serta pengerjaan yang tidak sulit (Hargono, et al., 1986).

4. Metode Perkolasi
Metode perkolasi merupakan metode ektraksi dengan melewatkan pelarut organik pada sampel sehingga senyawa organik terbawa oleh pelarut (Darwis, 2000). Umumnya, sampel yang digunakan dalam metode ini dibasahi di dalam sebuah wadah silinder. Pelarutnya diletakkan di atas sampel sehingga dapat bercucuran secara perlahan. Kelebihan metode perkolasi ini yaitu sampel selalu teraliri dengan pelarut yang baru. Sedangkan kelemahannya yaitu pelarut akan sulit menjangkau seluruh sampel apabila tidak homogen (Mukhriani, 2014).

5. Metode Pelarut Panas Bertekanan (Pressurized Hot Solvent)
Metode pelarut panas bertekanan merupakan metode ekstraksi degan menggunakan pelarut tunggal maupun campuran pelarut yang memiliki perbedaan polaritas dengan tekanan tinggi untuk menjaga pelarut tetap cair dengan suhu yang digunakan maksimum 200oC dan minimum setara dengan suhu kamar (Ritcher et al., 1996). Kelebihan dari metode ini adalah pelarut yang digunakan lebih hemat dan waktu lebih cepat dari pada metode maserasi. Sedangkan kelemahannya yaitu senyawa dapat terdegradasi akibat suhu yang terlalu tinggi (Ramoko et al.). 

6. Metode Pengendapan oleh Pelarut
Metode pengendapan oleh pelarut merupakan metode ekstraksi dengan memanfaatkan heksan. Ekstrak yang dihasilkan dari metode ini dipanaskan dalam oven 50oC dengan waktu 30 menit. Kelemahan dari metode ini adalah seluruh senyawa tidak dapat terpisahkan.

7. Metode Pengepresan Mekanis
Metode pengepresan mekanis merupakan metode ektraksi minyak atau lemak berbahan dasar biji tumbuhan. Pengepresan dilakukan dengan dua cara yakni pengepresan hidrolik dan pengepresan ulir (Baharudin & Taksirawati, 2009).

8. Metode Rendering
Metode rendering merupakan metode ekstraksi dengan memanfaatkan panas untuk mengumpulkan protein dari dinding sel sampel serta memecahkan dinding sel tersebut sehingga minyak atau yang terkandung di dalam sampel mudah keluar (Baharudin & Taksirawati, 2009).

9. Metode Refluks
Metode refluks merupakan metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dan sampel yang telah mendidih dalam kurun waktu yang ditentukan dengan jumlah pelarut yang relatif konstan. Ekstrak cair yang diperoleh dari metode refluks selanjutnya diuapkan sehingga menghasilkan ekstrak kental (Rusdi et al.)

10. Metode Sokletasi (Soxhlet)
Metode sokletasi merupakan metode ekstraksi dengan memanfaatkan alat soxhlet supaya pelarut ekstrasksi yang digunakan selalu baru dan berkelanjutan dengan angka relatif pelarut konstan.

11. Metode Tekanan Dingin
Metode tekanan dingin merupakan metode ekstraksi dengan memanfaatkan pelarut tanpa adanya degradasi suhu pada senyawa yang dijadikan sampel. Kelebihan dari metode ini adalah senyawa mudah larut dan terekstraksi (Ramoko et al.). 

12. Metode Ultrasonik (Ultrasound)
Metode ultasonik merupakan metode ekstraksi dengan memanfaatkan sinyal yang memiliki frekuensi tinggi (ultrasound). Pemberian tekanan pada sampel dilakukan dengan memasukkan sampel ke dalam ultrasonik sehingga sel sampel yang mengalami tekanan menghasilkan rongga. Metode ini dapat menigkatkan kelarutan senyawa dalam pelarut akibat rusaknya sel (Mukhriani, 2014).

Pustaka:
Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Ibrahim, F. Edisi IV. UI Press. Jakarta

Baharudin & Taksirawati, I. 2009. Buku Ajar Hasil Hutan Bukan Kayu. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanudin.

Darwis, D. 2000. Teknik Dasar Laboratorium Dalam Penelitian Senyawa Bahan Alam Hayati, Workshop Pengembangan Sumber Daya Manusia Dalam Bidang Kimia Organik Bahan Alam Hayati FMIPA Universitas Andalas. Padang

Febrina, L., Rusli, R., & Muflihah, F. 2015. Optimalisasi Eksraksi dan Uji Metabolit Sekunder Tumbuhan Libo (Ficus Variagate Blume). J. Trop. Pharm. Chem 3 (2): 74-81

Hargono D. 1986. Sediaan Gelanik. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta

Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif. Jurnal Kesehatan 7 (2): 361-367

Ramoko et al. Review: Pengembangan Metode Ekstraksi Senyawa Azadiraktin Dan Analisis Menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (Kckt). Farmaka 16 (2): 117-124

Ritcher, BE. et al. 1996. Accelerated solvent extraction: A technique for sample preparation, Analytical Chemistry. 1033–1039

Rusdi et al. Perbandingan Metode Ekstraksi terhadap Kadar Flavonoid Total dan Aktivitas Antioksidan Batang Boehmeria virgata. Jour Pharm. Sci 1 (1): 1-24

Setyaningsih, D. Rusli, MS. Melawati & Mariska, I. 2006. Optimasi Proses Maserasi Vanili (Vanilla planifolia Andrews) Hasil Modifikasi Proses Curing. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan 17 (2)

Supomo, Warnida, H., & Sahid B. M. 2019. Perbandingan Metode Ekstraksi Ekstrak Umbi Bawang Rambut (Allium Chinense G. Don.) Menggunakan Pelarut Etanol 70% Terhadap Rendemen dan Skrining Fitokimia. Jurnal Riset Kefarmasian Indonesia 1 (1): 30-40

Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi, diterjemahkan oleh Soendari Noerono. Gajah Mada University Press. Yogyakarta

Wijaya, H., Novitasari, Jubaidah, S. 2018. Perbandingan Metode Ekstraksi Terhadap Rendemen Ekstrak Daun Rambi Laut. Jurnal Ilmiah Manuntung 4 (1): 79-83