Pohon Waru (Hibiscus tiliaceus)

1. Gambaran Umum Pohon Waru (Hibiscus tiliaceus)
Pohon Waru merupakan salah satu pohon yang kayunya tergolong dalam jenis kayu keras yang memiliki sel jari-jari yang lebih besar daripada kayu lunak. Berdasarkan penelitian Heyne (1987), morfologi pohon Waru adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Super Devisi : Spermatophyta
Devisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub Kelas : Dilleniidae
Ordo : Malvales
Famili : Malvaceae
Genus : Hibiscus
Spesies : Hibiscus tiliaceus L.
Pohon Waru merupakan tumbuhan asli yang hidup di daerah tropika pada bagian barat pasifik. Waru berbatang sedang dan dapat hidup pada kondisi tanah yang berbeda-beda. Pada kondisi tanah yang subur, batangnya lurus, akan tetapi cenderung tumbuh membengkok serta percabangan dan daunnya lebih lebar ketika tanahnya kurang subur. Pohon ini pada umumnya memiliki tinggi antara 5-15 m. Daunnya bertangkai berbentuk bundar jantung dengan tepi yang merata, memiliki garis tengah sekitar 19 cm, tulang daun menjari dengan sisi bawah berambut halus. Bunga pohon ini terdapat dalam tandan. Daun kelopak saling berdekatan, daun mahkotanya memiliki bentuk seperti kipas dan buah kotak memiliki bentuk seperti telur dan terbuka dengan 5 katup (Steenis, 1981). Prasetyo (2016) menjelaskan bahwa tanaman waru (Hibiscus tiliaceus) mengandung serat yang banyak di bagian kulit batang kayunya.

Pohon waru tergolong dalam jenis kayu keras dengan spesies Hibiscus tiliaceus. Pohon waru memiliki berbagai macam nama di beberapa daerah jawa seperti waru doyong, waru laut, waru merah. Biasanya pohon waru digunakan sebagai bonsai. Pohon Waru merupakan tumbuhan asli yang hidup di daerah tropika pada bagian barat pasifik. Waru berbatang sedang dan dapat hidup pada kondisi tanah yang berbeda-beda. Pada kondisi tanah yang subur, batangnya lurus, akan tetapi cenderung tumbuh membengkok serta percabangan dan daunnya lebih lebar ketika tanahnya kurang subur.

Suwandi dan Hendrati (2014) mengatakan bahwa Waru biasanya ditemukan di tepi pantai, tepi sungai, dan di tepi jalan sebagai pohon peneduh. Pohon ini memiliki daya tarik tersendiri karena perakaran-nya tidak tertancap dalam sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada jalan dan bangunan dimana ia tumbuh. Pohon ini memiliki serat yang banyak sehingga dapat dijadikan tali.
Pohon Waru dapat diperbanyak dengan menggunakan biji sebagai bibitnya dan juga cara stek. Akan tetapi, persentase biji terkadang tidak memungkinkan untuk menjadi bibit sehingga lebih disarankan menggunakan cara stek atau kultur jaringan untuk melakukan pembibitan (Suwandi dan Hendrati, 2014).
2. Nama-Nama Pohon Waru
Di berbagai daerah, pohon waru dapat ditemukan dengan nama yang sangat beragam. Berikut adalah nama-nama pohon waru di beberapa daerah Indonesia.

Daerah Nama Lokal Nama Latin
Sumatera Baru, Beruk, Bou, Buluh, Kioko, Melanding, Siron, Tobe, dan Waru (Nias) Hibiscus tiliaceus L.
Jawa Baru, Wande, Waru, Waru laut, Waru Lenga, Waru Lengis, Waru Lisah, Waru Lot, dan Waru Rangkang
Nusa Tenggara Baru, Bau, Fau, Kabaru, Waru, dan Wau
Sulawesi Balebirang, Bahu, Baru, Lamogu, Molowagu, Molawahu, dan Waru.
Maluku Balo, Faru, Fanu, Haru, Haaro, Halu, Kalo, Pa, Papatale, Palu, dan War
Papua Iwal, Kasyanaf, dan Wakati

(Sumber : Suwandi & Hendrati R. L., 2014)

Pustaka:
Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid III. Cetakan ke-1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

Steenis, C. G. 1981. Flora untuk Sekolah di Indonesia. PT. Pradnya Paramita. Jakarta

Suwandi & Hendrati R. L. 2014. Perbanyakan Vegetatif dan Penanaman Waru (Hibiscus tiliaceus) untuk Kerajinan dan Obat. IPB Press. Jakarta.