Sistem dan Aturan Pemberian Nama Ilmiah Tumbuhan

1. Sistem Pemberian Nama Ilmiah Tumbuhan

Suatu jenis pohon atau tumbuhan bisa memiliki tiga macam nama, yaitu nama lokal, nama ilmiah, dan nama perdagangan. Nama lokal disebut juga nama daerah atau nama nasional atau nama setempat atau nama biasa. Nama ilmiah juga disebut nama botani (Indriyanto, 2012).

Ketiga macam nama tersebut (nama lokal, nama ilmiah, dan nama perdagangan) mempunyai dasar-dasar penamaan yang berbeda. Misalnya pada nama setempat dan nama perdagangan, ditemukan sifat khas yang menonjol pada pohon/tumbuhan maupun pada tipe habitatnya (Samingan, 1972). Sistem pemberian nama ilmiah tumbuhan didasari pada penulisan sesuai dengan tatanama tumbuhan binomial nomenklatur.

Sistem dan aturan pemberian nama ilmiah tumbuhan adalah materi penulisan nama ilmiah yang benar sesuai dengan tatanama tumbuhan binomial nomenklatur.

Contoh-contoh yang berikut ini bisa dijadikan sebagai gambaran mengenai penggunaan sifat khas dan tipe habitatnya sebagai dasar pemberian nama nama setempat dan nama perdagangan.

  • Berbagai jenis pohon anggota genus Shorea yang tumbuh pada daerah rawa diberi nama meranti rawa. Dengan demikian, meranti rawa merupakan nama kolektif yang diberikan kepada semua jenis pohon anggota genus Shorea yang tumbuh di daerah rawa.
  • Warna kayu yang sangat gelap atau hitam merupakan sifat yang menonjol pada jenis-jenis pohon anggota genus Diospyros. Warna kayu tersebut digunakan untuk memberi nama lokal dan perdagangan anggota genus Diospyros dengan nama kayu hitam atau kayu arang.
  • Kulit batang yang bergetah merah darah merupakan sifat yang menonjol anggota famili Myristicaceae. Kemudian setiap jenis pohon anggota famili Myristicaceae diberi nama kayu mendarahan karena kulit batang bagian dalam mengandung getah berwarna merah.
  • Bentuk batang penuh dengan benjolan-benjolan khas sebagai tempat melekatnya tangkai bunga merupakan sifat yang menonjol pada pohon Stelechocarpus burahol, kemudian pohon ini diberi nama kiburahol.
  • Daerah tempat penyebaran secara lokal bagi pohon-pohon Shorea pinaga, Shorea stenoptera, Shorea gysberstiana, Shorea acuminatissima adalah di Kalimantan, sehingga jenis-jenis pohon tersebut diberi nama pohon borneo.

Penggunaan nama ilmiah dan/atau cara memberi nama baru kepada pohon atau tumbuhan telah diatur di dalam kode botani dan nomenklatur. Kode botani dan nomenklatur yang dimaksud pertama kali telah dikemukakan di dalam Kongres Botani Internasional I di Paris pada tahun 1876 yaitu sebagai berikut:

  • Satu tumbuhan mempunyai satu nama ilmiah yang berlaku.
  • Nama tumbuhan yang tertua dipakai adalah sejak diterbitkan Species Plantarum Carolus Linnaeus pada tahun 1753, dan sejak itu prosedur tatanama telah menjadi ukuran dan terus direvisi sehingga tumbuh-tumbuhan tidak diberi nama sembarangan.
  • Dua jenis/spesies ataupun dua marga/genus yang berlainan tidak boleh mempunyai ilmiah yang sama.
  • Nama gabungan genus dan spesies harus diikuti nama-nama penulisnya.

Cara penamaan yang lengkap menurut ketentuan dalam Kode Internasional Tatanama Tumbuhan adalah nama ilmiah suatu jenis tumbuhan pohon terdiri dari tiga kata, sehingga dikenal dengan istilah trivial nomenclature (Tjitrosoedirdjo, 1989).

Kunjungi juga : Materi Taksonomi Tumbuhan

Ketiga kata dalam nama ilmiah tumbuhan yang dimaksud, masing-masing dijelaskan pada uraian sebagai berikut:

  • Kata pertama adalah nama marga/genus yang harus ditulis dengan huruf awal besar, kemudian digaris bawah atau dicetak miring.
  • Kata ke dua adalah nama penunjuk jenis/spesies yang semua ditulis huruf kecil, kemudian digaris bawah atau dicetak miring.
  • Kata ke tiga adalah nama penuh atau singkatan nama dari seorang ahli taksonomi tumbuhan yang bertanggungjawab atas penerbitan dan hasil pencandraan dan pendeterminasian tumbuhan. Penulisan kata ke tiga tersebut tanpa digaris bawah atau dicetak miring.

Beberapa contoh cara penulisan nama ilmiah tumbuhan secara benar dengan konsep trivial nomenclature sebagai berikut (Indriyanto, 2012).

  • Pulai (Alstonia scholaris R. Br.). Nama genus adalah Alstonia. Nama penujuk jenis scholaris. Adapun R. Br. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama lengkap Robert Brown.
  • Leda (Eucalyptus deglupta Bl.). Nama genus adalah Eucalyptus. Nama penujuk jenis deglupta. Adapun Bl. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama lengkap Blume.
  • Sengon Laut (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen.). Nama genus adalah Paraserianthes. Nama penujuk jenis falcataria. Adapun L. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Linnaeus. Nielsen. adalah nama ahli taksonomi yang telah menempatkan kembali pohon sengon laut ke dalam genus Paraserianthes. Penulisan (L.) Nielsen. Artinya penamaan itu telah disempurnakan oleh Nielsen tetapi masih menggunakan sebagian ciri-ciri diagnostik yang telah diberikan Carolus Linneaus. Sengon laut pada awalnya bernama Albizia falcataria (L.) Fosbert. Kemudian mengalami perubahan nama dari genus Albizia menjadi genus Paraserianthes.
  • Durian (Durio zibethiunus Murr.) Nielsen.). Nama genus adalah Durio. Nama penujuk jenis zibethiunus. Adapun Murr. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Murray.
  • Ceri (Muntingia calabura L.). Nama genus adalah Muntingia. Nama penujuk jenis calabura. Adapun L. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Linnaeus.
  • Wareng (Gmelina arborea Roxb.). Nama genus adalah Gmelina. Nama penujuk jenis arborea. Adapun Roxb. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Roxburg.
  • Kenari solo (Canarium asperum Benth.). Nama genus adalah Canarium. Nama penujuk jenis asperum. Adapun Benth. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Bentham.
  • Mimba (Azadirachta indica Juss.). Nama genus adalah Azadirachta. Nama penujuk jenis indica. Adapun Juss. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Jussieu.
  • Cempaka bodas (Michelia alba D. C.). Nama genus adalah Michelia. Nama penujuk jenis alba. Adapun D. C. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama De Candolle.
  • Suren (Toona sureni Merr.). Nama genus adalah Toona. Nama penujuk jenis sureni. Adapun Merr. adalah singkatan nama seorang ahli taksonomi yang bernama Merril.

Lahirnya nama ilmiah disebabkan beberapa faktor (Tjitrosoedirdjo, 1993). Faktor-faktor yang menyebabkan lahirnya nama ilmiah antara:

  • Beranegkaragamnya nama lokal atau nama setempat suatu pohon, padahal nama ini tidak memungkinkan untuk diberlakukan secara umum pada dunia internasional karena adanya perbedaan bahasa yangdigunakan.
  • Beranegkaragamnya nama perdagangan suatu pohon atau kelompok pohon, tetapi nama-nama perdagangan itu tidak mencerminkan indikasi tentang kategori takson yang dimiliki oleh tumbuhan.
  • Banyaknya sinonim nama lokal atau nama setempat (dua nama atau lebih) untuk satu jenis tumbuhan.
  • Nama lokal atau nama setempat sulit diterima di dunia internasional karena nama ini sangat beranekaragaman menurut masing-masing bangsa yang menggunakan.

2. Aturan Pemberian Nama Ilmiah Tumbuhan

Aturan pemberian nama tumbuhan (nama Latin), dengan menyebut nama marga dan nama jenis disebut binomial system (bi = dua, nomes = nama, system = cara). Ketentuan pemberian nama suatu spesies dalam biologi oleh Carolus Linnaeus (1707-1778) memberi nama spesies dengan sistem binomial, yaitu:

Kunjungi juga : 10 Fungsi-Fungsi Pohon Terlengkap

  • Nama spesies terdiri dari nama genus dan nama spesifik
  • Nama genus ditulis dengan huruf awal besar dan nama spesifikasi dengan huruf kecil
  • Nama genus dan nama spesies digaris bawah secara terputus atau cetak miring

Hal-hal yang prinsip dan peraturan tatanama tumbuhan adalah:

  • Tatanama botani tidak berhubungan dengan tatanama zoologi. Nama yang sama yang diberikan pada tumbuhan bisa juga digunakan ahli zoologi pada hewan.
  • Pelaksanaan penamaan di dalam kelompok taksonomi ditentukan dengan menggunakan tipe tatanama. Tipe untuk famili adalah genus, tipe untuk genus adalah jenis, tipe untuk jenis adalah spesimen dan seterusnya.
  • Tatanama dari kelompok taksonomi haruslah berdasar pada prioritas publikasi, dan nama yang benar adalah nama yang telah dipublikasi terlebih dahulu dan mengacu pada aturan-aturan.
  • Tatanama yang telah dipublikasikan lebih dulu harus dipakai sebagai dasar pada publikasi berikutnya.
  • Setiap kelompok taksonomi, batasannya, posisinya dan urutannya bisa membuat satu nama yang benar.
  • Nama ilmiah kelompok taksonomi disajikan dalam bahasa Latin tanpa menghiraukan asalnya. Aturan untuk penamaan genus dan penunjuk jenis sama juga dengan yang lain harus dalam bahasa Latin
  • Aturan tatanama adalah berlaku surut kecuali hal-hal yang kecil.
  • Suatu nama yang sah tidak boleh ditolak karena alas an tidak disukai atau karena kehilangan arti aslinya. Contoh: Hibiscus rosa-sinensis, aslinya bukan di Cina. Perubahan nama hanya boleh dilakukan bila sudah betul-betul diteliti taksonominya.

Pustaka:

Indriyanto. 2012. Dendrologi Suatu Teori dan Praktik Menyelidik Pohon. Lembaga Penelitian Universitas Lampung. Lampung.

Samingan, T. J. 1972. Dendrologi. Bahan kuliah dendrologi pada akademi ilmu kehutanan bandung. Bandung.

Tjitrosoedirdjo. G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Tjitrosoedirdjo. G. 1993 Taksonomi Umum: Dasar-Dasar Taksonomi. Gadjah Mada Univerity Press. Yogyakarta

Penyusun : Mega Plena Zega