Jenis-Jenis Siklus Hidrologi

Siklus hidrologi merupakan suatu sirkulasi air dari bumi ke atmosfer dan jatuh kembali ke permukaan bumi yang berlangsung secara berkelanjutan, berulang, dan teratur. Peran siklus hidrologi sangat intensif dan signifikan untuk keberlangsungan hidup organisme yang tinggal di bumi. Melalui siklus ini, ketersediaan air di daratan bumi dapat tetap terjaga, mengingat teraturnya suhu lingkungan, cuaca, hujan, dan keseimbangan ekosistem bumi dapat tercipta karena proses siklus hidrologi ini (Fitriyanti, 2019).

Berdasarkan ukuran panjang dan pendeknya suatu siklus, Naharuddin et al., (2018) membedakan siklus hidrologi menjadi 3 jenis yaitu siklus hidrologi pendek, siklus hidrologi sedang, dan siklus hidrologi panjang.

Jenis-jenis siklus hidrologi dapat dibedakan menjadi 3 jenis yaitu siklus hidrologi pendek, siklus hidrologi sedang, dan siklus hidrologi panjang.

1. Siklus Hidrologi Pendek

Pengertian siklus hidrologi pendek merupakan siklus hidrologi yang tahapannya tidak melalui proses adveksi. Proses adveksi adalah proses penyebaran atau berpindahnya awan dari satu tempat ke tempat yang lain. Artinya, pada siklus hidrologi pendek tidak adanya tahapan perpindahan awan. Umumnya, siklus hidrologi pendek juga dikenal dengan sebutan siklus kecil. Siklus ini biasanya hanya terjadi pada daerah laut. Proses siklus ini terjadi akibat terjadinya evaporasi pada air laut dan kemudian akan turun kembali ke permukaan bumi tepatnya di laut atau di sekitar kawasan laut dalam bentuk air hujan.

Proses terjadinya siklus hidrologi pendek melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut (Sembiring, 2020):

  • Air laut akan mengalami evaporasi dan berubah menjadi uap air sebagai akibat dari cahaya sinar matahari yang memberikan energi panas.
  • Setelah terjadinya penguapan, uap air kemudian mengembun dan berkumpul sehingga berubah menjadi awan.
  • Terakhir, awan yang telah terbentuk tersebut akan mencapai titik jenuh pada waktu dan suhu tertentu sehingga awan akan berubah menjadi cair dan turun di sekitar kawasan laut dalam bentuk air hujan.

2. Siklus Hidrologi Sedang

Siklus hidrologi sedang merupakan siklus yang tahapannya lebih panjang daripada siklus hidrologi pendek. Bedanya dari siklus hidrologi pendek, siklus hidrologi sedang mengalami proses adveksi. Siklus hidrologi sedang dominan terjadi di kawasan Indonesia. Hal ini terjadi karena proses adveksi yang membawa awan yang terbentuk di atas kawasan laut menuju ke atas daratan sehingga penurunan air hujan terjadi di daratan.

Proses terjadinya siklus hidrologi sedang melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut (Sembiring, 2020):

  • Terbentuknya uap air sebagai akibat dari proses evaporasi air laut yang disebabkan oleh panasnya cahaya sinar matahari.
  • Setelah uap air terbentuk dari hasil proses evaporasi, kemudian proses adveksi terjadi yakni angin membawa uap air tersebut bergerak menuju daratan.
  • Setelah menuju daratan, uap air yang terkumpul selanjutnya membentuk awan dan akan jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan setelah pada suhu dan waktu tertentu.
  • Air hujan yang turun ke permukaan bumi akan mengalami proses run off menuju sungai dan kemudian mengalir ke laut.

3. Siklus Hidrologi Panjang

Siklus hidrologi panjang merupakan siklus yang memiliki beberapa tahapan hingga air yang telah menguap pada akhirnya akan berubah menjadi hujan dan jatuh ke permukaan bumi. Umumnya, siklus hidrologi panjang terjadi pada daerah yang beriklim subtropis dan mengalami 4 musim yakni musim dingin, musim gugur, musim panas, dan musim semi. Siklus hidrologi panjang pada dasarnya seperti siklus hidrologi pendek dan sedang. Hanya saja siklus hidrologi panjang mampu mencangkup daerah yang cukup luas dibanding keduanya. Beberapa prosesnya pun ada yang berbeda yakni awan yang terbentuk tidak langsung berubah menjadi air hujan melainkan berubah menjadi hujan salju dan terbentuknya gletser.

Proses terjadinya siklus hidrologi panjang melalui beberapa tahapan yaitu sebagai berikut (Sembiring, 2020):

  • Akibat proses pemanasan dari cahaya matahari air laut mengalami evaporasi dan menjadi uap air.
  • Selanjutnya, uap air tersebut mengalami proses sublimasi yakni uap air berubah menjadi awan yang mengandung kristal es.
  • Kemudian, awan tersebut akan bergerak menuju daratan karena terbawa oleh angin.
  • Lalu, awan yang mengandung kristal tersebut akan mencapai suhu dan waktu tertentu dan mengalami presipitasi sehingga akan jatuh ke permukaan bumi dalam bentuk hujan salju.
  • Salju yang tertumpuk kemudian akan berubah dan membentuk gletser.
  • Setelah beberapa waktu, gletser kemudian terkena sinar matahari sehingga mencair menjadi air dan kemudian mengalami run off serta mengalir ke permukaan tanah dan selanjutnya teralirkan menuju sungai.
  • Air yang mengalir di sungai tersebut kemudian akan mengalir lagi ke laut.

Pustaka:

Fitriyanti, Z. 2019. Analisis Hidrologi Untuk Penentuan Debit. KURVAS: Jurnal Keilmuan dan Aplikasi Teknik Sipil 1 (1): 793-805.

Naharuddin, Harijanto, H., & Wahid, A. 2018. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Aplikasinya dalam Proses Belajar Mengajar. Untad Press. Palu.

Sembiring, R. F. BR. 2020. Analisis Kesulitan Belajar Materi Siklus Air Pada Mata Pelajaran Ipa Kelas V SDN 105316 Beranti Kec. Stm Hilir Tahun Ajaran 2019/2020. Skripsi. Universitas Quality. Medan