10 Dampak Negatif Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Dampak negatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada dasarnya memiliki cangkupan yang sangat luas, baik itu terhadap alam maupun terhadap manusia. Dampak negatif akibat kebakaran hutan dapat membuat alam menjadi berubah bahkan dapat memberikan dampak yang lebih serius sehingga mempengaruhi kegiatan manusia yang berdampak pada sosial dan ekonomi pada umumnya. Sila dan Nuraeni (2009) menjelaskan bahwa dampak negatif kebakaran hutan dapat diklasifikasikan menjadi 10 bagian yaitu:
  1. Kerusakan pohon yang bernilai penting
  2. Kerusakan pada pertumbuhan tanaman muda
  3. Kerusakan terhadap tanah
  4. Kemampuan produksi hutan menjadi turun
  5. Rusaknya nilai rekreasi hutan
  6. Kehidupan satwa liar terganggu/rusak
  7. Makanan ternak menjadi rusak
  8. Mengurangi fungsi lindung hutan
  9. Fungsi lain dari hutan menjadi rusak
  10. Lingkungan hidup manusia menjadi rusak
Dampak negatif kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada dasarnya memiliki cangkupan yang sangat luas, baik itu terhadap alam maupun terhadap manusia. Dampak negatif akibat kebakaran hutan dapat diklasifikasikan menjadi 10 bagian yaitu: 1. Kerusakan pohon yang bernilai penting 2. Kerusakan pada pertumbuhan tanaman muda 3. Kerusakan terhadap tanah 4. Kemampuan produksi hutan menjadi turun 5. Rusaknya nilai rekreasi hutan 6. Kehidupan satwa liar terganggu/rusak 7. Makanan ternak menjadi rusak 8. Mengurangi fungsi lindung hutan 9. Fungsi lain dari hutan menjadi rusak 10. Lingkungan hidup manusia menjadi rusak

Beberapa kerugian akibat kebakaran hutan di atas penjelasannya diuraikan di bawah ini.

1. Kerusakan Pohon yang Bernilai Penting
Kerusakan pohon akibat kebakaran hutan dapat terjadi pada bagian bawah pohon sampai pohon terbakar seluruhnya dan menjadi abu. Terbakarnya pohon secara keseluruhan biasanya hanya terjadi pada keadaan tertentu ketika kebakaran yang terjadi sangat berat. 

Secara umum, kerusakan pohon akibat kebakaran hutan dapat menimbulkan kerusakan yang ringan maupun berat. Kerusakan yang ringan ditandai dengan layunya daun pohon tetapi tidak membuat pohon tersebut mati. Selanjutnya kerusakan yang paling berat adalah ketika pohon yang terbakar menjadi mati. Hal ini dikarenakan kambium serta lapisan lainnya yang terletak pada kulit kayu tidak berfungsi (tidak aktif) sehingga mengalami kematian. Pengaruh dari hal tersebut membuat pohon yang terbakar tidak dapat mengalami pertumbuhan tinggi maupun diameter. Searah dengan Marsoem (2013) yang menjelaskan bahwa diameter pohon mengalami penambahan akibat adanya penambahan sel yang baru dari kambium. Lorenz (1939) dalam Sila & Nuraeni (2009) mengemukakan bahwa kambium akan mengalami kematian apabila memiliki temperatur 65o-69oC.

Kerusakan pohon akibat kebakaran biasanya terdapat lebih banyak apabila kebakaran terjadi pada awal musim pertumbuhan pohon. Pada awal musim pertumbuhan, sel kambium sangat aktif dalam melakukan pembelahan sehingga memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan temperatur yang mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan kambium pada keadaan dorman. Selain itu, pohon yang telah mengalami kerusakan akibat kebakaran akan rentan terhadap serangan hama dan penyakit (Sila & Nuraeni, 2009).

2. Kerusakan pada Pertumbuhan Tanaman Muda
Dampak negatif kebakaran hutan sangat terdampak pada tanaman muda. Kebakaran akan melahap semua tumbuhan yang ada di dalam hutan tidak terkecuali dengan pohon-pohon besar. Namun, kerusakan yang terjadi pada pohon besar tidak terlalu serius bila dibandingkan dengan tanaman muda. Hal ini dikarenakan tanaman muda akan mengalami pertumbuhan yang lemah dan lebih rentan terhadap hama dan penyakit apabila terjadi kerusakan sedikit mungkin (Sila & Nuraeni, 2009).

Kunjungi juga : Fungsi, Peran, dan Tujuan Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)

3. Kerusakan Terhadap Tanah
Kerusakan terhadap tanah merupakan salah satu dampak negatif kebakaran hutan yang lebih berdampak pada sifat fisik tanah. Kerusakan sifat fisik tanah ditandai dengan pengurangan kadar humus akibat terbukanya tajuk sehingga humus di permukaan tanah terhangus. Karena hal tersebut membuat terik matahari dan hembusan angin langsung tembus ke tanah sehingga tanah mengalami kerusakan fisik seperti pengikisan lapisan tanah. Pengikisan akan lebih berdampak apabila mengalami erosi yang lebih besar (Sila & Nuraeni, 2009).

4. Kemampuan Produksi Hutan Menjadi Turun
Kerugian yang mempengaruhi kemampuan produksi hutan sehingga menjadi turun akibat dampak negatif kebakaran hutan ditandai dengan adanya penggantian jenis vegetasi dari yang berharga menjadi kurang berharga, tegakan pohon berkurang, serta pohon-pohon yang ditebang secara terpaksa sebelum waktunya (Sila & Nuraeni, 2009).

5. Rusaknya Nilai Rekreasi Hutan
Rusaknya nilai rekreasi hutan menjadi salah satu dampak negatif dari kebakaran hutan. Setelah terjadi kebakaran pada areal hutan yang awalnya dijadikan sebagai tempat rekreasi tentunya tidak lagi memiliki keindahan tertentu. Sehingga tempat rekreasi hutan yang telah mengalami kebakaran tidak lagi diminati oleh wisatawan baik lokal maupun manca negara (Sila & Nuraeni, 2009).

Kunjungi juga : Tipe Kebakaran Hutan di Indonesia

6. Kehidupan Satwa Liar Terganggu/Rusak
Hutan yang awalnya sebagai tempat hidup satwa liar akan mengalami perubahan ketika terjadi kebakaran. Sebagai dampak pada kehidupan satwa liar dari kerugian akibat kebakaran hutan adalah satwa tersebut akan mati bahkan punah apabila hutan tersebut sebagai tempat makhluk hidup yang langka (Sila & Nuraeni, 2009).

7. Makanan Ternak Menjadi Rusak   
Dampak negatif akibat kebakaran hutan membuat makanan ternak yang terdapat di dalamnya menjadi rusak. Dampak ini merupakan dampak yang berpengaruh secara tidak langsung. Kebakaran yang terjadi menimbulkan berkurangnya kerapatan vegetasi makanan ternak sebab akar tanaman menjadi hangus terbakar (Sila & Nuraeni, 2009).

8. Mengurangi Fungsi Lindung Hutan
Dampak negatif dari kebakaran hutan tentunya membuat fungsi lindung hutan menjadi berkurang. Fungsi lindung yang dimaksud adalah keberadaan serasah padan permukaan tanah sehingga melindungi tanah dari kejadian erosi (Sila & Nuraeni, 2009). Selain itu, fungsi lindung hutan sebagai pencegah banjir juga akan berkurang karena pohon yang ada di dalamnya terbakar sehingga hutan tersebut tidak lagi menyerap air sesuai dengan fungsinya sehingga dapat menimbulkan kebanjiran apabila terjadi hujan yang sangat deras.

Kunjungi juga : Faktor-faktor Sosial Penyebab Kerusakan Hutan di Indonesia

9. Fungsi Lain dari Hutan Menjadi Rusak
Fungsi lain yang dimaksud adalah sebagai pelindung dari pemukiman masyarakat sekitar hutan. Ketika terjadi kebakaran hutan maka kemungkinan dapat juga membakar pemukiman warga yang berada disekitar hutan (Sila & Nuraeni, 2009).

10. Lingkungan Hidup Manusia Menjadi Rusak
Dampak negatif ketika terjadi kebakaran hutan selanjutnya adalah kerugian yang dapat dirasakan manusia secara langsung. Hal ini terjadi karena berhubungan dengan lingkungan manusia. Ketika hutan terbakar maka akan membuat lingkungan menjadi tercemar. Salah satu dampak tersebut terlihat ketika lingkungan dipenuhi asap yang tebal sehingga mempengaruhi jarak pandang bahkan pernapasan manusia. Adanya asap dari kebakaran hutan tentunya akan membuat lingkungan menjadi tidak bersih terutama pada udara.

11. Terjadinya Bencana Ekonomi
Selain dari 10 dampak negatif sebelumnya, dampak terakhir ini bisa dijadikan sebagai dampak terakhir dari kerugian yang telah ada. Glauber, et al. (2016) menjelaskan bahwa pemerintah telah mencatat kebakaran yang terjadi selama Juni-Oktober 2015 sekitar 2,6 juta ha lahan serta hutan terbakar. Dari kebakaran tersebut diperkirakan telah menelan biaya ekonomi sekitar 221 triliun rupiah.

Pustaka:
Glauber, et al. 2016. Laporan Pengetahuan Lanskap Berkelanjutan Indonesia: 1. Kerugian dari Kebakaran Hutan (Analisis Dampak Ekonomi dari Krisi Kebakaran tahun 2015). World Bank Group. Jakarta, Indonesia.

Marsoem, S. N. 2013. Studi Mutu Kayu Jati Di Hutan Rakyat Gunungkidul. Jurnal Ilmu Kehutanan 7 (2): 108-122

Sila, M. & Nuraeni, S. 2009. Buku Ajar Perlindungan dan Pengamanan Hutan. Laboratorium Perlindungan dan Serangga Hutan. Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar