Formasi dan Tipe-tipe Hutan di Indonesia

Berdasarkan UU No 41 tahun 1999, hutan adalah suatu ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Pengertian tersebut menjelaskan bahwa hutan di Indonesia dapat terbagi menjadi beberapa tipe dan beberapa formasi yakni sebagai berikut:

1. Tipe Hutan Hujan Tropis (tropical rain forest)
Hutan hujan tropis merupakan hutan daun lebar yang selalu hijau dengan tingkat kerapatan pohon yang tinggi (Schimper AWF, 1989). Hutan hujan tropis terbentuk di wilayah-wilayah beriklim tropis, dengan curah hujan tahunan minimum berkisar antara 1750 mm dan 2000 mm. Sedangkan rata-rata temperatur bulanan berada di atas 18 °C (64 °F) di sepanjang tahun (Woodward et al, 2016).

Hutan di Indonesia memiliki berbagai tipe dan formasi tertentu. Hutan hujan tropis merupakan hutan daun lebar yang selalu hijau dengan tingkat kerapatan pohon yang tinggi (Schimper AWF, 1989). formasi hutan adalah, tipe hutan adalah. tipe hutan pdf, formasi hutan pdf, bentuk formasi hutan, bentuk tipe hutan, hutan hujan tropis, hutan payau, hutan mangrove, hutan musim dan tipe tipenya

Pada umumnya wilayah hutan hujan tropis memiliki iklim tipe A dan tipe B dengan dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Sebagian besar hutan-hutan tropis di Indonesia merupakan masyarakat kompleks, tempat yang menyediakan pohon dari berbagai ukuran. Tanah di dalam hutan hujan tropis biasanya jenis pedosol, latosol, aluvial, dan regosol. Jenis hutan ini dapat berada pada ketinggian 0–4100 mdpl. Struktur hutan hujan tropis terdiri dari tajuk yang berlapis-lapis. Lapis tajuk yang paling atas terdiri dari pohon-pohon yang muncul di antara lapis tajuk di bawahnya (kedua) dengan tinggi antara 45–60 m. Pohon pada lapis teratas umumnya mempunyai tajuk yang kecil dan tidak teratur dengan sedikit susunan cabang. Lapis tajuk kedua merupakan kanopi utama yang umumnya terdiri dari jenis-jenis pohon yang ramping dengan tinggi antara 30-40 m. Lapisan tajuk di bawahnya terdiri dari jenis-jenis pohon yang sangat toleran, dengan batang yang ramping, tinggi dan tajuk yang kecil, terdapat banyak epifit pada cabang yang tinggi.

Kunjungi juga : Jenis Hutan Berdasarkan Fungsinya

Pada lantai hutan banyak terdapat jenis-jenis tumbuhan bawah seperti palem kecil, jenis-jenis bambu, rotan, paku-pakuan dan jenis-jenis lainnya, atau mungkin hampir tanpa tumbuhan bawah. Hutan hujan tropis dikenal juga mempunyai tingkat keanekaragaman yang tinggi, banyak jenis yang belum diketahui dan mempunyai nilai komersil. Apabila terjadi penebangan maka permudaan secara alami dilakukan oleh jenis-jenis yang berbeda dengan jenis-jenis penyusun hutan asli.

2. Tipe Hutan Musim (monsoon forest)
Hutan musim adalah hutan campuran yang berada di daerah beriklim muson (monsoon), yaitu daeah dengan perbedaan antara musim kering dan basah yang terlihat jelas (Arief A., 2001). Biasanya hutan ini terdapat di wilayah dengan iklim tropis dan subtropis yang memiliki iklim (C) atau (D) dan hangat sepanjang tahun dan mengalami musim kemarau selama beberapa bulan sehingga memaksa kebanyakan tumbuhan menggugurkan daun-daunnya dan mempengaruhi populasi mahluk hidup di dalamnya. Curah hujan pada iklim ini antara 1000-2000 mm/tahun dan berada pada ketinggian 0-4000 mdpl.

Hutan musim termasuk dalam hutan homogen, karena hanya memiliki satu jenis pohon yang mendominasi. Pada daerah ekosistem hutan musim, curah hujan rendah sehingga jenis-jenis yang dapat hidup di daerah tersebut adalah jenis yang tahan terhadap kekeringan. Mekanisme fisiologis dalam mempertahankan diri terhadap kekeringan maka tumbuhan tersebut akan menggugurkan daun untuk mengurangi proses transpirasi atau penguapan air melalui daun.

Umumnya, hutan musim memiliki ciri yang khas antara lain:
  • Hutan musim memiliki iklim yang hangat sepanjang tahun seperti iklim di Indonesia tetapi lebih banyak mengalami musim kemarau yang durasinya cukup panjang hingga beberapa bulan,
  • Hutan musim memiliki curah hujan yang cukup rendah,
  • Hutan musim umumnya memiliki jenis tumbuhan berupa tumbuhan tropofit yang merupakan jenis tumbuhan yang dapat bertahan dan beradaptasi dengan musim kemarau panjang dan kekeringan dan juga musim hujan.
  • Tumbuhan pada hutan musim di musim penghujan akan menumbuhkan daunnya dengan sangat lebat, tetapi daun tersebut akan digugurkan hampir seluruhnya pada musim kemarau atau musim kering.
  • Ekosistem pada hutan musim biasanya hanya memiliki satu lapisan stratum atau satu lapisan tajuk yang tajuk-tajuk tersebut tidak saling tumpang tindih.
  • Hutan musim disebut juga dengan hutan luruh daun karena pohon–pohonnya banyak yang menggugurkan daunnya ketika musim kemarau datang yang berfungsi untuk mengurangi proses transpirasi atau penguapan air melalui daun yang berlebih.
  • Lamanya proses pengguguran daun pada pohon – pohon yang tumbuh di dalam hutan musim tergantung dari persediaan air yang ada didalam tanah,
  • Di akhir musim kemarau, biasanya pohon – pohon pada hutan musim ini akan menumbuhkan bunga. Bunga yang dihasilkan umumnya berukuran besar dan berwarna terang (Indriyanto, 2005).
  • Hutan musim memiliki nama–nama hutan yang diambil berdasarkan jenis pohon yang tumbuh mendominasi didalamnya. Misalnya jika yang tumbuh mendominasi dalam hutan musim adalah pohon jati, maka hutan musim tersebut bernama hutan jati, atau misalnya hutan pinus.
  • Jenis pohon yang tumbuh pada Hutan musim antara lain adalah dari spesies Eucalyptus alba, Tectona grandis, Acacia leucophloea, Albizzia chinensis, Timonius cerysus, Schleieera oleosa, Dalbergia latifolia, dan Santalum album.
  • Jenis fauna yang hidup pada wilayah hutan musim adalah seperti Monyet dengan jenis spesies Macaca fascicularis dan Harimau,
  • Hutan musim terletak pada wilayah yang memiliki iklim musim, salah satunya Indonesia dan biasanya terletak di pulau Jawa (IlmuGeografi.com, 2016).
Kunjungi juga : Masyarakat Sekitar Hutan serta Kehidupannya

3. Tipe Hutan Gambut (peat forest)
Hutan gambut adalah hutan tropis berdaun lebar di mana tanah yang terendam air mencegah dedaunan dan kayu terdekomposisi sepenuhnya. Seiring waktu berlalu, terbentuk lapisan gambut yang bersifat asam. Menurut Indriyanto (2005), hutan gambut didefinisikan sebagai hutan yang terdapat pada daerah bergambut ialah daerah yang digenangi air tawar dalam keadaan asam dan di dalamnya terdapat penumpukan bahan ­bahan tanaman yang telah mati. Hutan gambut terdapat di daerah yang beriklim tipe A atau B dan tanah latosol dengan lapisan gambut setebal 50 cm atau lebih. Pengertian ini juga searah dengan Arief (2001), yang mengatakan hutan gambut adalah hutan yang tumbuh di daerah iklim bertipe A atau B dengan tanah organosol atau histosol yang selalu tergenang air tawar secara periodik dengan keadaan pH rata-rata 3,5-4,0.

Hutan gambut biasanya hanya dapat ditumbuhi beberapa jenis tumbuhan karena tanahnya miskin atas kandungan unsur hara. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Sabihan (1999), mengatakan bahwa tanah gambut yang terlalu tebal (1,5-2 m) umumnya tidak subur, karena vegetasi penyusunnya miskin unsur hara.

4. Tipe Hutan Rawa (swamp forest)
Hutan Rawa adalah hutan yang tidak terpengaruh oleh iklim. ekosistem ini terdapat pada daerah dengan kondisi tanah yang selalu digenangi air tawar, pada suatu daerah yang terletak dibelakang hutan payau (mangrove) dengan jenis tanah aluvial dan kondisi aerasinya buruk (Arief, A., 2001). Tipe hutan rawa ini terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia, misalnya di Kalimantan Tengah, Sumatra Timur, Kalimantan Barat dan Irian Jaya Bagian Selatan.

Vegetasi (komunitas tumbuhan) yang menyusun ekosistem hutan rawa termasuk dalam kategori vegetasi yang selalu hijau, diantaranya yaitu berupa pohon-pohon dengan tinggi mencapai 40 meter dan mempunyai beberapa lapisan tajuk. Oleh karena itu ekosistem hutan rawa mempunyai beberapa lapisan tajuk, maka bentuknya hampir menyerupai ekosistem hutan tropis.

Pada umumnya spesies-spesies tumbuhan yang ada di dalam ekosistem hutan rawa cenderung berkelompok membentuk komunitas tumbuhan yang miskin dalam hal spesies. Dengan kata lain, penyebaran spesies tumbuhan yang ada di ekosistem hutan rawa tidak merata. Spesies-spesies pohon yang terdapat dalam ekosistem hutan rawa antara lain Shorea uliginosa, Palaqium leiocarpum, Campnosperma, Macrophylla, Garcinia spp., Koompassia spp., Canarium spp., Eugenia spp., Xylopia spp., dan Calophyllum spp. (Indriyanto, 2010).

Selain itu, terdapat juga daerah berawa yang hanya ditumbuhi rumput, ada pula yang hanya di dominasi oleh palem dan pandan. Meskipun demikian ada juga yang menyerupai hutan hujan tropis dataran rendah dengan pohon-pohon berakar tunjang, berbagai jenis spesies palem dan terdapat juga spesies-spesies tumbuhan epifit, namun kekayaan jenis dan kepadatannya tentu lebih rendah dibandingkan dengan ekosistem hutan tropis.

Ciri-Ciri Hutan Rawa adalah sebagai berikut :
  • Berada pada daerah-daerah yang selalu tergenang air tawar.
  • Tanahnya rendah, berlumpur dan becek.
  • Tidak dipengaruhi oleh iklim.
  • Umumnya terdapat dibelakang hutan payau dengan jenis tanah aluvial dengan aerasi yang buruk
  • Tegakan hutan selalu hijau, dengan tajuk yang terdiri dari beberapa strata.
  • Memiliki pohon-pohon yang tingginya bisa mencapai 40 m ke atas.
  • Tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang berakar lutut dan tunasnya terendam air.
  • Airnya asam dan bagian dasar rawa terdapat banyak gambut.
  • Terdapat pada tempat yang memiliki sungai-sungai besar, seperti di Kalimantan dan Sumatera
5. Tipe Hutan Payau (mangrove forest)
Hutan payau atau sering disebut hutan mangrove (bakau) adalah hutan yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air. Luas potensial hutan mangrove Indonesia adalah 8,6 juta ha yang terdiri atas 3,8 juta ha terdapat di kawasan hutan dan 4,8 juta ha terdapat di luar kawasan hutan. Sementara itu, berdasarkan kondisi diperkirakan bahwa 1,7 juta ha (44.73 %) hutan mangrove di dalam kawasan hutan dan 4,2 juta ha (87.50 %) hutan mangrove di luar kawasan hutan dalam keadaan rusak (Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2002). Ekosistem mangrove berada di antara level pasang naik tertinggi sampai level di sekitar atau di atas permukaan laut rata-rata pada daerah pantai yang terlindungi (Supriharyono, 2009), dan menjadi pendukung berbagai jasa ekosistem di sepanjang garis pantai di kawasan tropis (Donato dkk, 2012).

Manfaat ekosistem mangrove yang berhubungan dengan fungsi fisik adalah sebagai mitigasi bencana seperti peredam gelombang dan angin badai bagi daerah yang ada di belakangnya, pelindung pantai dari abrasi, gelombang air pasang (rob), tsunami, penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan, pencegah intrusi air laut ke daratan, serta dapat menjadi penetralisir pencemaran perairan pada batas tertentu (Lasibani dan Eni, 2009). Manfaat lain dari ekosistem mangrove ini adalah sebagai obyek daya tarik wisata alam dan atraksi ekowisata (Sudiarta, 2006; Wiharyanto dan Laga, 2010) dan sebagai sumber tanaman obat (Supriyanto dkk, 2014).

Ekosistem mangrove berfungsi sebagai habitat berbagai jenis satwa. Ekosistem mangrove berperan penting dalam pengembangan perikanan pantai (Heriyanto dan Subiandono, 2012); karena merupakan tempat berkembang biak, memijah, dan membesarkan anak bagi beberapa jenis ikan, kerang, kepiting dan udang (Kariada dan Andin, 2014; Djohan, 2007). Jenis plankton di perairan mangrove lebih banyak dibandingkan di perairan terbuka (Qiptiyah, dkk,2008). Hutan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan organik ke dalam rantai makan (Hogarth, 2001). Bagian kanopi mangrove pun merupakan habitat untuk berbagai jenis hewan darat, seperti monyet, serangga, burung, dan kelelawar (Supriharyono, 2009). Kayu pohon mangrove dapat digunakan sebagai kayu bakar, bahan pembuatan arang kayu, bahan bagunan, dan bahan baku bubur kertas. Ekosistem mangrove mempunyai kemampuan dalam mengendalikan intrusi air laut melalui mekanisme pencegahan pengendapan CaCO3 oleh badan eksudat akar, pengurangan kadar garam oleh bahan organik hasil dekomposisi serasah, peranan fisik susunan akar mangrove yang dapat mengurangi daya jangkauan air pasang ke daratan, dan perbaikan sifat fisik dan kimia tanah melalui dekomposisi serasah (Kusmana, 2010).

Kunjungi juga : Tipe Kebakaran Hutan di Indonesia

6. Tipe Hutan Pantai (littoral forest)
Daerah pantai merupakan daerah perbatasan antara ekosistem laut dan ekosistem darat. Karena hempasan gelombang dan hembusan angin maka pasir dari pantai membentuk gundukan ke arah darat. Setelah terbentuknya gundukan pasir itu biasanya terdapat hutan yang dinamakan hutan pantai. Secara umum, hutan ini terletak di tepi pantai, tumbuh pada tanah kering berpasir dan berbatu dan tidak terpengaruh oleh iklim serta berada di atas garis pasang tertinggi. Daerah penyebaran utama hutan pantai terdapat di Sumatera, Jawa, Bali dan Sulawesi (Faisal, 2012).

Menurut Arief (2001), ekosistem hutan pantai adalah tipe ekosistem hutan yang terdapat di daerah-daerah kering tepi pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis pasang tertinggi. Pada daerah seperti ini, umumnya jarang tergenang oleh air laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan hembusan garam.

Menurut Direktorat Jenderal Kehutanan, Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat dalam ekosistem hutan pantai antara lain : Calophyllum inophyllum, Barringtonia speciosa, Terminalia cattapa, Thespesia populnea, Hibiscus tiliaceus, Pisonia grandis, dan Casuarina equsetifolia. Selain spesies-spesies pohon tersebut, Arief (2001) juga mengatakan bahwa kadang-kadang terdapat spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki dan Sterculia foetida.

Apabila dilihat perkembangan vegetasinya yang ada di daerah pantai (littoral), maka sesungguhnya sering dijumpai dua formasi vegetasi (komunitas), yaitu formasi Pescaprae dan formasi Barringtonia.

1) Formasi Pescaprae
Formasi ini terdapat pada tumpukan-tumpukan pasir yang mengalami proses peninggian di sepanjang pantai dan hampir terdapat di seluruh pantai Indonesia. Komposisi dari spesies tumbuhan pada formasi pescaprae di mana saja hampir sama karena spesies tumbuhannya didominasi oleh Ipomoea pescaprae (kaki kambing) salah satu spesies tumbuhan menjalar, herba rendah yang akarnya dapat mengikat pasir.

2) Formasi Barringtonia
Formasi ini terdapat di atas formasi pescaprae yaitu terdapat di daerah pantai, persis di belakang formasi pescaprae yang telah memungkinkan untuk ditumbuhi berbagai spesies pohon khas hutan pantai. Disebut sebagai formasi Barringtonia karena spesies tumuhan yang dominan di daerah ini adalah spesies pohon Barringtonia asiatica. Pada umumnya yang dimaksud ekosistem hutan pantai ialah formasi Barringtonia ini.

Formasi hutan merupakan tipe atau bentuk susunan hutan yang terjadi akibat pengaruh faktor lingkungan yang dominan terhadap pembentukan dan perkembangan komunitas di dalam hutan.  Adanya pengelompokan formasi hutan didasari oleh paham tentang klimaks, yaitu komunitas akhir yang terjadi selama proses suksesi.  Paham klimaks berkaitan dengan adaptasi tumbuhan secara keseluruhan mencakup segi fisiologis, morfologis, syarat pertumbuhan, dan bentuk tumbuhnya, sehingga kondisi ekstrem dari pengaruh iklim dan tanah akan menyebabkan efek adaptasi pohon serta tetumbuhan lainnya menjadi nyata (Arief, 1994).  Hal tersebut akan berpengaruh terhadap bentuk susunan ekosistem hutan (formasi hutan).

Berdasarkan atas faktor lingkungan yang memiliki pengaruh dominan terhadap bentuk susunan komunitas atau ekosistem hutan, maka ekosistem hutan dikelompokkan ke dalam dua formasi, yaitu formasi klimatis dan formasi edafis (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976).

1) Formasi Klimatis
Formasi klimatis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim, misalnya temperatur, kelembapan udara, intensitas cahaya, dan angin. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis, yaitu hutan hujan tropis, hutan musim, dan hutan gambut (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976).

Menurut Davy (1938) dalam Arief (1994), hutan yang termasuk ke dalam formasi klimatis adalah hutan hujan tropis, hutan semi hujan, hutan musim, hutan pegunungan atau hutan temperate, hutan konifer, hutan bambu atau hutan Gramineae berkayu, dan hutan Alpine.

Kunjungi juga : Laporan Praktikum Silvikultur-Perawatan, Pengukuran dan Pemetaan Balangerang (Shorea balangeran)

2) Formasi Edafis
Formasi edafis adalah formasi hutan yang dalam pembentukannya sangat dipengaruhi oleh keadaan tanah, misalnya sifat-sifat fisika, sifat kimia, dan sifat biologi tanah, serta kelembapan tanah. Ekosistem hutan yang termasuk ke dalam formasi edafis, yaitu hutan rawa, hutan payau, dan hutan pantai. Schimper (1903) dalam Arief (1994), menyebutkan hutan-hutan yang termasuk ke dalam formasi edafis mencakup hutan tepian, hutan rawa, hutan pantai, dan hutan mangrove.

Menurut Davy (1938) dalam Arief (1994), yang termasuk ke dalam kelompok formasi edafis, yaitu hutan riparian, hutan rawa, hutan mangrove, hutan pantai, hutan kering selalu hijau, hutan sabana, hutan palma atau hutan nipah, dan hutan duri. Hutan riparian (riparian forest) dianggap sebagai sub tipe hutan hujan tropis, sedangkan hutan nipah (nipha forest) sering dianggap sebagai konsosiasi dari hutan payau atau hutan rawa; bergantung kepada faktor edafisnya.


Pustaka:
Arief, A. 1994. Hutan : Hakikat Dan Pengaruh Terhadap Lingkungan. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Arief A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Kanisius : Yogyakarta

Direktorat Jenderal Kehutanan. 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia. Departemen Pertanian Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Kehutanan. Jakarta

Djohan, T.S., 2007. Distribusi Hutan Bakau di Laguna Pantai Selatan Yogyakarta. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 14(1):15-25.

Donato, dkk. 2012. Mangrove Salah Satu Hutan Terkaya Karbon di Daerah Tropis. Brief CIFOR, 12:1-12.

Faisal. 2012. Ekologi, Manfaat dan Rehabilitasi Hutan Pantai Indonesia. Balai Penelitian Kehutanan Manado. Manado

Heriyanto, N.M., dan Subiandono, E., 2012. Komposisi dan Struktur Tegakan, Biomasa, dan Potensi Kandungan Karbon Hutan Mangrove di Taman Nasional Alas Purwo. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 9(1):023-032.

Hogarth, P.J., 2001. The Biology of Mangroves (Biology of Habitats).Oxford Univesity Press. Oxford. 

Indriyanto, 2005. Ekologi Hutan. PT Bumi Aksara : Jakarta.

Kariada, T.M., dan Andin, I., 2014. Peranan Mangrove sebagai Biofilter Pencemaran Air Wilayah Tambak Bandeng, Semarang. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 21(2):188-194.

Kusmana, C., 2010. Fungsi Pertahanan dan keamanan Ekosistem Mangrove. Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Lasibani S.M., dan Eni, K., 2009. Pola Penyebaran Pertumbuhan ”Propagul” Mangrove Rhizophoraceae di Kawasan Pesisir Sumatera Barat. Jurnal Mangrove dan Pesisir, 10(1):33-38.

Qiptiyah, M., Halidah, dan Rakman, M.A., 2008. Struktur Komunitas Plankton di Perairan Mangrove dan Perairan Terbuka di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 5(2):137-143.

Republik Indonesia. 1999. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Jakarta

Sabiham S. 1999. Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut Melalui Pengendalian Reaktivitas Asam-asam Organik Beracun. Laporan Penelitian Hibah Bersaing V/3 Perguruan Tinggi T.A. 1998/1999. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Schimper AFW. 1898. Plant Geography. Oxford University Press.

Santoso, Y. 1996. Diversitas dan Tipologi Ekosistem Hutan yang Perlu Dilestarikan. Proseding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi pada Tanggal 10-12 Agustus 1995. Kerja sama Fakultas Kehutanan IPB dengan Yayasan Gunung Menghijau dan Yayasan Pendidikan Ambarwati Bogor.

Supriharyono, 2009. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati di Wilayah Pesisir dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Sudiarta, M., 2006. Ekowisata Hutan Mangrove : Wahana Pelestarian Alam dan Pendidikan Lingkungan. Jurnal Manajemen Pariwisata, 5(1):1-25.

Supriyanto, Indriyanto, dan Bintoro, A., 2014. Inventarisasi Jenis Tumbuhan Obat di HutanMangrove Desa Margasari KecamatanLabuhan Maringgai Lampung Timur. JurnaSylva Lestari, 2(1):67-75.

Woodward et al. 2016. Natural Resistance of Plantation Grown African Mahagony (Khaya ivorensis and Khaya senegalensis) from Brazil to Wood-Rot Fungi and Subterranian Termites. International Bioedeterioration and Biodegradation (107) : 88-91.