Deskripsi Tanaman Balangeran (Shorea balangeran)

1. Identifikasi Tanaman Balangeran
Tanaman balangeran adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang sangat populer di dunia perdagangan kayu. Tanaman balangeran tergolong dalam famili Dipeterocarpaceae dengan spesies Shorea balangeran. Saat ini, balangeran tergolong tumbuhan langka akibat kegiatan perdagangan yang tidak terkendali.

Deskripsi tanaman balangeran (Shorea balangeran) terdiri dari identifikasi tanaman, klasifikasi tanaman, pertumbuhan tanaman, penyebaran tanaman, da manfaat tanaman balangeran. Tanaman balangeran adalah salah satu jenis tanaman kehutanan yang sangat populer di dunia perdagangan kayu. Tanaman balangeran tergolong dalam famili Dipeterocarpaceae dengan spesies Shorea balangeran.  Manfaat kayu tanaman balangeran menurut Martawijaya et al (1989) adalah sebagai berikut: 1. Sebagai bahan bangunan perumahan berupa balok dan papan 2. Sebagai jembatan 3. Sebagai lunas perahu 4. Sebagai bantalan dan tiang listrik (diawetkan terlebih dahulu)

2. Klasifikasi Tanaman Balangeran (Shorea balangeran)
Umumnya, jenis flora balangeran memiliki klasifikasi sebagai berikut (Suryanto et al, 2012):
Devisi : Spermatophyta 
Kelas : Dicotyledoneae 
Ordo : Theales 
Famili : Dipterocarpaceae 
Genus : Shorea 
Spesies : Shorea balangeran

Shorea balangeran adalah salah satu jenis tanaman endemik di lahan gambut dan keberadaanya sampai pada saat ini sangat sulit ditemukan atau terancam punah. Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Hilwan et al. (2013) yang mengemukakan bahwa jenis Shorea balangeran termasuk dalam status terancam punah dan langka sehingga diperlukan upaya pengembangan jenis tersebut untuk kegiatan rehabilitasi maupun pembangunan hutan tanaman produksi.

3. Pertumbuhan Tanaman Balangeran
Pertumbuhan balangeran diawali dengan melakukan permudaan. Permudaan secara alami yakni dengan membiarkan buah balangeran jatuh di atas tanah. Selanjutnya, permudaan buatan dilakukan dengan menanam bibit tanaman balangeran yang sudah mencapai tinggi 30-50 cm di dalam sebuah jalur dengan lebar 2-3 m yang telah dibersihkan sebelumnya. Jarak tanam tanaman balangeran berkisar 3 m dengan jarak antar jalur sekitar 5 sampai 6 m. Pada tanaman muda balangeran membutuhkan pemeliharaan sampai umur 4-5 tahun (Martawijaya et al., 1989). Selanjutnya, Hyne (1987) mengatakan bahwa tanaman balangeran yang sudah dewasa memerlukan cahaya yang lebih banyak, untuk itu pemeliharaannya dilakukan dengan membuka ruang tempat tumbuh.

Kunjungi juga : Pemeliharaan dan Pemupukan Tanaman Balangeran (Laporan Praktikum)

Tanaman balangeran dapat mengalami pertumbuhan tinggi sampai 25 meter. Tanaman balangeran memiliki ukuran batang bebas cabang sekitar 15 meter dengan diameter mencapai 50 sentimeter dan tidak memiliki banir. Ketika tanaman balangeran sudah memiliki umur tua maka terjadi perubahan warna kulit pada bagian luar yakni warna merah tua sampai hitam. Kulit pohon tersebut memiliki ketebalan sekitar 1 sampai 3 cm. Kulit pohon balangeran rata dan tidak mengelupas. Bagian dalam kayu terlihat berwarna coklat merah dan ada juga yang coklat tua khususnya pada bagian teras. Sedangkan pada bagian kayu gubalnya memiliki warna putih kekuningan atau merah muda. Bagian kayu gubal pada tanaman balangeran memiliki ketebalan sekitar 2 sampai 5 cm (Suryanto et al, 2012).

Selanjutnya, tekstur kayu tanaman balangeran bersifat kasar dan rata. Jenis kayunya memiliki serat lurus. Apabila kayunya diraba akan terasa licin dengan beberapa bagian tertentu terasa lengket akibat pengaruh damar (Suryanto et al, 2012). Kayu tanaman balangeran termasuk dalam kelas kuat II dengan berat jenis 0,86. Lebih lanjut dikatakan bahwa kayu balangeran tidak mengalami penyusutan saat pengeringan dan memiliki ketahanan terhadap serangan jamur pelapuk. Kayu tanaman balangeran tergolong ke dalam kelas awet II (I-III) (Martawijaya et al., 1989).

Kunjungi juga : Pemeliharaan Tanaman Balangeran (Laporan Praktik RHL)

Daun tanaman balangeran berwarna hijau tua dan akan berubah menjadi warna coklat ketika dalam keadaan kering. Secara spesifik daun balangeran berujung lancip dengan pangkal daun berbentuk bulat. Tanaman balangeran memiliki buah dengan bentuk bulat dengan ukuran 5-6 x 3-5 milimeter dengan bagian sayap yang sedikit berwarna merah dan mengalami perubahan ketika sudah matang. Warna buah balangeran terlihat kecoklatan dengan sayap berbentuk spatula yang sangat tipis. Umumnya, saya pada buah balangeran terlepas lebih cepat apabila telah mencapai umur kematangan buah (Leppe & Tata, 1977).

4. Tempat Tumbuh dan Penyebaran Tanaman Balangeran 
Habitat tanaman balangeran umumnya pada hutan primer tropis basah yang keadannya sewaktu-waktu tergenang air, pada daerah rawa, di pinggir sungai, pada tanah liat berpasir, tanah liat dengan tipe curah hujan A dan B dengan ketinggian 0-100 meter di atas permukaan laut. Jenis shorea balangeran memiliki pertumbuhan yang lebih cepat jika dibandingkan dengan jenis pohon rawa gambut lainnya (Suryanto, et al., 2012). Tanaman balangeran umumnya tumbuh secara berkelompok. Selain itu, pada tempat hidupnya ditemukan jenis tumbuhan lain seperti jenis pohon bintangur, keruing, ramin, serta tembesu (Suryanto et al, 2012).

Kunjungi juga : Laporan Praktikum Silvikultur - Perawatan, Pengukuran, dan Pemetaan Balangeran (Shorea balangeran)

Penyebaran tanaman balangeran meliputi berbagai tempat di Brunei Darussalam, Kalimantan, Serawak, dan Sumatera. Penyebaran tanaman balangeran secara spesifik di daerah Sumatera berada pada daerah Bangka Belitung. Sedangkan di daerah Kalimantan tersebar di 3 provinsi yakni Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Selatan (Kalsel), dan Kalimantan Tengah (Kalteng) (Suryanto et al, 2012).

5. Manfaat Tanaman Balangeran
Tanaman balangeran memiliki manfaat ekonomi yang cukup tinggi. Umumnya kayu tanaman balangeran merupakan kayu jenis komersial di berbagai bidang. Manfaat kayu tanaman balangeran menurut Martawijaya et al. (1989) adalah sebagai berikut:
  • Sebagai bahan bangunan perumahan berupa balok dan papan
  • Sebagai jembatan
  • Sebagai lunas perahu
  • Sebagai bantalan dan tiang listrik (diawetkan terlebih dahulu)
Pustaka:
Hilwan, I., Y. Setiadi, & H. Rachman. 2013. Evaluasi Pertumbuhan Beberapa Jenis Dipterokarpa di Areal Revegetasi PT Kitadin, Kalimantan Timur. Jurnal Silvikultur Tropika 4(2): 108–112

Hyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Litbang Kehutanan

Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K., dan S. A. Prawira, 1989. Atlas Kayu Indonesia. Jilid II. Depertemen Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor

Suryanto, Hadi, T. S., & Savitri, E. 2012. Budidaya Shorea balangeran di Lahan Gambut. Balai Penelitian Kehutanan. Banjarbaru