Faktor Perusak Kayu dan Pengawetannya

Faktor perusak kayu merupakan suatu komponen dengan variabel tertentu yang dapat menyebabkan kayu mengalami kerusakan berupa adanya lubang pada kayu. Kerusakan yang terjadi pada kayu tersebut dapat mengakibatkan penurunan terhadap kualitas kayu seperti kekuatannya, harga jual-nya, serta nilai penggunaan kayu tersebut. Faktor perusak kayu dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu faktor yang disebabkan oleh makhluk hidup dan non makhluk hidup. Faktor perusak kayu yang disebabkan oleh makhluk hidup berupa serangan organisme jenis jamur, serangga, dan binatang laut. Sedangkan faktor perusak kayu yang disebabkan oleh non makhluk hidup berupa faktor fisik, kimia, dan mekanik (Dumanauw, 1990).

Faktor perusak kayu merupakan suatu komponen dengan variabel tertentu yang dapat menyebabkan kayu mengalami kerusakan berupa adanya lubang pada kayu. Faktor perusak kayu yang disebabkan oleh makhluk hidup berupa serangan organisme jenis jamur, serangga, dan binatang laut. Sedangkan faktor perusak kayu yang disebabkan oleh non makhluk hidup berupa faktor fisik, kimia, dan mekanik (Dumanauw, 1990). Setelah adanya pengetahuan bahwa faktor perusak kayu utamanya ialah jenis makhluk hidup tertentu, maka kayu jelas dapat dilindungi dengan cara mengawetkan.  

1. Faktor Perusak Kayu yang Disebabkan oleh Makhluk Hidup 
Makhluk hidup perusak kayu dapat ditemukan dengan beraneka macam. Serangan dari faktor perusak ini sangat agresif dan dapat menurunkan hasil keawetan serta umur penggunaan kayu. Di dalam faktor perusak kayu yang disebabkan oleh makhluk hidup terdapat jenis yang menjadikan komponen kayu sebagai makanannya, adanya jenis yang dapat menyebabkan pelapukan, jenis pengubah komponen kimia, serta jenis pengubah warna kayu. Beberapa jenis serangga memakan selulosa kayu dengan melubanginya dan selanjutnya menjadikannya tempat tinggal. Adapun jenis-jenis makhluk hidup perusak kayu antara lain (Dumanauw, 1990) sebagai berikut.
  • Jamur yang tergolong dari dua bagian yakni cendawan atau fungi merupakan jenis tumbuhan bersel satu yang memanfaatkan spora untuk berkembang biak, serta bertahan hidup sebagai parasit. Umumnya jamur hidup sangat subur didaerah yang lembab. Jamur terkenal sebagai perusak kayu basah. Hanya ada beberapa jenis jamur saja yang menyerang kayu kering. Umumnya, pengaruh serangan jamur pada kayu dicirikan dengan terjadinya pelapukan serta pembusukan kayu. Selain itu, perubahan warna pada kayu juga dapat disebabkan oleh serangan jamur.
  • Jenis serangga merupakan perusak kayu yang sangat hebat, terutama di daerah tropika seperti Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Serangga tersebut makan dan menempati bagian dalam kayu. Berbagai macam serangga perusak kayu terdiri dari rayap (tanah dan kayu kering) serta serangga bubuk kayu. 
  • Jenis binatang laut (marine borer). Kayu yang digunakan dan diletakkan di air laut akan mengalami kerusakan yang lebih parah bila dibandingkan di tempat lain. Serangan binatang laut ini lebih mudah mengakibatkan kerusakan kayu di semua jenis. Namun, terdapat jenis kayu yang sukar untuk dirusak oleh jenis binatang ini karena adanya kandungan ekstraktif pada kayu tersebut yang berpotensi sebagai racun terhadap binatang laut. Kayu-kayu tersebut antara lain kayu lara, kayu ulin, kayu giam, dan lain-lain.
2. Faktor Perusak Kayu yang Disebabkan oleh Non Makhluk Hidup 
Faktor perusak kayu non-makhluk hidup adalah pengaruh yang disebabkan oleh unsur pengaruh alam dan keadaan alam itu sendiri. Penjelasan faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut (Dumanauw, 1990). 
  • Faktor fisik ialah sifat alam yang mampu melakukan pengrusakan terhadap komponen kayu yang mengakibatkan umur penggunaan kayu menjadi pendek. Termaksud faktor fisik antara lain suhu dan kelembapan udara, panas matahari, api, dan air. Semua yang termaksud faktor fisik itu mempercepat kerusakan kayu jika terjadi penyimpangan, misalnya jika kayu terus menerus kena panas maka kayu akan cepat rusak.
  • Sifat mekanik terdiri atas proses kerja alam atau akibat tindakan manusia. Faktor mekanik perusak kayu yang disebut dapat terdiri dari gesekan, pukulan, tarikan, dan tekanan. Faktor mekanik ini biasanya berpengaruh penting pada tujuan pemakaian kayu.
  • Faktor kimia juga berpengaruh besar terhadap umur kayu. Faktor ini bekerja mempengaruhi unsur kimia yang mempengaruhi unsur kimia yang membentuk komponen seperti selulosa, lignin, dan hemiselulosa. Unsur kimia perusak ayu antara lain pengaruh garam, pengaruh asam, dan pengaruh basa.
3. Hubungan Pengawetan Kayu degan Faktor Perusak Kayu
Setelah adanya pengetahuan bahwa faktor perusak kayu utamanya ialah jenis makhluk hidup tertentu, maka kayu jelas dapat dilindungi dengan cara mengawetkan. Nilai pakai kayu itu sendiri akan lebih awet dan tahan terhadap perusak-perusak yang telah dijelaskan sebelumnya. Caranya ialah dengan memasukkan bahan-bahan pengawet yang beracun kedalam kayu. Pengawetan kayu secara umum berarti suatu usaha untuk menaikkan keawetan kayu dan umur pakai-nya. Sehingga keperluan akan kayu akan lebih terpenuhi.

Kunjungi juga : Cara-Cara Mengawetkan Kayu

Kayu yang memiliki umur pendek dalam penggunaannya dapat diperpanjang sesuai dengan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pengawetan kayu selalu ditunjukkan pada kayu berkeawetan rendah. Kayu berkeawetan rendah tersebutlah yang daya tahannya perlu peningkatan untuk tujuan pemakaian. Bagian terpenting dalam pengawetan kayu adalah memberikan bahan racun ke dalam jenis kayu untuk melindungi dari serangan organisme perusak kayu. Prinsip memasukkan bahan pengawet (wood presenvatif) sampai saat ini menunjukan hasil yang terbaik. Umumnya, industri pengawetan kayu menggunakan prinsip yang sama, hanya bahan pengawet, cara atau proses dalam memasukkan ke dalam kayu saja yang terdapat perbedaan (Dumanauw, 1990).

Ada berbagai alasan manusia melakukan pengawetan kayu. Alasan tersebut antara lain karena hal sebagai berikut (Dumanauw, 1990):
  • Kayu dengan kelas keawetan tinggi secara alami hanya tersedia dalam jumlah yang sangat sedikit dan sukar diperoleh dalam jumlah yang banyak, serta memiliki harga yang mahal
  • Kayu dengan kelas awet III hingga V cukup banyak dan mudah diperoleh dengan jumlah lebih banyak serta dapat dikerjakan dengan mudah. Selain itu, segi keindahannya cukup tinggi. Akan tetapi, lebih efisien melakukan pengawetan pada kayu kelas ini karena faktor keawetan yang dimilikinya kurang 
  • Di lain dengan  dengan pengawetan kayu orang berusaha mendapatkan keuntungan finansial.
Kunjungi juga : Faktor Biotik Perusak Kayu

Ada berbagai macam tujuan pengawetan kayu. Tujuan-tujuan tersebut antara lain (Dumanauw, 1990):
  1. Kayu yang memiliki umur penggunaan yang tidak panjang dapat menjadi panjang dengan memperbesar nilai keawetan
  2. Memanfaatkan pemakaian jenis-jenis kayu yang berkelas keawetan rendah dan sebelumnya belum pernah digunakan dalam pemakaian, mengingat sumber kayu di Indonesia memiliki potensi hutan yang cukup luas dan banyak aneka jenis kayunya.
  3. Pengangguran dapat diatasi dengan munculnya industri pengawetan kayu akan memberi lapangan pekerjaan.
Pustaka:
Dumanauw, J. F. 1990. Mengenal Kayu. Kanisius. Yogyakarta