Jenis-Jenis Pohon yang Hidup di Lahan Gambut

Jenis-jenis pohon yang hidup di lahan gambut biasanya jenis pohon yang memiliki kekhasan tersendri. Selain itu, jenis pohon tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi dibandingkan dengan jennis pohon lainnya. Adapun jenis pohon yang dimaksud adalah diantaranya balangeran (Shorea balangeran), bintangur (Callophylum spp), bungur (Logerstroemia speciosa), jelutung rawa (Dyera lowii), kempas (Kompasia malaccensis), meranti rawa (Shorea pauciflora), nyatoh (Palaquium spp), perepat (Combretorcarpus rotundatus), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), punak (Tetramerista glabra), ramin (Gonystylus bancanus), rengas (Melanorrhoea walichii), dan terentang (Campnosperma spp).

Jenis-jenis pohon yang hidup di lahan gambut biasanya jenis pohon yang memiliki kekhasan tersendri. Selain itu, jenis pohon tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi dibandingkan dengan jennis pohon lainnya. Adapun jenis pohon yang dimaksud adalah diantaranya balangeran (Shorea balangeran), bintangur (Callophylum spp), bungur (Logerstroemia speciosa), jelutung rawa (Dyera lowii), kempas (Kompasia malaccensis), meranti rawa (Shorea pauciflora), nyatoh (Palaquium spp), perepat (Combretorcarpus rotundatus), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), punak (Tetramerista glabra), ramin (Gonystylus bancanus), rengas (Melanorrhoea walichii), dan terentang (Campnosperma spp).

1. Pohon Balangeran (Shorea balangeran)
Balangeran (Shore balangeran) adalah salah satu jenis tumbuhan yang memiliki potensial yang cukup untuk dikembangkan di hutan rawa gambut dan hidupnya secara berkelompok (Martawijaya et al, 1989). 

Pohon balangeran memiliki taksonomi menurut Suryanto et al. (2012) sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Species  : Shorea balangeran

Balangeran tersebar di berbagai daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pohon balangeran biasanya dapat mencapai ketinggian 20-25 m dengan diameter 50 cm. Balangeran memiliki tajuk dengan bentuk setengah lingkaran tidak beraturan berwarna hijau putih kekuningan dan daun yag licin kaku berwarna putih kekuningan atau kuning keputihan (Wardani & Susilo, 2016). Selain itu, daun balangeran memiliki ujung yang lancip, pangkal daun yang bulat, permukaan bagian atas akan berwarna coklat jika mengering. Pohon balangeran memiliki kulit luar yang berwarna merah tua sampai hitam dengan warna kayu teras coklat-tua serta coklat-merah dan warna kayu gubal putih kekuningan sampai merah muda. Pohon balangeran memiliki tekstur yang agak kasar dan merata dengan serat lurus dan permukaan yang licin (Suryanto et al., 2012).
  
2. Pohon Bintangur (Callophylum spp.)
Bintangur merupakan salah satu tumbuhan masa depan yang memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi sebagai bahan baku biofuel yang diekstrak dari bijinya (Soeryawidjaja, 2005). Menurut Tempesta & Michael (1993) dalam Santi (2009), biji pohon bintangur menghasilkan minyak dengan sifat toksik yang kuat sehingga sering digunakan sebagai obat dalam mengatasi rambut rontok dengan kemampuan antiparasit. 

Menurut Ritabulan (2011) taksonomi pohon bintangur sebagai berikut:
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : L Malpighiales
Famili : Guttifera
Genus : Callophylum
Species  : Callophylum spp.

Pohon bintangur yang telah dewasa dan berbubga sebanyak dua kali dalam setahun dapat tumbuh dengan ketinggian sekitar 20 meter (Yuliastrin, 2012). Selain itu, pohon bintangur dicirikan dengan ciri tajuk bersifat simetris daunnya tunggal berbentuk jorong (ovalis atau elipticus), pertulangan menyirip, ujung tumpul dengan keadaan bunga dan buah terletak pada ketiak daun (Naemah et al., 2014). Daun bintangur juga mengkilap dan kaku, buah yang banyak yang tersusun secara berkelompok dengan rasa mirip seperti buah apel. Pohon bintangur memiliki batang berbentuk lonjong dengan kulit bertekstur kasar retak-retak berwarna hitam (Yuliastrin, 2012).

Kunjungi juga : Pohon Normal dan Tidak Normal

3. Pohon Bungur (Lagerstroemia speciosa)
Pohon Bungur (Lagerstroemia speciosa) merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di lahan gambut yang berpotensi sebagai obat. Secara tradisional, tumbuhan ini digunakan sebagai ramuan obat antidiabetes. Dalimartha (2003), menjelaskan bahwa daun bungur memiliki kandungan senyawa fenolik seperti flavonoid dan tanin. Senyawa-senyawa fenolik menurut Patel et al. (2012) memiliki aktivitas anti hiperglikemik. Senyawa fenolik seperti flavonoid juga merupakan salah satu agen antioksidan alami (Shan et al., 2005). 

Taksonomi pohon bungur menurut Heyne (1987) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub devisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub Kelas : Dialypetalae
Kingdom  : Myrtales
Ordo : Lythraceae
Genus : Lagerstroemia
Spesies : Lagerstroemia speciosa Pers

Pohon bungur dapat tumbuh dengan ketinggian 24 meter. Pohon bungur memiliki daun mahkota yang keriting (crinkly) seperti kertas krep. Mahkota bunga ini berjumlah 5 untuk setiap bunganya. Bunganya merupakan bunga majemuk bentuk malai (panicula), yang tumbuh di ujung cabang atau di ketiak daun yang tinggi, bunganya berwarna lembayung muda, pink atau putih. Pohon bungur memiliki daun tunggal, bertangkai pendek, bentuknya oval atau ellips memanjang. Buahnya adalah buah kapsul yang berkayu, berbentuk bola sampai bulat memanjang. Batang pohon bungur memiliki bercak-bercak warna kuning yang tidak teratur (Dwiyani, 2013).

4. Pohon Jelutung Rawa (Dyera lowii)
Jelutung rawa merupakan jenis tanaman asli yang hidup di rawa gambut, dan dapat ditemukan tumbuh tersebar di daerah di pulau Kalimantan, Sumatera, dan Semenanjung Malaysia (Tata, et al., 2015). Jelutung rawa (Dyera lowii) bisa tumbuh di daerah gambut seperti kawsan hutan produksi bekas tebangan dan kebakaran, zona penyanggah kawasan konservasi, lahan usaha transmigrasi daerah rawa yang kuran sesuai tanaman pangan dan lahan rawa tidak produktif milik masyarakat (Bastoni, 2014). 

Menurut Corner & Watanabe (1969), pohon jelutung rawa memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kingdom  : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Apocynales
Famili : Apocynaceae
Genus : Dyera
Spesies : Dyera lowii Hook. F.

Pohon jelutung rawa memiliki ukuran besar dengan ketinggian dapat mencapai 60 meter dan diameter 260 sentimeter. Pohon jelutung rawa memiliki tajuk yang tipis (Wibisino, dkk., 2005).  Daun jelutung rawa berbentuk oval berwarna hijau dengan ujungnya berlekuk, dan pangkal daun bulat. Buanya berupa buah polong yang saling berhadapan dengan warna coklat tua ketika sudah tua. Batang jelutung rawa lurus berbentuk bulat silidris dengan kulit coklat kehijauan atau coklat kehitaman berukuran tipis sampai sedang, dan memilii lentisel. Selain itu, jelutung rawa juga menghasilkan etah berwarna putih hingga krem serta memiliki akar nafas (Soepadmo et al., 2002). 
5. Pohon Kempas (Kompasia malaccensis)
Kempas merupakan merupakan jenis kayu yang bernilai ekonomi tinggi dan merupakan tempat lebah madu bersarang sehingga jika tidak dijaga kelestariannya menyebabkan menurunnya jumlah dari jenis ini. Kempas dapat dikenali dari bentuk batangnya yang tinggi menjulang, berwarna keputih-putihan dengan tinggi cabang pertama dapat mencapai 30 meter. Percabangan pertama yang besar dan tinggi serta kulit kayunya yang licin menjadi salah satu hal yang disukai lebah madu untuk membuat sarang (Takong et al., 2013). 

Menurut Tjitrosoepomo (2007), pohon kempas memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta 
Kelas : Magnoliopsida 
Ordo : Fabales 
Famili : Caesalpiniaceae 
Genus : Koompassia 
Spesies : Koompassia malaccensis Maing. ex Benth.

Pohon kempas (Kompasia malaccensis) dapat tumbuh dengan tinggi 60 m dengan diameter 60-100 cm. Daun pohon kempas bergabung dalam satu tangkai dengan buah tipis dan dikelilingi sayap. Pohon ini memiliki kulit btang yang halus dan sedikit memiliki celah dengan warna abu-abu tua sampai krem. Selain itu, pohon kempas ini memiliki akar papan atau akar berbanir dan tidak menghasilkan getah (Thomas, A.).

6. Pohon Meranti Rawa (Shorea pauciflora)
Meranti rawa salah satu pohon dari jenis shorea yang dapat tumbuh hidup di hutan hujan bawah, hutan merawa, serta hutan rawa gambut dangkal (Yulianto, 2014). Jenis pohon ini juga sering disebut meranti ketuko (meranti merah/tengkawang) dengan daerah penyebaran Kalimantan, Maluku, dan Sumatera (Barkah, 2009). 

Meranti rawa memiliki taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Tidak termasuk : Angiospermae
Tidak termasuk : Eudikotil
Tidak termasuk : Rosidae
Ordo : Malvales
Famili : Dipterocarpaceae 
Genus : Shorea
Spesies : Shorea pauciflora

Pohon meranti rawa dapat tumbuh hingga ketinggian mencapai 50 meter dengan diameter sampai 100 cm. Pohon ini memiliki batang silidris dan sebagian berbanir. Kulit pohon memiliki ketebalan lebih dari 5 milimeter dengan warna kelabu hingga coklat. Selain itu, pohon ini memiliki buah berukran sedang sampai besar dengan bentuk yang bulat dan berujung lancip serta mempunyai enam sayap (Barkah, 2009).

Kunjungi juga : Pohon Waru (Hibiscus tiliaceus)

7. Pohon Nyatoh (Palaquium spp.)
Pohon nyatoh merupakan bagian plasma nutfah hayati serta berperan penting dalam berbagai objek pendapatan (Florensius, et al., 2018). Pohon nyatuh adalah pohon yang termasuk di dalam suku Sapotaceae yang memiliki kandungan senyawa ekstraktif yang berasal dari golongan lipofilik (Brata et al., 1999). 

Taksonomi pohon nyatoh menurut Seputra (2013) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae 
Divisi : Magnoliophyta 
Kelas : Magnoliopsida 
Ordo : Ericales 
Famili : Sapotaceae 
Genus : Palaquium 
Spesies : Palaquium spp.

Pohon nyatoh merupakan pohon yang dapat tumbuh dengan ketinggian mencapai 30-45 meter dengan diameter berada pada antara 50 sampai 100 cm. Pohon nyatoh ini memiliki daun yang mengumpul pada ranting bagian ujung, berbentuk bulat telur sungsang (obovate) dan juga lonjong elliptik, serta tunggal. Secara umum, pohon bersesies Palaquium spp. ini memiliki satu atau beberapa tulang daun tertier diantara tulang daun sekunder (Tantra, 1979). Batang dari pohon nyatoh memiliki bentuk silidris dan lurus dengan beberapa diamntaranya memiliki banir dengan kulit memiliki warna yang bervariasi dari coklat, kelabu coklat, merah coklat, merah tua, dan agak hitam. Pohon ini memiliki tekstur yang agak halus dan agak kasar serta merata dengan permukaan kayunya sedikit licin dan mengkilap (Martawijaya, dkk., 2005).

8. Pohon Perepat (Combretorcarpus rotundatus)
Pohon eerepat (Combretorcarpus rotundatus) merupakan salah satu jenis pohon yang hidup di lahan gambut. Selain itu, pohon ini juga dikenal dengan nama pohon tumih. Pohon perepat termasuk dalam jenis tumbuhan edemik Kalimantan. 

Taksonomi dari pohon perepat adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Devisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Anisophylleales
Famili : Anisophylleaceae
Genus : Combretorcarpus
Spesies : Combretorcarpus rotundatus (Miq.) Danser

Pohon perepat memiliki ukuran yang besar an dapat tumbuh dengan mencapai ketinggian 20-30 meter dengan diameter 50-80 cm (Panda, et al., 2013). Pohon perepat memiliki daun yang tersusun secara berseling (daun majemuk menyirip) dengan bentuk pada bagian pangkal mengerucut dan pada bagian ujung membulat. Bunga dari pohon ini berwarna kuning dengan buah mengandung satu pucuk yang memiliki bentuk seperti kumparan (Viantri, 2011). Pohon perepat memiliki permukaan kulit batang tidak beraturan berwarna coklat terang sampai coklat keabu-abuan. Jenis pohon ini memiliki akar nafas.

9. Pohon Pulai Rawa (Alstonia pneumatophora)
Pohon pulai rawa adalah salah satu jenis pohon yang hidup secara alami di daerah tropika dan memiliki penyebaran yang luas di berbagai nusantara (Heyne, 1987). 

Taksonomi dari jenis pohon pulai rawa ini menurut Syamsuhidayat & Hutapea (1991) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Apocynales
Famili : Apocynaceae
Genus : Alstonia
Spesies : Alstonia pneumatophora 

Pohon Alstonia pneumatophora dapat hidup dan tumbuh sampai memiliki tinggi sekitar 40-45 metera dengan diameter maksimalnya sekitar 100 cm. Daun pohon ini memiliki bentuk elips-obovate yang terletak pada satu rangkaian dengan jumlah 3 sampai 8 lembar (Corner, 1940). Pohon ini memiliki bentuk batang lurus dan ramping dengan bagian atas bulat melingkar sedangkan bagian bawahnya memiliki sudut. Alstonia pneumatophora memiliki kulit berwarna kelabu sampai kuning dan tidak mengelupas. Selain itu, pohon ini mengandung cairan getah berwarna putih dan akar napas yang berukuran besar (Heyne, 1987).

Kunjungi juga : Mengenal Pohon Kapur (Dryobalanops camphora Colebr)

10. Pohon Punak (Tetramerista glabra)
Jenis Tetramerista glabra termasuk dalam jenis pohon yang digunakan untuk melakukan rehabilitasi pada lahan gambut yang terdegradasi (Alimah, 2014). Selanjutnya dilaporkan oleh Rachmadi, dkk. (2011) bahwa pohon punak termasuk dalam jenis pohon yang memiliki kemampuan yang baik dalam beradaptasi pada ekosistem hutan rawa gambut yang terdegradasi (rusak). 

Taksonomi dari jenis pohon punak ini menurt Alimah (2014) adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Angiospermae
Ordo : Dicotyledones
Famili : Theaceae
Genus : Tetrameristra
Spesies : Tetrameristra glabra
Sinonim : Tetrameristra crassifolia Hallier dan Tetrameristra montana Hallier

Pohon ini dapat tumbuh sampai memiliki tinggi 37 meter dengan diameter maksimal sekitar 150 cm. Daun pohon punak tunggal tanpa disertai daun penumpu dan berpusat pada ujung ranting dengan keadanan berselang-seling dan tulang daun yang menyirip. Bunga dari pohon ini memiliki warna hijau kekuningan dan warna buah hijau keunguan (Alimah, 2014).

11. Pohon Ramin (Gonystylus bancanus)
Pohon ramin merupakan salah satu jenis tumbuhan yang hidup di lahan gambut yang pada usia muda memerlukan naungan untuk pertumbuhannya. Muin (2009) menjelaskna bahwa pertumbuhan yang optimal pada bibit jenis Gonystylus bancanus akan terjadi apabila permudaan yang dilakukan memiliki naungan yang rapat. 

Taksonomi dari pohon ramin yang dikemukakakan oleh Keng (1960) adalah sebagai berikut:
Devisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Myrtales
Famili : Gonystlaceae
Genus : Gonystylus
Spesies : Gonystylus bancanus Miq. Kurz

Pohon Gonystylus bancanus dapat tumbuh dengan tinggi mencapai 40-50 m dan besar diameternya sekitar 30-120 cm. Gonystylus bancanus memiliki batang yang lurus dan tidak berbanir, memiliki kulit yang tebal sekitar 2 cm serta memiliki akar lutut (Soetopo et al., 1958). Gonystylus bancanus berdaun tunggal dan tersusun secara bertingkat tanpa adanya penumpu (stipulate) dan berbentuk bulat telur dengan pucuk berukuran pendek. Pohon ini juga memiliki tulang daun yang rapat. Bunga dari jenis pohon ini memiliki kelopak bunga (Soediarto et al., 1963). Selain itu, Gonystylus bancanus juga memiliki buah yang berkulit keras berbentuk bulat dengan biji berbentuk bulat telur dan agak kasar (Shaw, 1954).

12. Pohon Rengas (Melanorrhoea walichii)
Rengas merupakan salah satu tumbuhan yang hidup di lahan gambut. Biasanya jenis Melanorrhoea walichii juga disebut sebagai rengas burung dan rengas kiung. Kayu rengas digunakan sebagai bahan konstruksi, bangunan rumah, furnitur, dan perahu (Putra et al., 2011). Pohon rengas memiliki batang berbentuk silidris dengan permukaan kulit menyerpih hingga bersisik agak cklat dan bergetah hitam. Getah Melanorrhoea walichii tersebut bersifat racun sehingga apabila terkena pada kulit akan mengalami iritasi. Jenis pohon ini memiliki banir (Putra et al., 2011)

13. Pohon Terentang (Campnosperma spp.)
Pohon terentang merupakan termasuk jenis tumbuhan yang hidup di lahan gambut yang tersebar di berbagai daerah Indonesia. Penyebaran jenis pohon ini di Indonesia meliputi Bangka, Kalimantan, dan Sumatera. Jenis pohon terentang ini merupakan jenis pohon yang memiliki daun berhadapan tanpa stipula. Bunga jenis pohon ini berbentuk majemuk pada ujung tangkai.

Kunjungi juga : Manfaat Pohon Kapur (Dryobalanops camphora Colebr)

Pustaka:
Alimah, D. 2014. Studi Karakteristik Dan Potensi Punak (Tetramerista glabra) Sebagai Jenis Tanaman Rawa Gambut Multiguna. Galam 7 (2): 1-8
Barkah, B. S. 2009. Panduan Pembangunan dan Pengelolaan Persemaian Desa Program Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Berbasis Masyarakat Di Areal MRPP Kabupaten Musi Banyuasin. MRPP. Palembang
Bastoni. 2014. Budidaya Jelutung Rawa (Dyera lowii Hook. F). Balai Penelitian Kehutanan Palembang. Palembang
Brata, et al.1999. Efek Termitisida Ekstraktif Kayu Pterocarpus indicus Willd Dan Palaquium gutta Baill Ternadap Rayap Tanah Coptotermes cuwignathus Nolrngren (isoptera: Rhinotermitidae). Pusat Antar Universifas IImu Hayat IPB. Bogor
Corner, F. J. H. 1940. Averrhoa (Oxalidaceae) in Wayside Trees of Malaya
Dalimartha, S. 2003. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia, Jilid II. Trubus Agriwidya. Jakarta
Dwiyani, R. 2013. Mengenal Tanaman Pelindung di Sekitar Kita. Udayana University Press. Denpasar
Florensius, et al. 2018. Ekologi Dan Potensi Pohon Nyatoh (Palaquium spp) Di Hutan Sekunderareal IUPHHK - HTI PT. Bhatara Alam Lestari Kabupaten Mempawah. Jurnal Hutan Lestari 6 (2): 311-317
Heyne. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan. Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta
Martawijaya, dkk. 2005. Atlas Kayu Indoneisa Jilid I. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor
Martawijaya, et al. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Depertemen Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor
Muin, A. 2009. Teknologi Penanaman Ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) pada areal Bekas Tebangan. Badan Penerbit Universitas Tanjungpura.
Naemah et al. 2014. Model Arsitektur Pohon Jenis Bintangur (Calophyllum inophyllum L.) di Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Adam. Jurnal Hutan Tropis 2 (2): 170-175
Panda, et al. 2013. Panduan Visual Jenis Pohon Di Punggualas Taman Nasional Sebanggau, Kalimatan Tenggah: WWF- Indonesia Program Kalimantan Tenggah
Patel, et al. 2012. Natural Medicines from Plant Source used for Therapy of Diabetes Mellitus: An Overview of its Pharmacological Aspects. Asian Pacific Journal of Tropical Disease, 239-250
Putra et al. 2011. Pohon-Pohon Hutan Alam Rawa Gambut Merang. Merang REDD Pilot Project, German International Cooperation. Palembang
Ritabulan. 2011. Kajian Aspek Ekologi dan Ekonomi Nyamplung (Callophylum inophyllum L). Makalah Ekologi dan Pembangunan. Bogor
Santi, S. R. 2009. Penelusuran Senyawa Sitotoksik pada Kulit Biji Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dan Kemungkinan Korelasinya Sebagai Antikanker. Jurnal Kimia. 3 (2): 101 – 108
Seputra, D. D. 2013. Penyusunan Tabel Volume Lokal Jenis Nyatoh (Palaquium spp.) Di IUPHHK-HA PT. Mamberamo Alasmandiri, Propinsi Papua. Skipsi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Shan, et al. 2005. Antioxidant Capacity of 26 Spice Extracts and Characterization of Their Phenolic Constituents. J Agric Food Chem. Vol. 53, 7749-7759.
Shaw, A. 1954. Gonystilaceae. Spermathopyta: 350-365.
Syamsuhidayat, S.S & Hutapea, J. R. 1991. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Edisi Kedua. Departemen Kesehatan RI. Jakarta
Soediarto, R. et al. 1963. Keterangan-Keterangan Tentang Ramin (Gonystylus bancanus). LPH & LPHH. Bogor.
Soepadmo et al. 2002. Tree flora of Sabah and Sarawak. Forest Research Insitute Malaysia, Sabah Forestry Department, Sarawak Forestry Department. Malaysia.
Soerawidjaja, T.H. 2005. Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia Dalam Menghasilkan Bahan Bakar Hayati Pengganti BBM. Makalah Lokakarya: Pengembangan dan Pemanfaatan Sumber Energi Alternatif untuk Keberlanjutan Industri Perkebunan dan Kesejahteraan Masyarakat. Bandung
Suryanto et al. 2012. Budidaya Shorea balangeran di Lahan Gambut. Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru. Kalimantan Selatan
Tata, et al. 2015. Jelutung Rawa: Teknik Budidaya dan Prospek Ekonominya. ICRAF. Bogor
Tantra, et al. 1979. Status Pegetahuan Hutan Bakau di Indonesia. Prosiding Seminar I Ekosistem Mangrove. Panitia Program MAB, LIPI. Jakarta
Takong et al. 2013. Studi Penyebaran Kempas (Koompassia alaccensis Maing.) di Areal IUPHHK PT. Wanasokan Hasilindo Kalimantan Barat. Jurnal Hutan Lestari 1 (2): 117-124
Tjitrosoepomo, G. 2007. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gaddjah Mada University Press. Yogyakarta
Thomas, A. Panduan Lapangan Identifikasi Jenis Pohon Hutan Kalimantan Forests and Climate Partnership (KFCP). Indonesia-Australia Forest Carbon Partnership. Jakarta
Vianti. 2011. Konservasi In Vitro Jenis Tumbuhan Gambut Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser). Skripsi. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor
Wardani, M. & Susilo, A. 2016. Deskripsi Tempat Tumbuh, Keragaman Morfologi, dan Kandungan Senyawa Fitokimia Shorea balangeran Burck di Hutan Bangka Belitung. Buletin Plasma Nutfah 22 (2): 81-92
Wibisono, dkk. 2005. Keanekaragaman JenisTumbuhan Di Hutan Rawa Gambut. Seri Pengelolaan Hutan dan Lahan Gambut. Silvikultur 01. Wetlands. Bogor.
Yuliastrin, A. 2012. Konservasi Bintangur (Calophyllum spp.) Melalui Pemanfaatan Berkelanjutan di Batam. Tesis. Universitas Jenderal Sodeirman. Purwokerto
Yulianto, K. 2014. Panduan Lapangan: Pengenalan 101 Jenis Pohon Hutan Hujan Dataran Rendah. WWF-Indonesia. Pekanbaru.