Faktor yang Mempengaruhi Pemanenan Kayu

Pemanenan kayu merupakan suatu kegiatan memungut hasil hutan berupa kayu baik itu di hutan alam maupun di hutan produksi. Bedanya, pemanenan kayu di hutan alam dapat dilakukan dengan langsung memanen kayu yang berasal dari hutan setelah mendapat ijin dari pemerintah. Sedangkan pemanenan kayu di hutan produksi dilakukan setelah usia pohon yang telah ditanam beberapa tahun sebelumnya telah mencukupi untuk dilakukan pemanenan.

Selain dari usia, pemanenan kayu juga dapat dilakukan apabila produktivitas yang dihasilkan oleh hutan mampu memberikan keuntungan bagi pengelolanya. Produktivitas pemanenan kayu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan produk yang dihasilkan. Produktivitas dalam suatu pemanenan kayu memiliki kaitan yang sangat erat dengan biaya yang digunakan dalam pemanenan. Suhartana et al. (2013) menekankan bahwa produktivitas yang semakin besar akan membuat biaya pemanenan semakin rendah, begitu juga sebaliknya.

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemanenan kayu menurut Gautama et al., (2019) adalah ukuran kayu, lama beroperasi, volume kayu, tenaga kerja, produksi persatuan waktu, fasilitas yang telah ada, peraturan yang ada, kebijaksanaan pemilik hutan, dan pemuliaan tegakan

Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pemanenan kayu menurut Gautama et al., (2019) adalah ukuran kayu, lama beroperasi, volume kayu, tenaga kerja, produksi persatuan waktu, fasilitas yang telah ada, peraturan yang ada, kebijaksanaan pemilik hutan, dan pemuliaan tegakan

Faktor-faktor tersebut di atas merupakan faktor yang berasal dari dalam dan dari luar kawasan hutan. Faktor tersebut akan dijelaskan secara singkat di bawah ini:

1. Ukuran Kayu

Faktor pertama yang harus diperhatikan dalam pemanenan kayu di dalam kawasan hutan adalah ukuran hasil. Hal ini dikarenakan ukuran hasil yang diperoleh saat pemanenan sangat erat kaitannya dengan metode serta alat transportasi yang digunakan untuk mengangkutnya. Biasanya, hasil pemanenan kayu terbagi menjadi dua ukuran yakni kayu dengan diameter kecil dan diameter besar. Pengangkutan kayu berdiameter kecil dapat dilakukan dengan menggunakan truk yang ukurannya kecil. Sedangkan kayu yang memiliki diameter besar harus diangkut dengan menggunakan logging truck dan trailer

2. Lama Beroperasi

Faktor ketiga yang mempengaruhi pemanenan kayu adalah jangka waktu beroperasi. Umumnya, jangka waktu beroperasi sebuah perusahaan terbagi menjadi dua bagian yakni sementara atau hanya beberapa tahun saja dan operasi selamanya. Jangka waktu beroperasi beberapa tahun sebaiknya menggunakan bangunan serta sarana prasarana yang tidak permanen. Hal ini dikarenakan sarana prasarana permanen membutuhkan investasi yang tinggi. Sebaliknya, sarana prasarana dapat dipermanenkan ketika jangka waktu operasi dilakukan selamanya oleh suatu perusahaan. 

3. Volume Kayu

Volume kayu merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi pemanenan kayu di dalam kawasan hutan. Perhitungan volume kayu yang dihasilkan dari proses pemanenan dilakukan setiap hektar kawasan hutan. Volume kayu ini sangat erat kaitannya dengan transportasi pengangkutan. Pengangkutan kayu dengan volume tinggi dalam setiap hektar kawasan disarankan menggunakan rel. Sedangkan, pengangkutan kayu dengan volume rendah dalam setiap hektar kawasan sebaiknya menggunakan truck.

Kunjungi juga : Perencanaan Pemanenan Kayu

4. Tenaga Kerja

Pemanenan kayu umumnya dilakukan di dalam kawasan hutan dan jauh dari jalan umum atau tempat penduduk di sekitar kawasan hutan. Untuk itu, di dalam kawasan hutan perlu dibuatkan perumahan sebagai tempat tinggal tenaga kerja. Tenaga kerja yang melakukan pemanenan umumnya memiliki catatan medis yang sehat serta teknik dan ketrampilan dalam menggunakan mesin alat pemanenan. Perumahan sebagai tempat tenaga kerja dapat dibuat sesuai dengan bentuk dan keinginan pemilik kawasan hutan.

5. Produksi Persatuan Waktu

Faktor selanjutnya adalah produksi persatuan waktu. Produksi satuan perhari diperhitungkan apabila bahan baku yang dibutuhkan sangat tinggi sehingga pengangkutan yang lebih efisien dengan menggunakan lokomotif. Lokomotif merupakan bagian dari kereta yang digerakkan dengan tenaga listrik sehingga lebih cepat sampai pada tujuan. Sedangkan, permintaan bahan baku yang rendah dapat dilakukan perhitungan dengan satuan tahunan serta lebih pengangkutan lebih efisien menggunakan truck.

6. Fasilitas yang telah ada

Pemanenan kayu di dalam kawasan hutan juga dipengaruhi oleh fasilitas yang telah ada. Fasilitas yang dimaksud adalah seperti alat-alat dan metode yang digunakan. Terkadang suatu perusahaan kayu melanjutkan perusahaan sebelumnya sehingga alat dan metode yang digunakan sama. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir pengeluaran dalam hal biaya perawatan dan pengoperasian fasilitas yang telah ada. Akan tetapi, jika alat yang telah ada dapat mempengaruhi produktivitas kayu atau tidak efisien lagi maka perlu membeli alat yang baru. 

7. Peraturan yang ada

Selanjutnya, faktor yang ketujuh adalah dengan memperhatikan peraturan yang ada pada daerah setempat. Sebagai contohnya, pengangkutan kayu direncanakan akan dilakukan dengan memanfaatkan sungai sehingga kayu log diturunkan ke sungai. Akan tetapi, pemerintah daerah tidak mengijinkan untuk mengangkut kayu lewat sungai dengan alasan tertentu seperti sering dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sehingga tidak bisa tercemar.

8. Kebijaksanaan Pemilik Hutan

Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang diberikan oleh negara kepada para pengusaha tentunya selalu diawasi oleh pemerintah. Untuk itu, dalam mengelola kawasan hutan perlu memperhatikan manfaat lainnya selain kayu. Manfaat yang dimaksud adalah seperti fungsi hutan yang juga dapat digunakan sebagai pariwisata, perlindungan flora dan fauna, penggembalaan, pengatur tata air, dan fungsi serta manfaat lainnya.

Kunjungi juga : Materi Sifat-Sifat Umum Kayu

9. Pemuliaan Tegakan

Faktor terakhir yang mempengaruhi pemanenan kayu adalah pemuliaan tegakan. Pemuliaan tegakan maksudnya adalah melakukan penerapan prinsip silvikultur sehingga mampu meningkatkan produktivitas selanjutnya dalam pengelolaan hutan. Dengan adanya pemuliaan tegakan diharapkan hasil yang diperoleh dari tebangan pada siklus selanjutnya lebih tinggi atau setidaknya sama dengan yang sebelumnya. Kegiatan pemuliaan tegakan ini contohnya adalah dengan menebang jenis kayu yang tidak komersial.

Pustaka:

Gautama, I., Dassir, M., Mujetahid, A., & Dalya, N. 2019. Pemanenan Hutan Rakyat (Teknik Pembalakan Berdampak Rendah). Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar

Suhartana, S., Yuniawati, Y., & Dulsalam, D.2013. Biaya dan Produktivitas Penyaradan dan Pembuatan/Pemeliharaan Kanal di HTI Rawa Gambut di Riau dan Jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 31 (1): 36-48. DOI 10.20886/jphh.2013.31.1.36-48