Persyaratan Mutu Kayu lapis

Persyaratan mutu kayu lapis di Indonesia pada dasarnya ditentukan oleh beberapa faktor penting yang sangat erat kaitannya dengan kualitas kayu lapis yang akan diolah. Persyaratan tersebut terdiri dari persyaratan umum, persyaratan khusus, persyaratan keteguhan rekat, serta persyaratan kekuatan dan keawetan.

Beberapa persyaratan yang telah dituliskan seperti diatas tentunya di setiap negara memiliki perbedaan standarisasi kayu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kayu yang dimiliki oleh negara tertentu. Selanjutnya, persyaratan mutu kayu lapis di atas yakni kekuatan dan keawetan tidak dipergunakan oleh negara secara umum. Persyaratan tersebut hanya berguna bagi beberapa negara termasuk Indonesia.

Persyaratan mutu kayu lapis di Indonesia pada dasarnya ditentukan oleh beberapa faktor penting yang sangat erat kaitannya dengan kualitas kayu lapis yang akan diolah. Persyaratan tersebut terdiri dari persyaratan umum, persyaratan khusus, persyaratan keteguhan rekat, serta persyaratan kekuatan dan keawetan. Kayu lapis memiliki ketebalan yang bervariasi, begitu pula jenis bahannya. Ada jenis kayu yang memiliki kekuatan tinggi, ada pula jenis kayu yang memiliki kekuatan rendah. oleh karena itu, kayu lapis khusus konstruksi sangat diperlukan kekuatan ini. Pemakaian kayu lapis sebagai bahan bangunan atau pun tujuan kegunaan lainnya dengan sifat-sifat kayu yang dibuat, memberi kemungkinan terjadinya serangan-serangan perusak kayu, baik berupa bubuk kayu kering maupun serangga lainnya.

A. Persyaratan Umum Kayu Lapis
Persyaratan umum kayu lapis meliputi ukuran (tebal, panjang dan lebar) siku, kadar air, dan keadaan finir penyusun kayu, baik finir luar maupun finir dalam. Bagian ukuran dalam persyaratan kayu lapis tersebut terbagi dari dua bentuk yakni plus dan plus minus. Misalnya, kayu lapis standar asia hanya mengenal toleransi plus bentuk ukuran panjang dan lebar yaitu +1,58 mm untuk panjang +2,38 mm bentuk lebar. Adapun untuk tebal dikenal dengan +0,40 mm untuk tebal kurang dari 12 mm dan +0.80 untuk tebal diatas 12 mm.

Pada standar inggris dan indonesia dikenal dengan standar toleransi plus atau minus. Misalnya, standar indonesia +- 3 mm untuk panjang lebar +- 5% untuk tebal sampai 6 mm dan -+ 3% untuk tebal diatas 6 mm. Pada standar asia, kadar air kayu lapis saat diproduksi dari pabrik sekitar 13%, sedangkan menurut standar inggris sekitar 8% - 12%. Untuk indonesia ditetapkan kadar air sebesar 14%. Keadaan finir penyusun standar inggris tebal finir inti tripleks (3 lapis) maksimal 60% dari tebal tripleks. Sedangkan standar asia tidak mengenal adanya standar maksimal ketebalan. Semua cacat alami diperkenankan untuk finir belakang asalkan tidak mengganggu pemakaian kayu lapis tersebut.

B. Persyaratan Khusus Kayu Lapis
Persyaratan khusus terhadap mutu kayu lapis terdiri dari dua keadaan yakni keadaan finir luar dan keadaan finir dalam. Selanjutnya dijelaskan bawa keadaan finir luar terdiri atas finir muka dan finir bagian belakang. Lebih lanjut dikatakan bahwa cacat yang terdapat pada kedua keadaan ini dapat disimbolkan dengan A, B, C, dan sampai seterusnya. Mutu A lebih baik dari mutu B dan seterusnya. Di indonesia ada 4 macam mutu finir luar yaitu A, B, C ddan D.

C. Persyaratan dan Keteguhan Rekat Kayu Lapis
Keteguhan rekat pada kayu lapis memberikan gambaran baik dan buruknya perekat yang mengikat finir penyusun kayu lapis. Jika ikatan perekat tidak baik atau tidak kuat, maka finir penyusun kayu lapis akan mudah lepas. Dengan adanya keteguhan rekat yang berbeda beda, maka dapat dibedakan menjadi dua golongan jenis kayu lapis yaitu, kayu lapis tipe eksterior dan kayu lapis interior. Kayu lapis tipe interior adalah kayu lapis yang memiliki ikatan perekatan tahan terhadap pengaruh cuaca luar, misalnya pada kamar mandi.  Adapun kayu lapis interior memiliki ikatan perekatan hanya tahan terhadap pengaruh cuaca dalam ruang. Berhubung keadaan cuaca luar dan dalam memiliki keanekaragaman, maka kayu lapis eksterior dapat dibagi menjadi dua yaitu tipe eksterior 1 dan tipe 2. Sifat tipe eksterior 1 tahan terhadap pengaruh cuaca luar dalam waktu yang cukup lama, sedangkan tipe eksterior 2 hanya tahan terhadap cuaca luar dalam waktu terbatas. Tipe interior 1 tahan terhadap pengaruh cuaca dalam ruangan dengan kelembapan tinggi sedangkan tipe interior 2 hanya tahan terhadap pengaruh cuaca dalam ruangan yang relatif kering (kelembapan rendah).

D. Persyaratan Kekuatan dan Keawetan Kayu Lapis
Kayu lapis memiliki ketebalan yang bervariasi, begitu pula jenis bahannya. Ada jenis kayu yang memiliki kekuatan tinggi, ada pula jenis kayu yang memiliki kekuatan rendah. oleh karena itu, kayu lapis khusus konstruksi sangat diperlukan kekuatan ini. Pemakaian kayu lapis sebagai bahan bangunan atau pun tujuan kegunaan lainnya dengan sifat-sifat kayu yang dibuat, memberi kemungkinan terjadinya serangan-serangan perusak kayu, baik berupa bubuk kayu kering maupun serangga lainnya. Dapat dipahami bahwa tujuan pembuatan kayu lapis adalah pemanfaatan pembuatan jenis jenis kayu berkualitas rendah, dalam arti kata, umumnya jenis- jenis kayu yang kurang awet. Oleh karena itu, persyaratan keawetan kayu lapis umumnya belum dikemukakan dalam beberapa macam standar. Hanya pada standar Jerman dikemukakan bahwa kayu lapis yang dibuat dari jenis kayu yang tidak awet perlu diawetkan terlebih dahulu. Salah satu usaha untuk meningkatkan keawetan pada kayu lapis adalah dengan memberi pengawet (racun) dalam campuran perekatnya.

Pustaka:
Dumanauw, J. F. 1990. Mengenal Kayu. Kanisius. Yogyakarta