Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu Oleoresin

Mutu oleoresin dipengaruhi oleh beberapa faktor mulai dari jenis tanaman, umur pemanenan, perlakuan pada bahan sebelum diekstraksi, sistem dan kondisi ekstraksi, perlakuan terhadap oleoresin setelah ekstraksi, serta pengemasan dan penyimpanan (Ketaren, 1980).

1. Jenis Tanaman

Oleoresin pada umumnya dapat diperoleh dari hasil ekstraksi berbagai jenis tumbuhan baik itu tumbuhan budidaya maupun tumbuhan yang berasal dari hutan. Mutu oleoresin yang dihasilkan dari tanaman sangat berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman yang dihasilkan.

Umumnya jenis tanaman yang paling banyak memiliki kandungan oleoresin adalah jenis rempah-rempah. Akan tetapi, oleoresin yang dihasilkan dari berbagai jenis rempah-rempah sangat peka terhadap cahaya, panas, oksigen, serta masa pakai yang cukup pendek apabila penyimpanannya tidak dilakukan dengan benar.

Mutu oleoresin dipengaruhi oleh beberapa faktor mulai dari jenis tanaman, umur pemanenan, perlakuan pada bahan sebelum diekstraksi, sistem dan kondisi ekstraksi, perlakuan terhadap oleoresin setelah ekstraksi, serta pengemasan dan penyimpanan (Ketaren, 1980).

Salah satu penghasil oleoresin terbanyak dari jenis rempah adalah biji pala. Banyaknya oleoresin dalam suatu jenis bahan dibuktikan dengan tingginya rendemen yang dihasilkan oleh bahan tersebut. Assagaf et al. (2012) melalui penelitiannya membenarkan bahwa biji pala memiliki kandungan oleoresin yang cukup banyak dengan nilai rendemen 15,17% dimana senyawa non volatil penyusunnya terdiri dari Methyleogenol dan Myristicin.

2. Umur Pemanenan

Selain dari jenis tanaman, faktor yang mempengaruhi mutu oleoresin selanjutnya adalah umur tanaman saat melakukan pemanenan. Di beberapa jenis tanaman seperti jahe memiliki kandungan oleoresin yang tinggi saat masih berumur muda. Hal ini dikarenakan, jahe pada umur muda mengandung banyak minyak atsiri. Sedangkan pada waktu tanaman berumur tua, maka kandungan oleoresin yang dimilikinya semakin berkurang dan rasanya semakin pekat seperti pahit dan pedas.

3. Perlakukan pada Bahan Sebelum Diekstraksi

Perlakukan pada bahan sebelum diekstraksi juga berpengaruh penting pada perolehan oleoresin yang dimiliki oleh tanaman. Umumnya, sebelum ekstraksi, perlakuan yang baik untuk memperoleh oleoresin yang lebih banyak adalah dengan melakukan pengeringan udara pada tanaman yang akan diekstraksi. Pengeringan diusahakan terhindar dari sinar matahari. Hal ini dikarenakan pada suhu tertentu senyawa yang terdapat di dalam jenis tanaman memiliki titik didih tertentu sehingga cahaya matahari diduga dapat menguapkan senyawa yang ada di dalamnya.

Kunjungi juga : Pengertian Oleoresin Menurut Ahli Terbaru

Selain dari matahari, pelakuan sebelum ekstraksi yang tidak kalah penting adalah pemotongan bahan dan pengecilan ukuran tanaman saat melakukan ekstraksi. Biasanya, jenis tanaman yang dipotong dan digiling menjadi ukuran yang lebih kecil seperti ukuran 40 dan 60 mesh akan diperoleh kandungan oleoresin yang cukup banyak. Hal ini dikarenakan kontak antara pelarut dengan bahan lebih besar yang menyebabkan laju difusi yang terjadi semakin pendek sehingga senyawa yang terdapat di dalam bahan lebih cepat dan banyak tertarik oleh pelarut.

Pengadukan juga termasuk sebagai perlakuan bahan sebelum diekstraksi atau tepatnya saat melakukan ekstraksi terhadap bahan. Saat pengadukan, akan mempercepat perpindahan komponen zat ke dalam pelarut. Umumnya, perpindahan komponen zat ini terjadi disekitar bahan yang diaduk sehingga untuk memperoleh hasil yang maksimal maka pengadukan dilakukan secara merata ke seluruh bahan yang diekstrak.

4. Sistem dan Kondisi Ekstraksi

Sistem ekstraksi serta kondisi ekstraksi pada suatu bahan juga mempengaruhi kandungan oleoresin yang terdapat di dalam suatu jenis tanaman. Sistem ekstraksi yang digunakan biasanya terdiri dari destilasi, maserasi, infundasi, perkolasi, rendering, refluks, sokletasi, dan ultrasonik. Penggunaan dari beberapa sistem ekstraksi tersebut disesuaikan dengan jenis bahan yang akan diekstrak. Sistem ekstraksi tersebut juga memiliki kekurangan dan kelebihan disetiap sistemnya.

Kondisi ekstraksi akan berpengaruh terhadap perolehan mutu oleoresin. Mutu oleoresin akan lebih baik apabila kondisi ekstraksi stabil dimana konsentrasi zat terlarut dengan zat pelarut menjadi setimbang sehingga menyebabkan terjadinya pelepasan senyawa dari bahan yang diekstrak ke pelarut. Hal ini diakibatkan oleh adanya gaya dorong pada kondisi ekstraksi yang setimbang.

5. Perlakuan Terhadap Oleoresin Setelah Ekstraksi

Setelah ekstraksi selesai maka perlu pemindahan campuran dari hasil ekstraksi ke tempat yang lebih aman. Biasanya, tempat yang digunakan adalah pada labu erlen meyer atau gelas-gelas kimia yang akan ditutupi dengan aluminium foil. Pemindahan ini perlu dilakukan dengan melakukan penyaringan pada bahan menggunakan kertas saring. Hal ini dilakukan supaya partikel bahan ekstrak tidak ikut terbawa kedalam larutan yang diperoleh sebagai hasil ekstraksi.

Kunjungi juga : Pengertian, Sumber, Cara, Manfaat, dan Keuntungan Oleoresin

Setelah larutannya diperoleh makan perlu melakukan kegiatan pemisahan antara senyawa filtrat dan residu. Filtrat merupakan oleoresin sedangkan residu merupakan sisa pelarut yang terdapat pada hasil ekstraksi. Biasanya, pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan alat rotary evaporator atau menggunakan oven.

6. Pengemasan dan Penyimpanan

Setelah memisahkan residu dari filtrat (oleoresin), kemudian filtrat tersebut diletakkan pada tempat atau wadah yang telah disediakan. Tempat yang baik untuk meletakkan oleoresin adalah pada botol yang memiliki tutup. Kemudian, botol tersebut dibungkus dengan aluminium foil dengan beberapa lapisan dan diletakkan di dalam kulkas pendingin. Hal ini dilakukan supaya oleoresin yang diperoleh tidak terkontaminasi dengan senyawa lainnya sehingga mutu oleoresin yang dihasilkan sangat baik.

Pustaka:

Assagaf, M., Hastuti, P. Hidayat, C. & Supriyadi. 2012. Optimasi Ekstraksi Oleoresin Pala (Myristica Fragrans Houtt) Asal Maluku Utara Menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Agritech 32 (4): 383-391. DOI:  https://doi.org/10.22146/agritech.9581

Ketaren, S. 1980. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka. Bogor