Proses Pengolahan Rotan

Rotan merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang tumbuh secara merambat yang dalam skala besar dijadikan sebagai bahan baku industri. Produk yang dihasilkan dari rotan merupakan produk yang sudah jadi. Produk jadi rotan merupakan rotan yang telah melalui tahap-tahap pengolahan. Tahap pengolahan adalah tahap kegiatan pengerjaan selanjutnya dari bahan baku rotan bulat menjadi barang setengah jadi dan barang jadi. Selain itu, rotan juga menghasilkan produk siap jadi atau siap digunakan.

Proses pengolahan rotan melewati beberapa tahap yakni pengambilan bahan baku, sortasi, penggorengan, penggosokan dan pencucian, pengeringan, pengupasan dan pemolesan, pengasapan, pengawetan, dan pembengkokan.

Proses pengolahan rotan melewati beberapa tahap yakni pengambilan bahan baku, sortasi, penggorengan, penggosokan dan pencucian, pengeringan, pengupasan dan pemolesan, pengasapan, pengawetan, dan pembengkokan.
Sumber Gambar : tirto.id

1. Pengambilan Bahan Baku

Memproduksi suatu produk dari bahan baku rotan tentunya langkah yang pertama adalah dengan menyiapkan bahan baku yang diperlukan. Bahan baku rotan biasanya diperoleh di dalam kawasan hutan baik itu hutan beriklim subtropis maupun hutan beriklim tropis. Pengambilan rotan di dalam kawasan hutan dilakukan dengan menggunakan parang untuk memotong. Pengambilan rotan di dalam kawasan hutan dapat dipotong berdasarkan ukuran bahan baku yang akan digunakan atau pun memotong seluruh bagian yang ingin dimanfaatkan. Bagian rotan yang dipotong tersebut kemudian diikat dan dibawa ke tempat pengumpulan.

2. Sortasi

Setelah sampai di tempat pengumpulan rotan kemudian disortasi. Sortasi merupakan proses pemisahan rotan dari berbagai bahan lainnya yang tidak dibutuhkan. Pemisahan ini dilakukan berdasarkan ukuran atau ketentuan tertentu seperti warna, bentuk bahan, tekstur, komposisi bahan, bau dan lain-lain. Pemisahan rotan dari bagian-bagian yang tidak digunakan termasuk limbah rotan.

3. Penggorengan

Penggorengan rotan merupakan proses memasukkan bagian rotan yang telah dipotong dan telah diikat ke dalam wadah yang telah disiapkan. Biasanya, penggorengan rotan dilakukan dengan mengisi wadah menggunakan minyak kelapa yang telah dicampur dengan solar atau minyak tanah. Penggunaan minyak pada penggorengan ini dilakukan supaya getah pada rotan dapat terlarutkan. Tujuan utama dari kegiatan penggorengan ini ialah supaya kadar air yang terkandung di dalam batang rotan menjadi turun. Selain itu, kegiatan penggorengan juga dapat mempercepat pengeringan batang rotan serta serangan jamur perusak dapat tercegah.

4. Penggosokan dan Pencucian

Setelah proses yang ketiga selesai maka rotan kemudian dibiarkan beberapa menit dengan melakukan penirisan. Kegiatan penirisan ini dilakukan supaya minyak kelapa dengan campuran solar saat penggorengan dapat terpisah dari batang rotan yang digoreng. Selanjutnya, setelah melewati tahap tersebut rotan kemudian digosok dengan menggunakan sabut kelapa atau juga menggunakan kain perca yang telah dicampur dengan serbuk gergajian. Tujuannya adalah untuk membersihkan kulit rotan dari sisa kotoran terutama getahnya. Kegiatan tersebut akan membuat rotan menjadi semakin bersih dan mengkilat sehingga warna kulit rotan menjadi cerah.

5. Pengeringan

Pengeringan merupakan proses pengeluaran air dari dalam bahan dengan bantuan energi panas ke udara terbuka sampai mencapai kadar air tertentu (Rachman & Jasni, 2013). Kegiatan pengeringan rotan dilakukan di bawah sinar matahari sampai kadar air yang terkandung di dalamnya sudah mencapai batasan tertentu. Umumnya, kegiatan pengeringan rotan di bawah sinar matahari merupakan kegiatan lanjutan dari proses pengeringan sehingga waktu yang dibutuhkan rotan untuk cepat kering lebih singkat (Basri & Karnasudirja, 1987). Selain itu, kegiatan pengeringan di bawah sinar matahari menjadi alternatif terbaik dalam pengolahan rotan karena di Indonesia diperoleh sinar matahari yang sangat melimpah.

Kunjungi juga : Klasifikasi, Morfologi, Manfaat, Penyebaran, dan Sifat Rotan

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian Basri & Karnasudirja (1987) dengan memanfaatkan dua jenis rotan yakni rotan manau dan semambu menjelaskan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengeringan pada rotan secara alami adalah selama 22 hari sampai 65,3 hari dengan laju pengeringan setiap harinya 1,09% sampai 2,17% dan kadar air yang diperoleh berada pada kisaran 18,35% sampai 19,19%.

6. Pengupasan dan Pemolesan

Pengupasan rotan merupakan proses memisahkan rotan yang sudah siap digunakan untuk menghilangkan kulit luar penutup rotan. Sedangkan pemolesan merupakan pemberian zat tertentu pada batang rotan sehingga lebih mengkilat dan juga seragam. Kegiatan pengupasan dan pemolesan umumnya dilakukan pada bagian batang rotan yang telah kering. Hal ini dikarenakan pengupasan yang dilakukan pada bagian batang rotan kering menghasilkan mutu yang sangat baik dari pada pengupasan pada bagian batang rotan basah.

Namun tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan pengupasan pada batang rotan yang masih basah. Akan tetapi, pengupasan yang dilakukan pada bagian batang rotan yang masih basah akan menghasilkan rendemen serta cacat serat berbulu dan kepatahan serat lebih tinggi sehingga untuk kegiatan pengupasan pada batang rotan basah diperlukan rekayasa alat (Basri et al., 1998).

7. Pengasapan

Kegiatan pengasapan dilakukan supaya warna rotan menjadi rata serta mengkilap. Umumnya, rotan yang diasapi akan menghasilkan warna kekuningan. Selanjutnya kegiatan pengasapan dilakukan saat rotan telah kering dan secara alami masih memiliki kulit. Kegiatan pengasapan dilakukan dengan memanfaatkan belerang dengan tujuan warna dan kilap yang dihasilkan mengalami peningkatan. Pengasapan membutuhkan waktu berjam-jam bahkan dapat mencapai setengah hari.

8. Pengawetan

Pengawetan rotan merupakan proses pemberian zat kimia pada batang rotan. Tujuan pemberian zat ini supaya masa pakai rotan bertahan lama serta meminimalisir kerusakan rotan akibat organisme perusak. Bahan pengawet yang digunakan umumnya memiliki sifat racun terhadap berbagai jenis organisme perusak rotan dalam keadaan basah atau pun kering.

Selain memperhatikan dari sifat bahan pengawet tersebut, penggunaan zat untuk pengawet juga perlu bahan yang aman untuk digunakan serta pada saat pengangkutan tidak berdampak negatif. Lebih lanjut, bahan yang digunakan juga harus permanen di dalam batang rotan. Artinya bahan pengawet yang digunakan tidak hanya bersifat sementara dan korosif. Selain itu, kesediaan bahan pengawet ini juga harus memiliki harga yang murah dan banyak dijumpai sehingga lebih mudah untuk mendapatkannya.

9. Pembengkokan

Pembengkokan atau pelengkungan rotan merupakan proses membentuk rotan sesuai dengan bentuk yang diinginkan atau lazimnya sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pembengkokan rotan biasanya dilakukan pada rotan berukuran besar. Pembengkokan rotan dilakukan dengan memanfaatkan panas. Tujuannya supaya jaringan rotan menjadi lunak sehingga bisa lebih mudah dibentuk.

Kunjungi juga : Tanaman Kayu Manis (HHBK)

Proses pembengkokan pada awalnya memerlukan panas api dimana bagian rotan yang ingin dibengkokkan diletakkan di atasnya dan dilakukan penekanan pada bagian tertentu menggunakan alat pembengkok saat keadaan rotan masih panas. Selanjutnya seiring dengan perkembangan jaman serta untuk memperoleh hasil yang efisien dilakukan pembengkokan menggunakan uap panas. Cara ini lebih efektif penggunaannya karena terhindar dari hitam serta kebakaran rotan. Cara ini juga dinilai lebih cepat dari pada dipanaskan melalui api.

Meskipun cara kedua ini dianggap lebih efektif, namun tetap saja akan menghasilkan kerusakan pada rotan yang dibengkokkan. Secara umum, kerusakan yang terjadi berupa rotan menjadi pecah, bagian rotan patah, atau terjadinya gembos pada rotan. Selanjutnya, pembengkokan pada rotan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan DMSO terutama pada rotan manau dan rotan minang.

Pustaka:

Basri, E. & Karnasudirja, S. 1987. Pengaruh Penggorengan dan Cara Pengeringan Terhadap Sifat Rotan Balukbuk (Calamus burckianus) dan Rotan Seuti (Calamus ornatus). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 4 (1): 17-21. DOI https://doi.org/10.20886/jphh.1987.4.1.17-21

______________________. 1987. Perilaku Pengeringan Rotan Manau (Calamus manau Miq.) dan Rotan Semambu (Calamus scipionum Lour). Jurnal Penelitian Hasil Hutan 4 (1): 12-16. DOI https://doi.org/10.20886/jphh.1987.4.1.12-16

Basri, E., Rachman, O., & Supriai, A. 1998. Pengupasan dan Pemolisan Rotan dalam Keadaan Basah dan Kering. Buletin Penelitian Hasil Hutan 15 (8): 475-487. DOI https://doi.org/10.20886/jphh.1998.15.8.475-487

Rachman, O. & Jasni. 2013. Rotan Sumberdaya, Sifat dan Pengolahannya. Cetakan ke 3. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta